Saat menerapkan jaringan 5G, beberapa negara memastikan menggunakan Non-Standalone (NSA). Tapi ada yang memilih menerapkan sistem Standalone (SA). Apa perbedaan keduanya?
Menurut standar 3GPP Release 15 yang mencakup jaringan 5G, gelombang pertama jaringan dan perangkat akan diklasifikasikan sebagai Non-Standalone (NSA), yaitu jaringan 5G yang didukung infrastruktur 4G yang sudah ada. Smartphone 5G akan terhubung ke frekuensi 5G untuk peningkatan throughput data tapi akan tetap menggunakan 4G untuk hal-hal non-data seperti hubungan ke BTS dan server.
Rencana awal infrastruktur selular 5G akan berfokus pada enhanced mobile broadband (eMBB) untuk menyediakan bandwidth data yang lebih tinggi dan keandalan koneksi yang lebih baik lewat dua spektrum frekuensi radio baru:
Spektrum Frekuensi 1 bersinggungan dengan dan memperpanjang frekuensi 4G LTE, beroperasi dari 450MHz hingga 6.000MHz. Diberi nomor 1 hingga 255, dan biasanya dirujuk sebagai New Radio (NR) atau sub-6GHz.
Spektrum Frekuensi 2 beroperasi di frekuensi yang jauh lebih tinggi, yaitu 24.250MHz (~24GHz) hingga 52.600MHz (~52GHz). Diberi nomor dari 257 hingga 511 dan biasanya dirujuk sebagai millimeter wave (mmWave), meskipun sebenarnya frekuensi 'millimeter' dimulai di 30GHz
Tidak semua spektrum frekuensi besar di atas akan digunakan karena ketersediaan zona frekuensi berbeda-beda tiap negara, sehingga sub-slice berbeda akan tersedia bergantung di mana perangkat beroperasi. Ini merupakan tantangan teknis besar untuk desain smartphone (atau khususnya perancang modem 5G), yang harus meminimalkan biaya desain dengan sebuah platform tunggal sederhana, sambil sekaligus mendukung seluruh kombinasi frekuensi dengan kinerja, kehandalan koneksi, dan efisiensi daya terbaik.
Sementara itu, jaringan Standalone (SA) memiliki keunggulan dalam penyederhanaan dan efisiensi yang lebih baik, yang akan mengurangi biaya, dan meningkatkan kinerja throughput hingga ke ujung jaringan, sambil membantu pengembangan kasus-kasus penggunaan baru selular seperti ultra-reliable low latency communications (URLLC). Untungnya, migrasi dari 5G NSA ke SA oleh para operator telekomunikasi seharusnya terjadi dengan mulus tanpa dirasakan oleh para pengguna.
*) JS Pan adalah General Manager, Wireless Communication System and Partnership, MediaTek
Sejarah Sputnik yang Dipilih Jadi Nama Vaksin Corona Rusia
Rusia sudah menyetujui vaksin Corona dan dinamai Sputnik V. Ini bukan nama sembarangan.
Vaksin Corona Sputnik V buatan Gamaleya Research Institute dan Kementerian Pertahanan Rusia dibuat dari DNA adenovirus SARS-CoV-2. Vaksin ini menggunakan virus yang telah dilemahkan untuk menstimulasi respons imun.
Salah satu orang pertama yang mendapatkan vaksin tersebut adalah putri Presiden Rusia Vladimir Putin. Putrinya disebut dalam kondisi baik setelah disuntik vaksin.
Kenapa namanya Sputnik V? Dilansir LiveScience, Rabu (12/8/2020) Rusia menamakannya demikian dengan merujuk pada nama satelit pertama di dunia yang bersejarah.
Menurut Reuters dan New York Times, Rusia menganggap sedang ada balapan negara-negara dunia untuk menciptakan vaksin Corona. Kalau dulu ada space race atau balapan angkasa, maka sekarang ada vaccine race atau balapan vaksin.
Dilansir dari Space.com, Sputnik 1 adalah satelit pertama di dunia yang diluncurkan pada 4 Oktober 1957 saat Rusia masih bernama Uni Sovyet. Nama ini menjadi simbol kemenangan Rusia dalam balapan angkasa, mendahului Amerika.
Dalam sejarahnya, kemudian Rusia meluncurkan juga Sputnik 2 pada 3 November 1957 yang membawa anjing kosmonaut Laika yang terkenal itu. Lalu ada Sputnik 3 untuk riset pada 15 Mei 1958.
Selanjutnya Rusia memakai nama-nama lain seperti Korabl-Sputnik, Kosmos, Venera, Luna dan lain-lain untuk nama satelitnya. Tapi tidak pernah murni memakai nama Sputnik lagi.
Jika melihat sejarahnya, mestinya nama vaksin Corona adalah Sputnik IV ya? Mungkin ada informasi lain yang tidak publik tahu, sehingga nama yang dipilih adalah Sputnik V, seperti melompat satu nomer.
Dengan dipilihnya nama Sputnik V, Rusia pun tampaknya ingin mengklaim kemenangan dalam menciptakan vaksin Corona. Meski begitu, muncul pertanyaan dari seluruh dunia mengenai langkah Rusia meresmikan vaksin hanya kurang dari 2 bulan uji klinis pada manusia.
Padahal, waktu dua bulan biasanya hanya untuk uji klinis Fase 1. Tapi ngomong-ngomong soal nama berbau luar angkasa untuk inovasi vaksin Corona, Amerika pun melakukannya.
Pemerintahan Donald Trump dalam hal ini Kementerian Kesehatan Amerika (HHS) pada April 2020 meluncurkan Operation Warp Speed atau Operasi Kecepatan Cahaya, merujuk istilah dari film Star Trek. Isinya adalah suntikan dana untuk percepatan pembuatan vaksin Corona di Amerika.
https://kamumovie28.com/sex-mate-2/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar