Senin, 23 Desember 2019

Lihat Tujuh Keajaiban Dunia dalam Tujuh Hari? Bisa!

 Tujuh Keajaiban Dunia Baru tersebar di sejumlah negara. Untuk melihatnya satu per satu jelas butuh waktu. Faktanya, itu bisa dilakukan dalam tujuh hari seperti dalam kisah ini.

Simon Wilson, demikian nama traveler yang menempuh 48.763 kilometer untuk melihat tujuh keajaiban dunia baru dalam waktu tujuh hari saja secara maraton. The Sun merincinya dengan enam hari, sembilan jam, dan tiga menit.

Total, pria berusia 27 tahun yang juga YouTuber ini cuma dua kali tidur selayaknya, itu pun salah satunya di dalam goa. Wilson lebih banyak terlelap di taksi dalam perjalanan menuju lokasi dan bandara ketika menanti waktu penerbangan.

"Lelah sekali," katanya.

Dikisahkan, ia berangkat dari Bandara Manchester, Inggris pada hari Minggu pukul 4.45 dini hari waktu setempat, menumpangi pesawat ke Roma untuk melihat Colosseum. Dua jam dirinya bertahan di sana lalu terbang ke Mesir.

Sesampainya di Mesir, Wilson sempat bertahan lima jam di kamar hotel sebelum kemudian naik taksi untuk melihat Piramida dan Sphinx. Malam itu juga ia bertolak ke Yordania dan tidur di kamar ala goa seharga 41 pound sterling (Rp 718 ribu) sebelum jalan ke Petra.

Di hari keempat, ia dua kali menjalani penerbangan untuk tiba di India. Ditambah dengan empat jam naik taksi, sampailah dirinya di Taj Mahal dalam kondisi suhu 42 derajat Celcius.

Setelah menghabiskan satu jam menikmati keindahan Taj Mahal, ia pun terbang ke Beijing, China untuk menyaksikan Tembok Besar China bermodal 125 pound sterling (Rp 2,1 juta) untuk biaya bolak-balik.

Berikutnya, di hari keenam, ia terbang ke Meksiko untuk melihat situs Chichen-Itza yang merupakan peninggalan suku Maya. Terakhir, ia terbang melintasi Panama menuju Rio de Janeiro untuk melihat Patung Kristus Penebus. Ia tiba di sana hari Sabtu siang pukul 1.48 siang berdasarkan waktu Inggris.

"Ada sedemikian banyak hal yang bisa berjalan keliru tapi kalau saya tidak pernah mencoba maka saya takkan pernah tahu bisa dilakukan atau tidak," kata Wilson di The Sun.

"Rencananya adalah masuk dan keluar bandara, menuju lokasi dan bergegas kembali. Saya benar-benar tak percaya bisa melakukannya," ucapnya.

Mau tahu apa isi kopernya dalam perjalanan tersebut? Dalam tas kecil yang dibawanya cuma ada dua pakaian dalam, sepasang kaus, celana tracksuit, dan peralatan kamera. Ia lebih banyak mengudap makanan di atas pesawat dan penganan kecil lain.

Mengenal Ular-ular 'Raksasa' di Indonesia

Netizen mendadak heboh dengan sosok ular korban kebakaran hutan di Kalimantan. Nah, sudah tahu belum kalau ular-ular "raksasa" macam itu pun tersebar di Indonesia?

Untuk menjawab rasa penasaran detikcom pun menghubungi penggiat reptil, atau reptiler, yang dikenal sebagai Panji Petualang. Ia, pertama-tama, menepis anggapan sosok di foto viral tersebut sebagai "ular raksasa" yang muncul di mitos setempat. Itu adalah ular sanca kembang alias Reticulated python/Python reticulatus.

"Hutan Sumatera dan Kalimantan itu kan sangat luas, jadi memungkinkan sekali untuk ular besar itu memang ada dan hidup di hutan. Tapi untuk yang di foto viral tersebut, saya amati bukanlah ular mitos yang dipercayai penduduk. Namun, itu hanyalah ular piton kecil yang terbakar dan di foto dengan angle zoom, hingga menghasilkan ilusi optik seakan ular itu terlihat besar," katanya.

Panji lantas membeberkan lebih lanjut mengenai spesies ular semacam itu dan juga bagaimana penyebarannya di Nusantara. Memangnya seberapa besar sih ular-ular di Indonesia?

"Sanca kembang adalah ular piton terpanjang di dunia dan Indonesia adalah salah satu habitat terbesar ular ini. Ular sanca bisa berkembang hingga panjang meksimal 11 meter," ucap Panji.

Panji juga mengatakan bahwa ular sanca bisa ditemukan di hutan-hutan yang jauh dari jangkauan manusia. Sebut saja hutan-hutan yang berada di wilayah Kalimantan dan Sumatera.

"Ular besar atau bisa disebut giant python biasanya hidup di hutan yang jauh dari kehidupan manusia. Ular piton ini bisa kamu temukan di Kalimantan, Sumatera, Jawa dan Sulawesi," tambahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar