Beberapa waktu lalu, Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas COVID-19, Dewi Nur Aisyah mencatat sedikitnya ada 10 klaster Corona yang terjadi selama kegiatan Ramadhan dan Lebaran 2021 di Pulau Jawa. Namun, saat ini sudah ada 11 klaster Corona yang terdeteksi.
Klaster tersebut diketahui berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, seperti Banyumas, Banyuwangi, hingga DKI Jakarta. Sejumlah klaster itu terdiri dari klaster tarawih, halal bihalal, hingga imbas dari pelaku perjalanan.
Melihat hal ini, Direktur Jenderal bina administrasi kewilayahan Dr Safrizal ZA, Msi mengatakan perlu adanya intervensi yang bersinergi antara pemerintah pusat dengan pemerintah provinsi.
"Dengan beberapa catatan-catatan klaster baru yang perlu intervensi yang bersinergi, baik dari pemerintah kemudian pemerintah provinsi terhadap kabupaten dan kota dimana terbentuk klaster-klaster akibat dari pasca ramadan, kemudian pasca lebaran serta liburan," katanya dalam koordinasi Satgas COVID-19, Senin (7/6/2021).
Berikut rincian 11 klaster Corona di Pulau Jawa selama kegiatan Ramadhan dan Lebaran 2021, yang telah tercatat oleh Satgas COVID-19.
1. Kasus berkaitan dengan Pemudik dari Jakarta
Total kasus: Seorang kakek di Klaten, 1 keluarga di Cianjur, rombongan pemudik di Cilacap, dan balita terinfeksi di Garut.
2. Klaster halal bi halal Jakarta Timur
- Lokasi: di 16 rumah di RT 03/RW 03, Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.
- Total kasus: 51 orang.
3. Klaster halal bi halal Jakarta Timur
- Lokasi: RT 06/RW 03, Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.
- Total kasus: 30 orang.
4. Klaster tarawih di Banyumas
- Lokasi: Desa Tanggeran, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Jawa Timur.
- Total kasus: 7 orang
5. Klaster tarawih di Banyumas
- Lokasi: Karangcegak, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Timur.
- Total kasus: 33 orang.
6. Klaster tarawih di Pati
- Lokasi: Perumahan RSS Sidokerto, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
- Total kasus: Dari 220 orang yang diswab, sebanyak 56 orang positif.
7. Klaster pemudik di Pati
Total kasus: 39 orang.
8. Klaster tarawih di Malang
- Lokasi: Perumahan Bukit Hijau dan Permata Hijau, Kelurahan Tlogomas, Kota Malang, Jawa Timur.
- Total kasus: 21 orang.
9. Klaster tarawih di Banyuwangi
- Lokasi: Dusun Yudomulyo, Desa Ringintelu, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi, Jawa Timur.
- Total kasus: 62 orang positif COVID-19, 6 orang meninggal dunia, dan 7 orang dirawat di RS.
10. Klaster tarawih di Banyumas
- Lokasi: Desa Pekaja, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
- Total kasus: 45 orang.
11. Klaster pelaku perjalanan di Griya Melati, Bogor
- Lokasi: Perumahan Griya Melati, Bubulak, Kota Bogor.
- Total kasus: 25 orang.
https://trimay98.com/movies/the-grey/
Nggak Kapok! Lagi-lagi Pesta Seks Berujung Penularan COVID-19
Sebanyak 2 dari 62 orang yang ditangkap dalam pesta seks dan narkoba di Bangkok positif COVID-19. Menurut laporan, pesta yang diselenggarakan di Sauna Faros tersebut adalah pesta 'Chemsex' yang melibatkan obat-obatan untuk meningkatkan hasrat seks.
Seluruh petugas yang menggerebek lokasi tersebut saat itu sebanyak 30 orang diwajibkan menjalani tes COVID-19. Selain itu, kantor polisi di distrik Wang Thong Lang juga didisinfeksi sebagai tindakan pencegahan ekstra terhadap virus Corona.
Saat penggerebekan, para petugas menemukan metamfetamin dan alat kontrasepsi yaitu kondom. Dikutip dari The Thaiger.com, para pengunjung pesta dan staf juga dituntut karena melanggar protokol kesehatan.
Di Thailand, Bangkok menjadi pusat infeksi dengan ratusan kasus baru COVID-19 yang dilaporkan setiap harinya. Sebagian besar infeksi baru-baru ini berpusat di daerah ramai, seperti lingkungan kumuh, penjara, pasar, dan kamp konstruksi.
Belum lama ini, puluhan tamu VVIP di klub malam Krystal, Thailand, juga dinyatakan positif COVID-19. Di dalamnya termasuk duta besar dan seorang menteri pemerintah. Para petugas polisi dan wanita yang bekerja di klub tersebut juga ikut terinfeksi.
Pejabat Kesehatan Thailand menyoroti pelanggaran protokol kesehatan (prokes) yang dilakukan oleh orang tajir di sana, menganggap bahwa mereka bisa 'lolos' dari ancaman infeksi.
"Orang kaya berpesta tapi orang miskin yang menanggung akibatnya," kata Sittichat Angkhasittisiri, ketua lingkungan di daerah kumuh terbesar di Bangkok, Khlong Toey, yang dikutip dari Straits Times.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar