Sabtu, 12 September 2020

Terpopuler Sepekan: Relawan Vaksin Terinfeksi Corona Sepulang dari Semarang

Relawan uji klinis vaksin Corona COVID-19 dilaporkan terinfeksi COVID-19 saat akan mendapatkan suntik vaksin Corona yang kedua. Relawan yang tidak disebutkan identitasnya itu diketahui positif terinfeksi setelah melaksanakan swab test.
Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 dari Unpad, Prof Kusnandi Rusmil, memastikan infeksi virus Corona tersebut bukan dari vaksin yang disuntikkan kepada relawan. Tetapi, ini diduga kuat dari kontak yang dilakukan setelah relawan tersebut melakukan perjalanan ke Semarang, Jawa Tengah.

"Jadi dia sudah disuntik, suntik pertama kali. Lalu pergi ke Semarang, pas pulang dicek lagi swabnya positif," beber Kusnandi saat ditemui di Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Kota Bandung, Rabu (9/9/2020).

"Positif bukan dari vaksin, kalau dari vaksin kan itu virus yang mati. Dia kontak (pergi) ke Semarang," tambah Kusnandi.

Meski demikian, relawan tersebut tidak dikeluarkan (drop out) dari uji klinis yang dilakukan. Akan tetapi, pihaknya akan memberikan jadwal penyuntikan ulang setelah kondisi fisik dari relawan tersebut sehat kembali.

"Kalau di penelitian memang kalau yang positif di awal (sebelum penyuntikkan) nggak boleh ikut, tapi kalau dia positif karena pergi dari mana-mana itu akan kita suntik ulang, tapi dengan pemantauan," paparnya.

Kusnandi menambahkan, sejauh ini sudah sekitar 450 orang yang telah mendapatkan suntik vaksin Corona pabrikan Sinovac, Tiongkok. 200 relawan ini mendapatkan suntikkan yang kedua, dan 250 relawan lainnya baru menjalani penyuntikkan yang pertama.

"Sampai sekarang belum ada yang masuk ke rumah sakit karena sakit, semuanya biasa saja. Keluhannya demam sedikit, nyeri yang dalam dua hari hilang. Seperti suntik biasa-biasa saja di puskesmas saja kalau mau imunisasi, demam minum parasetamol, nyeri nanti hilang dalam dua hari. Kita ikuti setelah suntik selama 30 menit pertama kita lihat, ada alergi atau tidak, ada memar atau tidak, terus dihubungi lagi dua hari berturut-turut dengan telepon," pungkasnya.

Ditargetkan uji klinis ini bisa rampung pada awal tahun depan, dan produksi vaksin Corona ini akan dilakukan oleh Biofarma.

Keluh Kesah Dokter Hingga Pengubur Jenazah yang Kewalahan Hadapi COVID-19

Wabah virus Corona di Indonesia masih belum bisa dikendalikan. Hingga hari Jumat (11/9/2020), terdapat 3.737 kasus baru membuat total yang sudah terkonfirmasi sebanyak 210.940 kasus. Namun, tampaknya masih ada saja yang tidak percaya terhadap ancaman virus ini.
Di lapangan, mereka yang berjuang langsung menghadapi pandemi ini mulai mengeluh kewalahan dengan kasus yang semakin membeludak.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) membeberkan data jumlah dokter spesialis paru-paru di tiap daerah Indonesia tidak cukup untuk menghadapi kasus yang ada.

Di DKI Jakarta contohnya, 187 dokter paru harus menangani 47.397 kasus per 7 September lalu. Sementara pada waktu yang sama 90 dokter paru di Jawa Tengah kebagian menangani 15.615 kasus.

"Kita PDPI ini sungguh diminta perannya dan memang harus kita akui bahwa kita memang sudah kelelahan, sebaran dokter paru tidak merata, karena dokter paru ini jumlahnya sedikit, tidak cukup untuk mengatasi kasus COVID-19 yang angkanya terus meningkat," kata Ketua Pokja Infeksi PDPI, dr Erlina Burhan, beberapa waktu lalu.

Selain tenaga medis, para penggali kubur jenazah pasien Corona juga mengaku merasakan hal yang sama. Seorang penggali kubur di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Ranggon, Jakarta Timur, menyebut rata-rata menguburkan 24 jenazah per hari dengan rekor terbanyak pernah sampai mengubur 38 jenazah.

"Kalau boleh jujur mah, saya sudah capek, Mas. Mau minta pindah saja nggak dipindahin, karena yang lain belum tentu mau, apalagi posisinya di protap COVID-19," ungkap seorang penggali yang tak ingin disebutkan namanya pada detikcom.

Kisah bagaimana penggali kubur menghadapi jenazah COVID-19 selengkapnya bisa dibaca di sini: Jerit Pengubur Jenazah Corona
https://cinemamovie28.com/darkest-day/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar