Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terhitung mulai pada tanggal 14 September 2020. Hal ini dilakukan karena tingkat penularan virus Corona yang tidak terkendali membuat fasilitas kesehatan terancam kelelahan atau kolaps.
Data per 6 September 2020 menunjukkan tempat tidur di ICU 67 rumah sakit (RS) rujukan virus Corona COVID-19 sudah 83 persen terisi penuh. Sementara itu tempat tidur ruang isolasi sudah 77 persen terisi penuh.
Tentunya selain transportasi umum yang kembali dibatasi jumlah penumpangnya, ada beberapa aktivitas yang awalnya diperbolehkan di masa PSBB transisi, kini kembali diperketat. Berikut beberapa aktivitas yang dibatasi di masa PSBB.
1. Tempat ibadah
Dalam penjelasan Anies terkait poin penting perencanaan pelaksanaan PSBB, ditegaskan jika seluruh tempat ibadah akan ditutup dengan penyesuaian. Anies menyebut pada wilayah zona merah tempat ibadah tidak boleh dibuka. Namun, rumah ibadah yang berada di dalam kompleks tetap boleh beroperasi dengan memperhatikan protokol kesehatan.
2. Tempat hiburan
Selain tempat ibadah, Anies menegaskan seluruh tempat hiburan di Jakarta harus kembali ditutup. Hanya ada beberapa bidang usaha yang nantinya bisa tetap berjalan.
3. Usaha makanan
Seluruh usaha makanan atau restoran tidak boleh lagi untuk memperbolehkan para pengunjung untuk makan di tempat. Seluruh usaha makanan hanya diperbolehkan untuk mengantar makanan atau pengunjung langsung membawa pulang makanannya.
4. Kegiatan publik
Seluruh kegiatan publik dan kegiatan kemasyarakatan harus ditunda. Tidak boleh ada kerumunan sama sekali di lingkungan publik.
5. Transportasi publik
Transportasi publik kembali dibatasi jam operasionalnya dan dilakukan dengan protokol yang ketat. Ganjil genap untuk sementara ditiadakan.
Beban Mental Pasien COVID-19: Merasa Bersalah Tularkan Orang Lain
Orang-orang yang berhasil sembuh dari infeksi virus Corona COVID-19 bisa mengalami berbagai efek sisa. Mulai dari fisik yang tak kunjung pulih karena sindrom "long COVID" hingga beban mental akibat rasa bersalah mengetahui menularkan penyakitnya ke orang terdekat.
Pekerja sosial di Mount Sinai National Jewish Health Respiratory Institute, Rachel Potter, bercerita banyak pasien yang mengalami masalah kesehatan mental. Sebagian merasa cemas, ada juga yang merasa takut.
"Umumnya saat kita jatuh sakit, kita hanya perlu fokus menyembuhkan diri. Tapi karena COVID-19 ini mudah menular, kita tidak hanya harus menjaga diri sendiri. Ada tanggung jawab tambahan karena risiko menularkan penyakit ke orang-orang yang kita sayangi, kata Rachel seperti dikutip dari Fox News, Sabtu (12/9/2020).
Barry Douglas (55), dari Maryland, Amerika Serikat (AS), adalah salah satu contoh mantan pasien Corona yang mengalami hal tersebut. Barry didiagnosis terinfeksi COVID-19 tiga pekan lalu saat merasa sakit usai kembali dari liburan di pantai.
Barry mengaku saat menerima diagnosis langsung menelepon seluruh keluarga di rumah.
"Saya merasa tidak enak. Rasanya sungguh tidak enak, tapi rasa cemas mengetahui bahwa saya bisa jadi penyebab virus ini menyebar di keluarga jauh lebih buruh," ungkap Barry.
"Saya mungkin tidak akan bisa memaafkan diri saya sendiri," lanjutnya.
Barry menjalani masa isolasi di rumah sendirian sambil diawasi oleh dokter secara virtual. Sementara istri dan anaknya diminta tinggal di rumah kerabat.
Pada akhirnya Barry berhasil sembuh dan berkat dukungan keluarga bisa melewati kecemasan dan rasa bersalah yang dirasakan.
"Pengalaman seperti ini umum terjadi pada pasien," komentar Rachel.
https://cinemamovie28.com/trick-the-movie-last-stage/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar