Baru-baru ini ramai soal masker transparan yang dipakai istri Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa, Diah Erwiany Trisnamurti Hendrati Hendropriyono. Dikutip dari CNNIndonesia.com, masker ini disebut-sebut masker buatan Clean Space Technology seri Halo di mana masker ini tergolong dalam respirator.
Disebutkan bahwa kemampuan masker bisa menyaring partikel debu dan kotoran lain termasuk virus dan bakteri. "Respirator Clean Space memanfaatkan teknologi perangkat medis terbaru untuk perlindungan dan kinerja tinggi, dibandingkan respirator pelindung perawatan kesehatan tradisional. Desain yang intuitif dan ergonomis membuat pengguna mudah menggunakannya," kata Birrell CEO Clean Space Technology, Selasa (7/7/2020).
"Masker ini sangat penting digunakan oleh para tim petugas kesehatan," imbuhnya.
Benarkah masker ini yang paling cocok untuk tenaga medis?
Meskipun masker respirator ini disebut cocok untuk tenaga medis, praktisi kesehatan dr Halik Malik dari Merial Health menilai masker bedah dan masker N95 pun cukup untuk tenaga medis.
"Masker bedah dan masker N95 yang standar cukup sih untuk kebutuhan tenaga medis," jelas dr Halik Malik.
"Masker respiratori sendiri ada berbagai tipe, sesuai peruntukannya ada untuk medis, industri, dan lainnya, sebaiknya digunakan sesuai dengan tujuan dan prioritas masing-masing," lanjut dr Halik.
Meski begitu, menurutnya masker respirator yang memiliki teknologi Powered Air Purify Respirator (PAPR) disebut lebih baik untuk tenaga kesehatan. Karena kemampuan filtrasi dari masker tinggi.
"Masker jenis respiratori dengan teknologi PAPR (Powered Air Purify Respirator) tentu lebih baik bagi tenaga medis. Masker dengan kemampuan filtrasi hingga 99 persen ini jauh lebih protektif untuk menunjang pelayanan di ruang isolasi," pungkasnya.
Stok Darah PMI Hanya Cukup untuk 2 Hari, Golongan Darah A dan AB Menipis
- Stok darah di Palang Merah Indonesia (PMI) makin menipis di tengah pandemi COVID-19. Padahal, stok donor darah sangat diperlukan di fasilitas kesehatan untuk membantu pasien, terlebih pengidap DBD yang saat ini juga menjadi ancaman di wabah Corona.
Di beberapa daerah dengan kasus Corona yang cukup tinggi, pengurus bidang donor darah PMI Pusat dr Linda Lukitari Waseo mengungkapkan terdapat penurunan stok darah hingga 20 persen.
"Biasanya ketersediaan bisa untuk 4 hari. Saat ini hanya untuk 2 hari. Sementara ketersediaan kurang di golongan darah AB, A, dan komponen darah tertentu," tutur dr Linda dalam rilis yang diterima detikcom dan ditulis Selasa (7/7/2020).
Stok donor darah saat ini masih sangat dibutuhkan untuk terapi berbagai macam penyakit seperti thalasemia, kanker, terapi, dan DBD. Untuk mempertahankan jumlah ketersediaan darah, PMI melakukan kunjungan ke beberapa tempat untuk melakukan transfusi.
"Kami menjemput bola bersama komunitas yang biasa melakukan donor darah secara rutin dibantu oleh TNI, Polri, ASN," tuturnya.
PMI juga memastikan prosedur donor darah aman sehingga donor tak perlu khawatir tertular Corona. Diyakini dr Linda, hingga saat ini belum ada kasus penularan COVID-19 baik saat pelaksanaan donor darah atau pada saat transfusi.
Protokol kesehatan terkait pelaksanaan donor darah di tengah pandemi Corona juga cukup ketat. Di antaranya pemeriksaan suhu tubuh, wawancara terkait kemungkinan tertular COVID-19, pemeriksaan fisik, dan mendisinfeksi ruangan yang dipakai untuk melakukan donor darah secara berkala.
"Untuk pelaksanaan donor darahnya sendiri, masih bisa dikatakan aman," terang dr Linda.
https://nonton08.com/cast/anselmo-martini/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar