Kamis, 13 Agustus 2020

Laporan WHO Sebut Vaksin Corona Rusia Statusnya Masih Uji Klinis I

Kementerian Kesehatan Rusia secara resmi mendaftarkan vaksin virus Corona COVID-19 yang dikembangkan oleh Gamaleya National Research Center of Epidemiology and Microbiology. Vaksin dengan sebutan Sputnik V tersebut diklaim menjadi yang pertama di dunia.
"Saya tahu vaksin ini cukup efektif, bisa membentuk imunitas yang stabil," kata Presiden Rusia, Vladimir Putin, seperti dikutip dari CNN, Rabu (12/8/2020).

Kabar ini ternyata mengundang banyak sikap skeptis, terutama dari kalangan ilmuwan internasional. Banyak yang mempertanyakan keamanan dan efektivitas vaksin karena bisa selesai dalam waktu sangat cepat sementara studinya jarang dilaporkan.

Juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tarik Jasarevic, mengatakan pihaknya tengah berdiskusi dengan Rusia. Menurutnya semua vaksin tetap harus memenuhi standar penilaian.

WHO dalam laporan resmi bertanggal 10 Agustus 2020 menyebut vaksin Corona yang dikembangkan Gamaleya National Research Center statusnya masih uji klinis tingkat I. Normalnya vaksin perlu menjalani uji klinis sampai tingkat III sebelum bisa digunakan untuk populasi umum.

Dalam laporan WHO, pengujian vaksin Corona dari Rusia ini mulai dilakukan tanggal 17 Juni dan ditargetkan selesai tanggal 15 Agustus 2020. Hanya ada 38 orang relawan yang diketahui terlibat dalam pengujian.

"Kami sudah menghubungi otoritas kesehatan Rusia dan diskusi sedang berlangsung," kata Tarik seperti dikutip dari Reuters.

Studi Baru: Pengguna Vape Usia Muda 5 Kali Lebih Berisiko Terinfeksi Corona

Studi baru menemukan pengguna vape usia muda memiliki risiko tinggi terinfeksi virus Corona COVID-19. Ditemukan banyak bukti adanya efek berbahaya dari vaping.
Dikutip dari USA Today, penelitian yang dipimpin oleh para peneliti di Stanford University School of Medicine ini menemukan pengguna vape lima kali lebih berisiko terinfeksi daripada yang tidak menggunakan vape. Studi yang dimuat pada hari Selasa di Journal of Adolescent Health, juga menemukan pengguna vape yang juga merokok biasa tujuh kali lebih berisiko terinfeksi virus Corona.

"Orang muda mungkin percaya usia mereka melindungi mereka dari tertular virus atau bahwa mereka tidak akan mengalami gejala COVID-19, tetapi data menunjukkan bahwa ini tidak benar di antara mereka yang melakukan vape," kata penulis utama studi tersebut, Shivani Mathur Gaiha.

Peneliti Stanford melakukan survei pada lebih dari 4.300 peserta berusia antara 13 hingga 24 tahun yang tinggal di seluruh negeri, termasuk District of Columbia dan tiga wilayah Amerika Serikat.

Hasil studi juga disesuaikan untuk sejumlah faktor termasuk usia, jenis kelamin, ras, etnis, pendidikan, indeks massa tubuh, kepatuhan terhadap perintah atau imbauan negara untuk pencegahan virus Corona COVID-19.

Survei tersebut menanyakan apakah mereka pernah menggunakan vape atau merokok dalam 30 hari terakhir. Mereka kemudian ditanya apakah pernah mengalami gejala COVID-19, dites, atau sudah mendapat diagnosis positif setelah dites.

Ditemukan bahwa usia muda yang merokok dan menggunakan vape pada bulan sebelumnya hampir lima kali lebih mungkin mengalami gejala COVID-19 seperti batuk, demam, kelelahan, dan kesulitan bernapas, yang diakui oleh penelitian tersebut dapat menjelaskan mengapa mereka juga lebih terinfeksi Corona.

Dr Sunil Sharma, kepala paru-paru, perawatan kritis, di West Virginia University Medicine, mengatakan bahwa sementara lebih banyak pengujian pada populasi ini dapat berkontribusi pada peningkatan diagnosis positif, hasil studi tersebut konsisten dengan literatur yang diterbitkan sebelumnya tentang kaitan vaping dan kekebalan menurun.
https://kamumovie28.com/the-way-i-love-you-2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar