Jumat, 14 Agustus 2020

Teori 'Misterius' Ungkap Hiu Hidup di Gunung Berapi Dalam Laut

Dengan lingkungan perairan yang bisa mencapai suhu tinggi, tentu terasa mustahil ada hewan bertahan hidup di sekitar gunung berapi dalam laut. Tapi, hal itu tampaknya tidak berlaku bagi hiu.
Belum lama ini, seperti dilansir dari Mashable, Jumat (14/8/2020) ada beberapa spesies hiu yang ternyata telah hidup di gunung berapi dalam laut aktif selama ini. Hiu yang dimaksud adalah hiu sutera dan hiu martil yang terlihat di gunung berapi Kavachi, Kepulauan Solomon.

"Saya pikir itu terdengar seperti film fiksi ilmiah. Ini penemuan yang menakjubkan," kata ahli ekologi kelautan Michael Heithaus.

Fenomena tersebut tentunya menarik perhatian para ilmuwan. Sebab, suhu tinggi bahkan bisa mendidih yang berada di perairan tersebut, jelas membuat tidak nyaman dijadikan 'rumah' bagi hewan laut. Di samping itu, gunung berapi bawah laut yang masih aktif, bisa kapan saja meletus.

Dengan penemuan hiu yang malah ada di sekitar gunung berapi bawah laut, itu mengindikasikan kalau predator laut tersebut dapat mengatasi persoalan yang ada.

Heithaus berteori bahwa kunci yang membuat hiu tetap hidup di bawah laut, karena ada kumpulan pori-pori yang ada pada moncong hewan satu ini, di mana itu memberikan semacam indera keenam untuk mendeteksi perubahan medan magnet planet.

Artinya, hiu akan mendeteksi aktivitas vulkanik sebelumnya dan dapat berenang ke tempat yang aman, apabila gunung berapi bawah laut itu akan meletus.

"Penelitian telah menunjukkan kepada kita bahwa mereka dapat mendeteksi badai dan siklon yang mendekat. Jadi, mereka mungkin dapat mendeteksi ketika sesuatu yang buruk akan terjadi dan menyingkir," sebut Heithaus.

Di samping itu, kondisi air keruh dampak dari aktivitas gunung berapi bawah laut, seakan-akan menjadi bonus bagi hiu untuk berburu.

Dari semua kemungkinan di atas, mengapa hiu berada di habitat ekstrim. Heithaus berpendapat bisa saja lingkungan gunung berapi bawah laut ini jadi tempat berlindung yang aman bagi mereka.

Ekosistem laut memang berbahaya sejak lama dan hiu merupakan sebagian spesies laut yang jumlahnya hampir punah akibat penangkapan ikan yang berlebihan.

"Anda tidak akan memancing di sekitar gunung berapi dan mungkin beberapa hiu yang lebih besar, yang merupakan predator, akan cenderung tidak pergi ke sana," ucapnya.

Secara keseluruhan, Heithaus mengatakan sebuah fakta begitu banyak hiu yang terlihat dalam waktu singkat di sekitar gunung berapi bawah laut itu, yang memang bisa jadi rumah aman bagi hewan ini.

"Jika itu bukan tempat yang bagus untuk hidup, mereka mungkin tidak akan ada di sana. Siapa yang tidak suka bak mandi air panas?," pungkasnya.

Jatuh Bangun Warnai 10 Tahun Pertama Xiaomi

Tepat 17 Agustus nanti, Xiaomi akan genap berusia 10 tahun. Jatuh bangun mewarnai perjalanan satu dekade pertamanya.
Alvin Tse, Country Director Xiaomi Indonesia, mengatakan dalam sepuluh tahun ini ada banyak keajaiban terjadi. Namun bejibun tantangan harus pula dihadapi Xiaomi.

Dalam waktu tergolong singkat Xiaomi mampu meraup kesuksesan besar di kampung halamannya. Bahkan hanya butuh empat tahun untuk mereka meraih gelar raja ponsel di China.

Tapi bak pepatah mengatakan hidup bagai roda pedati, kadang di atas, kadang di bawah. Inilah yang dialami Xiaomi.

Setelah menjadi nomor satu di pasar ponsel China di 2014, selang dua tahun bisnis mereka malah babak belur. Ini memaksa CEO Xiaomi Lei Jun menyingsingkan lengan bajunya menyelamatkan bisnis yang dirintisnya bersama tujuh orang lainnya.

"Lei Jun sampai harus kerja keras dari 09.00 pagi sampai 02.00 dini hari tiap hari selama setahun demi mengembalikan kondisi perusahaan," ungkap Alvin saat berbincang usai peluncuran Redmi 9A.

Keterpurukan bisnis Xiaomi ini tidak terlepas dari ikrar dari 8 orang founder untuk tidak ingin mengambil banyak untung dari bisnis yang mereka dirikan. Alhasil dengan sedikitnya profit, tidak banyak hal yang bisa dilakukan, mulai dari marketing, merekrut selebriti untuk jadi brand ambassador hingga memperluas pasar.

Di saat bersamaan Xiaomi harus bertahan di lingkungan yang sangat kompetitif. Mereka mesti menghadapi dua raksasa teknologi dunia Samsung dan Apple yang punya tenaga lebih besar.

"Tentu tidak mudah bagi kami yang kala itu masih startup kecil," terang Alvin.

Tapi untungnya Xiaomi dapat bertahan melalui badai. Mereka bangkit dari keterpurukan, dan mengepakkan sayapnya lebih luas lagi.

Tantangan tentunya akan terus menghampiri mereka ke depan. Tapi belajar dari masa lalu, perusahaan yang namanya punya arti beras kecil ini siap menghadapi. Ada tiga strategi yang akan terus mereka pegang erat.
https://kamumovie28.com/ldr-2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar