Senin, 14 September 2020

Bahaya Percaya Hoax Pakai Masker Terbalik, Ini Penjelasan Dokter

Di tengah maraknya wabah virus corona (2019-nCoV), beredar informasi tentang 'cara yang benar' untuk memakai masker. Banyak yang bilang memakai masker terbalik itu bisa menangkal debu, kuman, atau virus lebih baik.
Menanggapi hal ini, dokter spesialis paru dari RS Awal Bros Tangerang, dr Fitri Rahayu Sari, SpP, mengatakan informasi pakai masker dibalik salah. Menurutnya, setiap barang dibuat pasti ada alasannya.

"Saya juga ngga tau itu asalnya dari mana. Sebenarnya itu salah. Dia (masker) dibuat pasti ada alasannya," katanya pada detikcom, Jumat (31/1/2020).

"Jadi bagian yang berwarna itu ada di bagian depan. Teksturnya lebih kasar dan digunakan untuk menghindari cipratan air liur saat orang batuk atau bersin, karena bersifat waterproof," jelasnya.

Lipatan di bagian luar juga mengarah ke bawah. Menurut dr Fitri, agar kuman dan kotoran itu langsung jatuh bukan mengendap di masker.

Pada bagian dalam, teksturnya lebih lembut agar tidak membuat wajah iritasi. Berbeda dengan yang bagian luar, bagian dalam ini bersifat absorber atau menyerap.

"Selain itu, lipatan di bagian dalam itu mengarah ke atas. Jika kita pakai terbalik, malah akan mengumpulkan kuman dan kotoran itu bahaya banget untuk tubuh kita," ujar dr Fitri.

Jika masker dipakai terbalik bukannya menghindari kuman dan kotoran, tapi malah menyerapnya masuk ke tubuh. Terlebih jika ada orang batuk atau bersin, malah akan menyerap cipratan air liur itu.

Jangan Malas Berjemur Pagi, Ini Manfaatnya

Akhir pekan biasanya kita gunakan untuk bermalas-malasan dan cenderung tak ingin keluar rumah. Akhirnya, tubuh kita tak mendapatkan asupan sinar matahari yang sangat bermanfaat.
Menurut Dr Clare Morrison, dokter umum dan konsultan medis di Medexpress, sedikit terpapar sinar matahari bisa berdampak negatif pada kesehatan.

"Kurangnya paparan sinar matahari dalam jangka waktu lama dapat berdampak buruk bagi tubuh kita. Singkatnya, kekurangan vitamin D tak hanya berdampak secara fisik tapi juga mental pada dirimu," kata Dr Morrison dikutip dari The List.

Tanpa paparan sinar matahari yang cukup, kadar serotonin dalam tubuh dapat menurun dan hal ini bisa terkait dengan risiko depresi mayor yang lebih tinggi.

Risiko lainnya yakni tulang yang melemah, cacat kaki, sejumlah kanker, depresi, masalah kulit, naiknya berat badan, serta masalah kognitif. Peneliti dari University of Southampton menyokong klaimnya, mengungkapkan bahwa sedikit terpapar sinar matahari dan berkurangnya vitamin D bisa mempengaruhi mood, energi, dan bahkan tidur.

"Semakin lama periode terpapar sinar matahari, semakin lama kita merasa tubuh semakin sehat. Kita memiliki lebih banyak energi, merasa lebih aktif, lebih kreaif, dan bahagia," imbuh Dr Aarohee Desai-Gupta, psikiater dari The Royal College of Psychiatrists.

Oleh karena itu, memastikan mendapatkan vitamin D yang cukup sangat krusial, bisa menjadi alasan yang tepat bagimu untuk tidak bermalas-malasan keluar rumah pagi ini. Berjemurlah!
https://nonton08.com/helpless/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar