Rabu, 09 September 2020

Menristek Perkirakan RI Butuh Minimal 540 Juta Dosis Vaksin Corona

 Menteri Riset dan Teknologi, Prof Bambang Brodjonegoro mengatakan bahwa vaksin merah putih prosesnya saat ini sudah mencapai 50 persen. Jika vaksin sudah rampung dan sudah aman digunakan, pemberian vaksin akan lebih dari satu dosis.
"Dari penelitian tahap awal ada kemungkinan pemberian vaksin ini lebih dari sekali untuk setiap individu. Jadi kalau penduduk kita sekitar 270 juta misalkan, vaksinasi yang harus diberikan minimal 540 juta. Ini membutuhkan kapasitas produksi yang besar," jelas Prof Bambang dalam siaran pers Sekretariat Presiden, Rabu (9/9/2020).

Pengembangan vaksin sendiri menggunakan isolat virus yang ada di Indonesia, sehingga vaksin buatan RI ini diharapkan bisa menjaga daya tahan tubuh masyarakat Indonesia.

"Bibit vaksin yang dikembangkan dengan vaksin merah putih, itu menggunakan isolat virus yang beredar di indonesia, sehingga kita berharap vaksin merah putih itu akan cocok untuk menjaga daya tahan tubuh warga Indonesia terhadap COVID-19," tambah Prof Bambang.

"Yang paling penting mengikuti segala prosedur karena vaksin itu tentunya harus aman, tidak ada efek samping yang membahayakan, dan satu lagi vaksin itu diharapkan akan manjur atau berkhasiat untuk memperkuat daya tahan tubuh kita menghadapi virus COVID-19 yang kita tidak tahu berapa lama ada di dunia," paparnya.

Selain itu, prof Bambang mengatakan alasan vaksin dibuat bertujuan untuk memperkuat daya tahan tubuh manusia dalam menghadapi virus Corona COVID-19.

Target Vaksin Corona Merah Putih Siap Produksi Massal April 2021

Semakin hari, vaksin Corona Merah Putih melaporkan beberapa perkembangan yang baik. Hingga saat ini proses vaksin Corona disebut Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro sudah mencapai 50 persen.
"Bahwa lembaga Eijkman sudah memulai upaya pengembangan vaksin dengan platform protein rekombinan dan saat ini prosesnya sudah mencapai 50 persen," beber Menristek dalam siaran pers di Sekretariat Presiden melalui kanal YouTube Rabu (9/9/2020).

"Targetnya akhir tahun ini uji pada hewan sudah bisa diselesaikan. Sehingga awal tahun depan sudah bisa menyerahkan bibit vaksin tersebut kepada PT Bio Farma, untuk kemudian dilakukan formulasi produksi dalam rangka uji klinis," lanjutnya.

Setelah uji klinis 1,2 dan 3 selesai, maka selanjutnya akan diserahkan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Hal ini untuk mengetahui apakah vaksin sudah aman digunakan.

Setelah melalui persetujuan BPOM, barulah vaksin Merah Putih akan diproduksi dalam jumlah besar. Dilengkapi dengan vaksin yang didatangkan dari kerja sama pihak luar negeri.

"Perkiraannya di bulan ke-empat 2021 kita bisa memproduksi dalam jumlah besar dan nantinya akan melengkapi vaksin COVID-19 yang awalnya akan didatangkan dari kerjasama dengan pihak luar terutama Sinovac China, G42 yang berasal dari Uni Emirat Arab (UEA).

Menggunakan isolat virus SARS-CoV-2 Indonesia
Menristek menjelaskan bibit vaksin Corona Merah Putih ini menggunakan isolat virus SARS-CoV-2 di Indonesia. Hal ini untuk memastikan vaksin yang dipakai cocok untuk warga negara Indonesia.

"Bahwa bibit vaksin menggunakan isolat virus yang digunakan di Indonesia sehingga berharap akan cocok menjaga daya tahan tubuh warga negara Indonesia terhadap virus COVID-19 sendiri," pungkasnya.
https://cinemamovie28.com/scare-campaign/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar