Senin, 14 September 2020

Kisah Food Heroes dari Surabaya, Selamatkan Makanan Berlebih Jadi Layak Makan

"Begitu kita memberikan ke penerima manfaat di kampung-kampung itu mereka tinggal bawa piring. Jadi pindahin dari wadah kita ke wadah mereka," katanya. Cara ini efektif untuk mengurangi sampah kemasan makanan.

Menyalurkan makanan ke warga kurang mampu, Eva mengaku pernah mendapatkan komentar kurang sedap. Hal itu terjadi saat tim Garda Pangan memberikan makanan dengan memakai sarung tangan.

"Kita kan SOP-nya dari dulu sudah memakai sarung tangan. Karena food safety dan hygiene tetap penting banget. Tapi ada yang bilang 'Itu pakai sarung tangan karena jijik ya datang ke kampung'. Mungkin karena ketidaktahuan," ucapnya seraya tertawa.

Edukasi Mengenai Sampah Makanan
Eva mengatakan masalah sampah makanan ini bukan hanya dihasilkan industri besar seperti hotel dan restoran. Individu atau rumah tangga pun berkontribusi menghasilkan sampah makanan. Oleh karena itu, dia dan tim Garda Pangan gencar melakukan edukasi melalui media sosial.

"Kita sering sharing tips yang practical untuk sehari-hari. Dulu kita sering campaign kreatif di CFD. Terus kita juga kasih workshop dan seminar food waste di sekolah dan kantor," ujarnya.

Kesadaran untuk menghargai makanan dan mengurangi sampah makanan ini, menurut Eva, sebaiknya dipupuk sejak dini. "Oleh sebab itu, kami menganggap edukasi terhadap isu sampah makanan untuk anak-anak sangat penting, untuk menciptakan generasi yang sadar dan peduli terhadap permasalahan ini," katanya.

Eva berharap setiap orang di Indonesia bisa menyadari pentingnya mengurangi sampah makanan ini. Menurutnya cobalah untuk tidak melihat makanan dengan take for granted.

"Sebenarnya kalau kita pikir, untuk menghasilkan satu butir nasi itu kan butuh tiga bulan petani kerja keras. Ada banyak effort orang di dalamnya. Mulai dari petani, peternak, supir angkutannya yang membawa ke pasar, penjual, pegawai dan koki. Ada banyak kontribusi kerja orang di sana. Jadi sayang banget kalau makanan yang tidak habis itu terbuang,"ujarnya.

Belum lagi kata Eva ada 19,4 juta orang di Indonesia yang masih kelaparan. "Itu saja yang harus kita ingat. Supaya kita nggak menghasilkan food waste," pungkasnya.

"Kita pickup makanan berlebih mereka yang tidak terjual hari itu. Yang biasanya, meskipun pratiknya beda-beda, makanan berlebih tersebut dibuang karena menjaga standar kualitas. Padahal kita melihatnya makanan itu masih layak makan banget. Dan sayang banget kalau harus dibuang. Sementara masih banyak banget orang yang membutuhkan," ucapnya saat diwawancara Wolipop, Kamis (10/9/2020).

Selain dari industri hospitality, Garda Pangan juga berinisiatif menjemput makanan berlebih yang dihasilkan dari event, acara, pesta, atau selebrasi. Mereka pun bekerjasama dengan berbagai BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan wedding organizer untuk menjemput makanan berlebih atau sisa dari acara-acara kampus seperti seminar dan acara pernikahan.

Penyelamatan makanan juga dilakukan Eva dan tim food rescue untuk sayur-sayuran dan buah-buahan yang dijual di toko atau supermarket. Biasanya tempat-tempat tersebut memiliki standar tertentu untuk penampilan buah dan sayur. Sehingga ketika petani memanen buah atau sayur namun tampilannya tidak cantik, oleh toko atau supermarket tersebut akan ditolak karena dianggap 'ugly produce'.

"Jadi buah-buahan atau sayuran yang mempunyai penampilan yang tidak menarik, yang berpotensi terbuang, biasanya cuman berkerut, terlalu kematangan, itu kita kumpulin dan sifatnya bisnis. Kita jual lagi dengan harga miring. Profitnya balik lagi untuk mendanai operasional kita sehari-hari. Untuk antar makanan. Kita ini sosio enterprise," tuturnya.

Distribusi Makanan
Makanan sisa yang setiap harinya diselamatkan oleh Eva dan tim Garda Pangan ini didistribusikan kepada masyarakat pra-sejahtera di Surabaya. Dalam hal pendistribusian ini kata Eva, mereka melakukannya dengan tidak sembarangan.

"Kita hati-hati banget. Kita nggak bisa sembarangan kasih, kalau nggak tahu latar belakang penerimanya ini. Makanya semua penerima terdata di data base, sudah kita survei mendalam. Memastikan kalau mereka benar-benar prasejahtera dan membutuhkan. Supaya bantuan makanan yang kita berikan tepat sasaran," paparnya.

Pada awal berdiri Garda Pangan masih memakai kendaraan pribadi dan transportasi online. Hingga kini Garda Pangan sudah memakai mobil box yang sudah dilengkapi dengan pendingin. Hal itu bertujuan agar makanan yang didistribusikan tetap dalam keadaan higienis dan tahan lama.

Saat memberikan makanan hasil food rescue kepada masyarakat pra sejahtera, Eva dan tim Garda Pangan juga berusaha meminimalisir sampah. Mereka meminta masyarakat tersebut membawa wadah atau kontainer pribadi untuk menerima makanan.
https://indomovie28.net/gone-2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar