Bayu Adi Irawan (32), warga Malang tega membunuh pacarnya sebab ia mencium bau sperma di rumah sang pacar. Kapolresta Sidoarjo Kombes Sumardji mengatakan pelaku nekat membunuh gara-gara cemburu terhadap korban karena ada dua pria lain di dalam rumah.
"Melihat ada dua pria lain di rumah korban, pelaku merasa cemburu," kata Sumardji kepada wartawan di Mapolresta Sidoarjo, Rabu (12/8/2020).
Sperma sendiri sebenarnya bisa memiliki beragam bau. Namun, ada beberapa bau sperma yang perlu diwaspadai karena menunjukkan masalah kesehatan.
Dari bau menyengat hingga aroma manis, berikut 3 macam bau sperma yang tidak normal, dikutip dari Medical News Today.
1. Bau yang sangat menyengat
Bakteri dan kuman di sekitar penis dapat membuat bau sperma menjadi menyengat. Jika sperma menimbulkan bau busuk dan menyengat, atau memburuk seiring berjalannya waktu, itu mungkin merupakan tanda infeksi atau penyakit menular seksual.
2. Aroma manis
Sperma yang normal bisa berbau sedikit manis. Namun, sperma yang memiliki bau sangat manis bisa menjadi tanda peringatan dini soal penyakit diabetes.
Satu studi lama menunjukkan bahwa pria dengan diabetes mungkin memiliki lebih banyak gula dalam sperma mereka, sehingga menghasilkan bau yang lebih manis dari biasanya.
3. Bau amis
Bau amis pada sperma juga perlu diwaspadai. Sperma yang berbau amis dapat mengindikasikan infeksi menular seksual.
Muncul Wacana Rapid Test Dihapus, PCR Paling Akurat Deteksi COVID-19?
Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan tengah mengkaji menghapus syarat wajib rapid test dan PCR (swab) bagi calon penumpang pesawat. Dikutip dari CNN Indonesia, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Novie Riyanto mengaku tengah membahas kemungkinan penghapusan wajib rapid atau swab test untuk calon penumpang transportasi udara dengan Gugus Tugas dan Satuan Tugas (Satgas) COVID-19.
Rapid test sendiri selama ini diketahui sebagai syarat seseorang melakukan perjalanan. Namun, tidak sedikit sejumlah pihak yang mendesak untuk mengkaji ulang penggunaan rapid test.
"Dengan adanya ini justru kita pertanyakan apakah masih relevan melakukan test antibodi ini sebagai syarat bepergian bagi penumpang pesawat udara, kereta api, maupun kapal. Karena sebenarnya rapid test ini tidak ada gunanya untuk mencegah penularan COVID-19," kata Anggota Ombudsman Alvin Lie kepada wartawan, Rabu (8/7/2020).
Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik pun sempat mendesak pemerintah untuk tidak lagi menggunakan rapid test. Sebenarnya apa bedanya rapid test dengan PCR?
Direktur utama GSI Lab dr Nino Susanto, menjelaskan hingga saat ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan tes polymerase chain reaction (PCR) sebagai satu-satunya alat yang disarankan untuk mendeteksi kasus virus Corona COVID-19 aktif. Lalu memang apa bedanya tes PCR dengan rapid test?
"Rapid test itu kebanyakan yang beredar di masyarakat adakah rapid test antibodi, bahwa antibodi itu adalah bentuk reaksi tubuh terhadap infeksi tertentu artinya iantibodi ini muncul di kemudian hari, merupakan indikator awal dari sebuah infeksi," jelas dr Nino dalam acara peresmian GSI Lab, Rabu (12/8/2020).
"Untuk penegakan infeksi aktif, aktif saat ini, pada dasarnya dunia, atau World Health Organization (WHO) hanya menyarankan PCR sebagai satu-satunya standar baku emas untuk mendiagnosis COVID-19," kata dr Nino.
Oleh sebab itu, akurasi PCR dapat dipastikan lebih tinggi. Bahkan dr Nino menilai hampir mencapai 100 persen.
"Artinya akurasi yang dapat dilakukan PCR dalam mendeteksi COVID-19 mencapai 98 persen," sebut dr Nino.
Namun apakah tes PCR tetap memiliki kemungkinan menunjukkan hasil yang salah?
"Dengan metode yang baik, dengan dikerjakan staf yang berpengalaman, standar lab yang baik seharusnya tidak (ada kesalahan)," pungkasnya.
https://kamumovie28.com/the-sisters-s-scandal-2/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar