Sabtu, 12 September 2020

Terpopuler Sepekan: RI yang 'Di-lockdown' Negara Lain karena COVID-19

Topik penolakan warga negara Indonesia di luar negeri sempat ramai dibahas. Malaysia diketahui menutup pintu bagi warga Indonesia mulai 7 September 2020, sementara Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mengeluarkan peringatan level 3 bagi warganya yang ingin terbang ke Indonesia.
"Bila Anda sampai jatuh sakit di Indonesia, sumber daya yang ada mungkin terbatas. Buat rencana dengan matang dan pelajari bagaimana cara mendapat layanan kesehatan di luar negeri," tulis CDC dalam situs resminya.

dr Masdalina Pane dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) menjelaskan alasan mengapa banyak negara yang melarang warga negaranya mengunjungi Indonesia atau dikunjungi warga Indonesia, salah satunya karena perkembangan wabah Corona di Indonesia. Sejauh ini grafik kasus di Indonesia sama sekali belum menunjukkan penurunan.

"Kalau dilihat di grafik, hanya Indonesia dan India yg belum menunjukkan penurunan jumlah kasus, bahkan angka kematian Indonesia melebihi angka kematian global. Ini cukup mengerikan bagi negara lain," kata dr Pane beberapa waktu lalu.

"Dan upaya pengendalian yang dilakukan sama sekali tidak memenuhi kaidah-kaidah standar dalam epidemiologi," lanjutnya.

Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito menjelaskan upaya pembatasan ini wajar dilakukan negara-negara untuk menekan pandemi virus Corona COVID-19. Indonesia juga menerapkan hal serupa dengan menolak masuk warga negara asing selama wabah COVID-19.

"Kami mohon pengertian pada seluruh warga Indonesia agar dapat menjaga daerahnya masing-masing. Mobilitasnya dibatasi hanya melakukan perjalanan yang esensial saja dan betul-betul melaksanakan protokol kesehatan," kata Wiku.

Terpopuler Sepekan: Relawan Vaksin Terinfeksi Corona Sepulang dari Semarang

Relawan uji klinis vaksin Corona COVID-19 dilaporkan terinfeksi COVID-19 saat akan mendapatkan suntik vaksin Corona yang kedua. Relawan yang tidak disebutkan identitasnya itu diketahui positif terinfeksi setelah melaksanakan swab test.
Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 dari Unpad, Prof Kusnandi Rusmil, memastikan infeksi virus Corona tersebut bukan dari vaksin yang disuntikkan kepada relawan. Tetapi, ini diduga kuat dari kontak yang dilakukan setelah relawan tersebut melakukan perjalanan ke Semarang, Jawa Tengah.

"Jadi dia sudah disuntik, suntik pertama kali. Lalu pergi ke Semarang, pas pulang dicek lagi swabnya positif," beber Kusnandi saat ditemui di Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Kota Bandung, Rabu (9/9/2020).

"Positif bukan dari vaksin, kalau dari vaksin kan itu virus yang mati. Dia kontak (pergi) ke Semarang," tambah Kusnandi.

Meski demikian, relawan tersebut tidak dikeluarkan (drop out) dari uji klinis yang dilakukan. Akan tetapi, pihaknya akan memberikan jadwal penyuntikan ulang setelah kondisi fisik dari relawan tersebut sehat kembali.

"Kalau di penelitian memang kalau yang positif di awal (sebelum penyuntikkan) nggak boleh ikut, tapi kalau dia positif karena pergi dari mana-mana itu akan kita suntik ulang, tapi dengan pemantauan," paparnya.

Kusnandi menambahkan, sejauh ini sudah sekitar 450 orang yang telah mendapatkan suntik vaksin Corona pabrikan Sinovac, Tiongkok. 200 relawan ini mendapatkan suntikkan yang kedua, dan 250 relawan lainnya baru menjalani penyuntikkan yang pertama.

"Sampai sekarang belum ada yang masuk ke rumah sakit karena sakit, semuanya biasa saja. Keluhannya demam sedikit, nyeri yang dalam dua hari hilang. Seperti suntik biasa-biasa saja di puskesmas saja kalau mau imunisasi, demam minum parasetamol, nyeri nanti hilang dalam dua hari. Kita ikuti setelah suntik selama 30 menit pertama kita lihat, ada alergi atau tidak, ada memar atau tidak, terus dihubungi lagi dua hari berturut-turut dengan telepon," pungkasnya.

Ditargetkan uji klinis ini bisa rampung pada awal tahun depan, dan produksi vaksin Corona ini akan dilakukan oleh Biofarma.
https://cinemamovie28.com/broken-vows/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar