Sabtu, 05 September 2020

Kisah Nyata Juara Olimpiade Gagal Lolos SNMPTN dan SBMPTN, Belajar 12 Jam

 Seorang juara olimpiade membagikan kisahnya yang bisa memotivasi kamu para pejuang PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Juara olimpiade itu adalah Rayhan Danendra Wiracalosa yang berbagi kisah inspiratifnya melalui akun Twitter @wiracalosa.
Bisa menjalani kuliah di perguruan tinggi negeri merupakan dambaan bagi setiap pelajar tanah air. Apalagi jika pelajar tersebut pernah menjadi juara Olimpiade tingkat dunia, seperti Rayhan. Dalam anggapan banyak orang, juara Olimpiade pasti bisa dengan mudahnya lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri.

"Nama gue Rayhan Danendra Wiracalosa. Biasa dipanggil ocha. Memegang predikat sebagai "Anak Olimpiade" menjadi beban tersendiri untuk mengejar PTN. Apalagi ketika gue gagal dapet Undangan (SNMPTN). Dan ini kisah perjalanan gue," tulis Rayhan di akun Twitter @wiracalosa.

Rayhan memulai kisahnya dengan menceritakan bahwa dirinya merupakan peserta Olimpiade Sains Nasional (OSN) pada 2019. Dia berhasil meraih medali perak OSN fisika. Dia juga mendapatkan kesempatan mengikuti olimpiade internasional di Rusia dan sukses mendapatkan medali perunggu.

Ketika dikonfirmasi oleh Wolipop, Rayhan yang biasa disapa Ocha ini mengungkapkan sejak SD dia memang ingin menjadi pemenang di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN). Singkat cerita, ia akhirnya bisa menjadi peraih medali perak di OSN 2019, Manado. Sekaligus terpilih untuk mewakili DKI Jakarta di ajang International Olympiade of Metropolises 2019, di Moscow.

"Saya juga meraih medali perunggu di bidang fisika di ajang tersebut. Setelah semua prestasi yang saya raih, ditambah juga saya bisa menjaga nilai sekolah saya, saya awalnya optimis untuk diterima di jalur SNMPTN (Undangan). Karena semua guru pun berkata demikian kepada saya. Tapi ternyata, saya gagal diterima melalui jalur SNMPTN," ungkap Rayhan ketika diwawancara oleh Wolipop, (3/9/2020).

Bukan hanya tak bisa masuk PTN melalui jalur undangan, Rayhan juga merasakan pedihnya ketika dia ternyata tidak lolos ujian SNMPTN. "Prestasi-prestasi yang sudah dicapai selama 3 tahun pada saat SMA menjadi sia-sia (Walau pun saya yakin tidak ada yang sia sia). Butuh 3-4 hari untuk saya menenangkan diri dan mencoba move on. Lagi pula hasil juga sudah mutlak kan?" katanya.

Tak mau berlarut-larut putus asa, Rayhan memilih fokus belajar untuk mencoba jalur lainnya masuk PTN. Dia belajar untuk Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) atau Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Intensitas belajarnya pun semakin ditingkatkan untuk mengikuti UTBK dan SBMPTN.

"Belajar sampai 12 jam saya lakuin dengan waktu tidur hanya 4-5 jam. Saya benar-benar tidak mau ditolak di SBMPTN. Tapi ternyata, satu bulan kemudian, papa saya meninggal akibat serangan stroke yang dideritanya. Papa bukanlah seorang ayah buat saya, tapi beliau seorang teman. Setiap kali saya down dulu karena kadang saya capek belajar OSN, papa lah orang yang selalu mendukung dan memotivasi. Meskipun background papa bukanlah seorang fisikawan," kenangnya.

Sangat kehilangan sosok ayahnya dan merasa tertekan, Rayhan jadi tidak terlalu fokus belajar. Apalagi dia juga harus mengurus berbagai hal setelah ayahnya meninggal.

"Mungkin kehilangan PTN tidak jadi masalah, karena PTN bisa dicari dengan banyak jalur. Tapi kehilangan Papa? Apakah bisa diganti? Nggak. Papa meninggal tepat satu bulan sebelum saya ujian UTBK. Di saat saya harus mengurusi dokumen-dokumen kematian, menelusuri hutang-hutangnya, dan lainnya. Saya masih harus tetap belajar di bawah tekanan mental. Seakan-akan, ini hanyalah mimpi bagi saya. But life must go on. Waktu tidur akhirnya saya kurangi menjadi 2-3 jam per hari," ucapnya.

Rayhan harus menelan pil pahit segala upayanya belajar kembali menghasilkan kegagalan. Pengumuman SBMPTN menyatakan dia tidak lolos masuk PTN.

"Setelah Papa meninggal, saya punya mimpi untuk menjadi dokter. Tapi ternyata, saya gagal SBMPTN. Three times strikes out. 1. Gagal SNMPTN. 2. Papa meninggal. 3. Gagal SBMPTN. Seolah olah, kebahagiaan yang saya peroleh pada tahun 2019 digantikan menjadi sebuah ujian di tahun 2020," ujarnya.

Kegagalan yang Berbuah Manis
Pada saat terpuruk karena terus mendapat cobaan hidup itu, Rayhan tak mau menyalahkan Allah SWT. Dia malah beranggapan Yang Maha Kuasa bisa dengan sangat mudahnya membalikkan keadaan manusia, dari titik tertinggi (kebahagiaan) menjadi titik terendah (ujian dari Allah SWT).

"Saya juga berpikir, 'Berarti Allah SWT, akan mudah membalikkan kondisi seseorang dari titik terendah, menjadi titik tertinggi. Setelah semua ujian yang saya alami, saya hanya berpikir 'Alhamdulillah, saya diberi ujian. Berarti Allah masih memperhatikan saya. Saya percaya pasti akan ada kebahagiaan yang datang ke saya," ucapnya.
https://nonton08.com/sinbad-the-fifth-voyage/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar