Pasangan pria-wanita ditemukan meninggal di Baturraden, Jawa Tengah. Polisi meyakini, keduanya mengalami serangan jantung seusai berhubungan badan.
"Kondisinya memang sudah selesai mandi, dari posisinya laki-lakinya pakai sarung dan baju koko, tapi tidak menggunakan pakaian dalam. Perempuan pakai daster tipis tapi tidak menggunakan dalaman," Papar Kasat Reskrim Polresta Banyumas, AKP Berry kepada detikcom, Rabu (12/2/2020).
Berhubungan seks sebenarnya merupakan kegiatan yang normal dalam kehidupan manusia. Tetapi bagi para pengidap penyakit jantung, berhubungan seks bisa menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. Mengapa?
Menurut penelitian, berhubungan seks dapat meningkatkan kemungkinan terkena serangan jantung. Para ilmuwan mengungkapkan bahwa pengidap penyakit jantung memiliki risiko lebih tinggi terkena serangan jantung satu jam setelah berhubungan seks dibandingkan dengan mereka yang tidak berhubungan seks. Bagi mereka yang jarang berolahraga risikonya meningkat empat kali lipat.
Para ilmuwan di Karolinska Institute, di Stockholm, Swedia melakukan studi dengan mewawancarai 650 orang yang dirawat di rumah sakit dengan penyakit serangan jantung. Hampir setengahnya adalah laki-laki yang berusia 45 sampai 60 tahun. Beberapa di antara mereka adalah orang yang berhubungan seks sekitar dua jam sebelum terkena serangan jantung.
Menurut penelitian sebelumnya, sekitar satu dari 100 orang yang terkena serangan jantung disebabkan oleh aktivitas seksual, yaitu ketika detak jantung meningkat hingga 120 kali per menit dan tekanan darah naik.
Namun, Anda tidak perlu takut untuk berhubungan seks dengan pasangan karena para ilmuwan menyimpulkan bahwa berhubungan seks sekali dalam seminggu tidak memiliki risiko terkena serangan jantung. Walaupun berhubungan seks dapat meningkatkan risiko serangan jantung tapi kemungkinannya sangat kecil.
Dan untuk mengurangi risiko serangan jantung saat berhubungan seks, Anda bisa melakukan olahraga secara rutin dan menjaga pola makan.
KPAI Tuding Vape Bikin Jumlah Perokok Usia Anak Meningkat
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018 menunjukkan bahwa sekitar 7,8 juta anak Indonesia, dari usia 10-18 tahun merupakan perokok aktif.
Tentu hal tersebut sangat mengkhawatirkan, terlebih saat ini rokok elektrik atau kerap disebut vape sudah mulai digandrungi oleh anak-anak. Lantas apakah jumlah perokok anak di Indonesia akan terus meningkat?
"Bukan bisa lagi, tapi sangat bisa apalagi dengan kampanye bahwa vape itu lebih aman dibandingkan dengan rokok konvensional, itu betul-betul penyesatan dan pembodohan yang harus kita hilangkan," kata Dr Sitti Hikmawatty, dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pada Rabu (12/2/2020).
Sitti pun dengan tegas mengatakan bahwa apa pun yang mengandung zat adiktif sebaiknya dihindari.
"Apa pun itu yang zat adiktif ya tinggalin, itu kan zat adiktif. Makanya kami tidak bisa memahami, kenapa zat racun kok diiklankan?," tegas Sitti.
Di kesempatan yang sama, Lisda Sundari, ketua Yayasan Lentera Anak, juga mengatakan bahwa anggapan vape lebih baik daripada rokok konvensional lah yang membuat anak-anak penasaran untuk mencoba produk tersebut.
"Sehingga anak-anak merasa lebih aman saja melakukannya, padahal tidak," ucap Lisda.
https://cinemamovie28.com/two-lovers-and-a-bear-2/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar