Tahun ajaran baru kali ini, siswa-siswa masih harus belajar dari rumah secara online karena pandemi COVID-19. Walau tidak bertatap muka langsung dengan guru di sekolah, kualitas lulusan yang mengikuti belajar online diyakini tidak kalah dengan mereka yang belajar secara konvensional.
Hal ini diungkapkan pendiri layanan belajar online Kelas Pintar, Fernando Uffie dalam wawancara terbatas dengan media. Ia mengatakan kualitas lulusan yang belajar secara online akan bisa menyamai kualitas lulusan sebelumnya.
"Saat dihadapkan dengan pembelajaran jarak jauh, tingkat kesadaran mereka itu sungguh-sungguh memiliki perbedaan jika dibandingkan dengan tingkat kesadaran belajar dibandingkan sebelum PJJ diimplementasikan," kata Uffie, Rabu (15/7/2020).
Selain karena kesadaran siswa untuk belajar lebih tinggi, Uffie juga berargumen bahwa tatanan pembelajaran tidak berubah meski dilakukan secara online.
Ia mengatakan kurikulum, mata pelajaran yang diajarkan dan cara menguji juga masih sama dengan pembelajaran sebelum pandemi. Bedanya, dalam bentuk pembelajaran jarak jauh tatanan pendidikan ini dihubungkan dengan teknologi berupa internet.
Guru juga tidak bisa melepas murid begitu saja saat belajar online. Uffie mengatakan Kelas Pintar telah menyusun jadwal pembelajaran jarak jauh yang tetap mengedepankan tatap muka dengan guru.
"Masuk pukul tujuh guru biologi sudah mulai kelasnya. Mereka buka dengan apa yang akan dipelajari hari itu, sama seperti di kelas," jelas Uffie.
"Apakah cukup sampai di situ? Akan ada satu sesi lagi. Sebagai penutup pelajaran tersebut sang guru akan ada tatap muka lagi," imbuhnya.
Tapi untuk menghasilkan lulusan belajar online yang berkualitas, tentu bukan hanya tanggung jawab murid dan guru. Uffie mengatakan orang tua juga memiliki tanggung jawab yang penting.
"Dalam jeda memang itu waktu istirahat, saat jadwal ini diberikan oleh sekolah orang tua harus memahami. Instead of distract mereka, harusnya memonitor," kata Uffie.
"Dari jam setengah 7 sampai jam 4 itu waktunya belajar anak, bukan diajak ke mall. Ini penting," pungkasnya.
Inggris Larang Perangkat 5G Huawei, Presiden Trump: Itu karena Saya
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku sangat berperan dalam keputusan pemerintah Inggris soal pemblokiran perangkat 5G buatan Huawei.
Trump mengaku ia adalah sosok yang berperan dalam mendorong keputusan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson untuk memblokir penggunaan jaringan 5G di Inggris, demikian dikutip detikINET dari Reuters, Rabu (15/7/2020).
"Kami berhasil meyakinkan sangat banyak negara, dan hampir semuanya saya lakukan sendiri, untuk tidak menggunakan Huawei, karena kami menganggap ini adalah sebuah risiko keamanan yang sangat besar," ujar Trump menanggapi keputusan pemerintah Inggris memblokir Huawei.
Pernyataan Trump ini ditentang oleh seorang menteri senior di pemerintahan Inggris. Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock menyebut keputusan ini sebenarnya diambil setelah adanya peninjauan secara teknis oleh badan keamanan cyber milik Inggris.
"Kita semua tahu seperti apa Donald Trump. Dari semua orang yang mengklaim kredit terhadap keputusan ini, namun ini didasarkan pada tinjauan teknis oleh National Cyber Security Center mengenai bagaimana kami bisa menggunakan sistem 5G terbaik di masa yang akan datang," ujar Hancock.
Sebelumnya diberitakan, Inggris akhirnya memutuskan untuk memblokir penggunaan perangkat jaringan 5G buatan Huawei. Operator telekomunikasi di Inggris tak akan diizinkan untuk membeli perangkat 5G dari Huawei mulai Januari 2021 mendatang.
https://nonton08.com/star/w-earl-brown/feed/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar