Rabu, 15 Juli 2020

50 Hari Tak Ada Kasus, Kini Thailand Hadapi Risiko Gelombang Kedua Corona

Pemerintah Thailand kini memperketat aturan masuknya orang asing ke negaranya setelah muncul dua kasus virus Corona impor atau imported case. Hal ini meningkatkan kekhawatiran tentang gelombang kedua infeksi COVID-19.
Thailand sempat menyatakan 'merdeka' dari virus Corona setelah 50 hari tanpa kasus baru baik transmisi lokal atau kasus impor. Tetapi baru-baru ini ada dua kasus impor namun menyebabkan sekitar 400 warga harus menjalani karantina mandiri karena adanya risiko penularan.

Mereka yang diisolasi disebut akibat terpapar COVID-19 dari awak pesawat militer Mesir berusia 43 tahun di Provinsi Rayong Timur, dan dari seorang anak perempuan anggota keluarga diplomat berusia 9 tahun di Bangkok. Kedua kasus ini sempat dikecualikan dari karantina wajib 14 hari.

Pemerintah mengakui bahwa peraturan untuk diplomat dan awak pesawat, yang termasuk di antara beberapa kategori orang asing yang diizinkan masuk sejak Maret dengan persyaratan isolasi diri, terlalu longgar.

"Ini harusnya tidak terjadi, saya benar-benar minta maaf karena itu dan saya ingin meminta maaf kepada publik," kata Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha, dikutip dari Reuters.

Kekhawatiran kini menyebar di antara warga Thailand bahwa gelombang kedua Corona akan terjadi dan lockdown bisa kembali diberlakukan.

Saat ini dua sekolah di Bangkok ditutup dan setidaknya 10 sekolah di Provinsi Rayong. Satu pusat perbelanjaan juga ditutup sebab warga Mesir tersebut diketahui sempat menghabiskan waktu di sana sebelum bertolak ke negara lain.

Semua diplomat dan anggota keluarga, yang sebelumnya diizinkan untuk menyendiri di tempat tinggal mereka, sekarang harus dikarantina di bawah pengawasan pemerintah.

Rekor 1 Juta Warga Inggris Setop Merokok Selama Pandemi Corona

Sebuah survei menunjukkan lebih dari satu juta orang berhenti merokok sejak pandemi virus Corona COVID-19 melanda. Survei Action on Smoking and Health (Ash) menyebut 41 persen di antara mereka berhenti merokok berkaitan dengan pandemi Corona.
Secara terpisah, University College London (UCL) menemukan lebih banyak orang berhenti merokok tahun ini, data tersebut dikumpulkan hingga Juni 2020. Tertinggi dibandingkan tahun mana pun sejak survei dimulai pada 2007 silam. Sebelumnya pemerintah Inggris mengatakan perokok mungkin berisiko mengalami gejala virus Corona COVID-19 yang lebih parah.

Dikutip dari BBC, survei yang disebar dari 15 April hingga 20 Juni mewakili 10 ribu orang yang terdaftar di YouGov atas nama Ash. Mereka ditanya soal kebiasaan merokok. Hasilnya untuk memperkirakan jumlah orang yang berhenti merokok di Inggris.

Sebagian besar berhenti merokok terkait dengan pandemi Corona seperti memperhatikan masalah kesehatan, akses membeli rokok yang sulit karena sedang isolasi diri, dan juga berkurangnya kegiatan sosial. Sebuah tim di University College London mensurvei seribu orang dalam 1 bulan di Inggris soal kebiasaan merokok mereka sejak 2007.

Hingga Juni 2020, 7,6 persen perokok yang ikut serta dalam survei menyatakan berhenti merokok, hampir sepertiga lebih tinggi dari rata-rata dan proporsi tertinggi sejak survei dimulai lebih dari satu dekade lalu.

"Lebih dari satu juta perokok mungkin telah berhasil menghentikan kebiasaan merokok sejak COVID-19 menghantam Inggris, tetapi jutaan orang lainnya terus merokok," kata peneliti.
https://nonton08.com/star/silvia-rossi/feed/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar