- Stok darah di Palang Merah Indonesia (PMI) makin menipis di tengah pandemi COVID-19. Padahal, stok donor darah sangat diperlukan di fasilitas kesehatan untuk membantu pasien, terlebih pengidap DBD yang saat ini juga menjadi ancaman di wabah Corona.
Di beberapa daerah dengan kasus Corona yang cukup tinggi, pengurus bidang donor darah PMI Pusat dr Linda Lukitari Waseo mengungkapkan terdapat penurunan stok darah hingga 20 persen.
"Biasanya ketersediaan bisa untuk 4 hari. Saat ini hanya untuk 2 hari. Sementara ketersediaan kurang di golongan darah AB, A, dan komponen darah tertentu," tutur dr Linda dalam rilis yang diterima detikcom dan ditulis Selasa (7/7/2020).
Stok donor darah saat ini masih sangat dibutuhkan untuk terapi berbagai macam penyakit seperti thalasemia, kanker, terapi, dan DBD. Untuk mempertahankan jumlah ketersediaan darah, PMI melakukan kunjungan ke beberapa tempat untuk melakukan transfusi.
"Kami menjemput bola bersama komunitas yang biasa melakukan donor darah secara rutin dibantu oleh TNI, Polri, ASN," tuturnya.
PMI juga memastikan prosedur donor darah aman sehingga donor tak perlu khawatir tertular Corona. Diyakini dr Linda, hingga saat ini belum ada kasus penularan COVID-19 baik saat pelaksanaan donor darah atau pada saat transfusi.
Protokol kesehatan terkait pelaksanaan donor darah di tengah pandemi Corona juga cukup ketat. Di antaranya pemeriksaan suhu tubuh, wawancara terkait kemungkinan tertular COVID-19, pemeriksaan fisik, dan mendisinfeksi ruangan yang dipakai untuk melakukan donor darah secara berkala.
"Untuk pelaksanaan donor darahnya sendiri, masih bisa dikatakan aman," terang dr Linda.
Lockdown Corona Bikin 73 Negara Terancam Kehabisan Obat HIV
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan ada 73 negara yang terancam kehabisan stok obat antiretroviral (ARV) yang biasa dipakai untuk pasien human immunodeficiency virus (HIV). Alasannya karena lockdown global akibat pandemi virus Corona COVID-19 membuat jalur suplai terputus.
Survei yang dilakukan WHO dan Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) memprediksi angka kematian karena acquired immune deficiency syndrome (AIDS) tahun 2020 dapat meningkat hingga dua kali lipat, terutama di sub-Sahara Afrika.
"Temuan survei ini sangat mengkhawatirkan... Negara-negara dan mitranya harus melakukan semua yang bisa dilakukan untuk memastikan orang yang membutuhkan obat HIV bisa mengaksesnya," kata Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip dari situs resmi WHO, Selasa (7/7/2020).
"Kita tidak bisa membiarkan pandemi COVID-19 membuat hasil kerja keras kita dalam menghadapi penyakit ini jadi sia-sia," lanjutnya.
Menurut data dari UNAIDS, angka kasus infeksi baru HIV sepanjang tahun 2000 ke 2019 berhasil turun sekitar 39 persen secara global. Dalam periode yang sama angka kematian berkurang 51 persen atau sekitar 15 juta orang berhasil diselamatkan berkat terapi ARV sebagai obat HIV.
WHO telah mengeluarkan panduan bagaimana negara-negara bisa mengadopsi kebijakan yang mengatur pemberian resep obat untuk periode waktu lebih lama, hingga enam bulan. Negara juga diimbau untuk berkoordinasi dengan produsen dan distributor sehingga masalah logistik bisa teratasi.
https://nonton08.com/cast/larsen-thompson/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar