Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan ada 73 negara yang terancam kehabisan stok obat antiretroviral (ARV) yang biasa dipakai untuk pasien human immunodeficiency virus (HIV). Alasannya karena lockdown global akibat pandemi virus Corona COVID-19 membuat jalur suplai terputus.
Survei yang dilakukan WHO dan Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) memprediksi angka kematian karena acquired immune deficiency syndrome (AIDS) tahun 2020 dapat meningkat hingga dua kali lipat, terutama di sub-Sahara Afrika.
"Temuan survei ini sangat mengkhawatirkan... Negara-negara dan mitranya harus melakukan semua yang bisa dilakukan untuk memastikan orang yang membutuhkan obat HIV bisa mengaksesnya," kata Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip dari situs resmi WHO, Selasa (7/7/2020).
"Kita tidak bisa membiarkan pandemi COVID-19 membuat hasil kerja keras kita dalam menghadapi penyakit ini jadi sia-sia," lanjutnya.
Menurut data dari UNAIDS, angka kasus infeksi baru HIV sepanjang tahun 2000 ke 2019 berhasil turun sekitar 39 persen secara global. Dalam periode yang sama angka kematian berkurang 51 persen atau sekitar 15 juta orang berhasil diselamatkan berkat terapi ARV sebagai obat HIV.
WHO telah mengeluarkan panduan bagaimana negara-negara bisa mengadopsi kebijakan yang mengatur pemberian resep obat untuk periode waktu lebih lama, hingga enam bulan. Negara juga diimbau untuk berkoordinasi dengan produsen dan distributor sehingga masalah logistik bisa teratasi.
Gempa Terasa di Jakarta, Ini Alasan Tak Perlu Panik Berlebihan
Gempa yang terjadi di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten terasa hingga Jakarta. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
"Tidak berpotensi tsunami," tulis BMKG, Selasa (7/7/2020).
Bagi sebagian besar orang, getaran hebat yang dirasakan pasca gempa bumi akan membuat panik dan deg-degan. Meski sangat wajar untuk dialami, rasa panik jangan sampai membuat kita tidak waspada.
"Deg-degan boleh tapi jangan panik dan tetap waspada. Sikap waspada memungkinkan kita bertindak sesuai prosedur yang harus dijalani saat terjadi gempa, misal segera keluar gedung atau melindungi diri," kata psikolog dari Personal Growth Veronica Adesla beberapa waktu lalu.
Panik dan stres bisa membuat situasi memburuk saat gempa terjadi. Sangat penting untuk tetap tenang selama gempa bumi sehingga Anda bisa berpikir secara rasional dan menghindari melakukan hal-hal yang membuat orang lain dalam bahaya.
Tetap tenang juga dapat membantu Anda tetap fokus. Contohnya apabila ada instruksi lanjutan atau memastikan gempa masih berlangsung atau sudah selesai.
"Rasa deg-degan adalah hal yang wajar saat menghadapi peristiwa yang luar biasa seperti gempa bumi. Tapi, harus secepatnya segera tenang dan fokus untuk evakuasi," pungkas Veronica.
Virus Corona Bisa Masuk ke Sistem Endokrin dan Picu Berbagai Penyakit
Infeksi virus Corona diketahui berbahaya bagi manusia, terutama yang memiliki penyakit komorbid atau penyerta dan orang-orang lanjut usia. Tak hanya itu, virus ini juga bisa menyebabkan komplikasi, seperti kerusakan paru-paru, otak, hingga saluran pencernaan yang bersifat permanen.
Belakangan para peneliti Sri Lanka mengatakan virus Corona COVID-19 ini juga bisa merusak sistem endokrin tubuh. Ini adalah sistem penting yang terdiri dari kumpulan kelenjar penghasil hormon yang mengatur metabolisme, fungsi jaringan, reproduksi, pertumbuhan, pola tidur, hingga suasana hati.
Sistem endokrin terdiri dari kelenjar hipofisis, kelenjar tiroid, kelenjar paratiroid, kelenjar adrenal, pankreas, ovarium, dan testis. Mengutip The Health Site, penyakit diabetes dan gangguan tiroid adalah masalah umum yang muncul dari gangguan sistem endokrin.
Virus masuk ke sel endokrin dan memicu penyakit
Para peneliti dari Rumah Sakit Sri Lanka mengungkapkan, orang dengan gangguan endokrin kondisinya bisa memburuk karena COVID-19. Hal ini terjadi karena SARS-CoV-2 yang saling berikatan dengan reseptor ACE2 membuat virus bisa masuk ke sel endokrin.
Untuk membuktikannya, peneliti mempelajari kembali wabah SARS yang mirip dengan virus Corona ini untuk melihat keterkaitan antara sistem endokrin dengan COVID-19.
Menurut penelitian yang terbit dalam Journal of the Endocrine Society, infeksi virus ini juga bisa menyebabkan hilangnya indra penciuman dan masuk ke otak.
https://nonton08.com/cast/carlease-burke/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar