Keputusan pemerintah Indonesia membuka kembali sekolah di zona kuning mendapat sorotan berbagai pihak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan ini berisiko memperparah penularan COVID-19 karena anak tetap bisa terinfeksi dan menyebarkan virus Corona.
"Keputusan membolehkan anak di zona kuning kembali sekolah berisiko memperparah penularan lokal, membebani fasilitas dan sumber daya tenaga medis, serta dalam jangka panjang malah memperlambat pemulihan ekonomi," tulis laporan WHO terkait kondisi wabah COVID-19 di Indonesia per tanggal 12 Agustus 2020.
"Data menunjukkan bahwa anak-anak usia lima sampai 14 tahun berkontribusi sebanyak 6,8 persen dari total konfirmasi kasus COVID-19 di Indonesia. Jauh di atas rata-rata dunia yang angkanya 2,5 persen berdasarkan pantauan WHO. Angka ini bisa meningkat bila sesi belajar tatap muka dilanjutkan," lanjut laporan.
Terkait hal tersebut, tidak ada salahnya orang tua mengetahui gejala infeksi Corona yang bisa muncul pada anak. Tujuannya untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya penularan di antara anak-anak.
Wakil Ketua Komite Penyakit Infeksi, Asosiasi Dokter Anak Amerika Serikat, dr Sean O'Leary mengatakan secara umum gejala infeksi COVID-19 pada anak dan orang dewasa sama.
"Bila Anda melihat daftar gejala potensial mulai dari, hidung tersumbat, batuk, demam, hingga kehilangan fungsi indra penciuman, ini semua bisa terjadi pada anak-anak dan orang dewasa," kata dr Sean seperti dikutip dari CNN, Minggu (16/8/2020).
Hanya saja pada anak-anak kadang juga dilaporkan muncul gejala seperti timbulnya ruam merah di kulit yang menyebar cepat. Orang tua juga disarankan mewaspadai bila anak mengeluh sulit bernapas, tampak lemas, dan sulit bangun dari tidur.
Perhatikan apakah gejala yang dialami anak tampak memburuk lebih cepat dari penyakit seperti flu atau pilek biasa.
"Segera hubungi dokter bila kamu tidak bisa menjaga anak terbangun, atau anak-anak terus tidur dan kelelahan sepanjang waktu. Bila mereka kehilangan nafsu minum, makan, atau melakukan aktivitas sehari-hari," ungkap dokter anak, Daniel Cohen, yang sehari-hari praktik di New York.
Sering Ngantuk di Siang Hari? Bisa Jadi Kamu Mengidap Hipersomnia
- Hipersomnia adalah gangguan tidur yang membuat pengidapnya merasa ngantuk berlebih di siang hari. Hal ini dapat terjadi bahkan bila orang tersebut sebetulnya sudah mendapat waktu tidur yang cukup lama di malam harinya..
Terdapat dua macam hipersomnia, yaitu primer dan sekunder. Hipersomnia primer disebabkan oleh masalah pada sistem otak yang mengontrol fungsi tidur dan bangun. Sedangkan hipersomnia sekunder menyebabkan seseorang sering merasa lelah, sehingga mempengaruhi penurunan konsentrasi dan tingkat energi.
Namun, tidak semua peristiwa ngantuk di siang hari bisa kamu sebut hipersomnia. Pada umumnya, orang yang mengalami hipersomnia adalah mereka yang memiliki sleep apnea, penyakit jantung, penyakit ginjal, depresi, dan fungsi tiroid yang rendah.
Studi dari The American Sleep Association menyatakan bahwa kondisi hipersomnia lebih sering terjadi pada pria daripada wanita. Orang yang sering merokok dan minum alkohol juga berisiko mengalami hipersomnia.
Dikutip dari healthline, gajala hipersomnia meliputi, energi yang rendah, perasaan mudah marah, gelisah, berpikir dan berbicara lebih lambat, kehilangan selera makan, dan memori otak yang sulit mengingat.
Hipersomnia bisa diatasi dengan cara berobat ke dokter. Hal ini dikarenakan setiap pasien hipersomnia memiliki penyebab yang beragam, sehingga perlu penanganan yang berbeda-beda.
Biasanya, dokter merekomendasikan jadwal tidur yang teratur, menganjurkan untuk menghindari kebiasaan buruk, seperti merokok dan minum-minuman beralkohol. Dokter juga menganjurkan diet tinggi nutrisi untuk meningkatkan energi dan memberikan resep obat khusus hipersomnia, seperti amfetamin, methylphenidate, dan modafinil.
https://indomovie28.net/my-bosss-wife-2/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar