Starbucks Indonesia baru-baru ini jadi sorotan karena salah satu pegawainya ketahuan mengintip payudara pelanggan lewat CCTV. Polisi dikabarkan sedang mengusut kasusnya.
Senior General Manager Corporate PR and Communications PT Sari Coffee Indonesia, Andrea Siahaan, mengatakan pihaknya telah menindaklanjuti kejadian tersebut. PT Sari Coffee Indonesia memastikan kasus ini tidak akan terulang.
"Perilaku tersebut tidak dapat kami toleransi dan individu yang bersangkutan sudah tidak bekerja lagi bersama PT Sari Coffee Indonesia," tegas Andrea.
Terkait hal tersebut, psikolog forensik Reza Indragiri Amriel menyebut perlu dibedakan perilaku mengintip mana yang timbul karena kelainan seksual atau hanya karena dorongan dan ada kesempatan.
Seseorang misalnya bisa dikatakan memiliki kelainan voyeurisme bila harus mengintip untuk mendapatkan kepuasan seksual. Orang seperti ini tidak bisa mengendalikan hasrat seksualnya.
"Orang yang suka melihat, termasuk mengintip, tidak harus menjadi voyeurist," kata Reza pada detikcom, Kamis (2/7/2020).
"Kalau mengintip sudah menjadi kelakuan yang harus dilakukan agar bisa terangsang, sehingga bila tidak mengintip maka tidak bisa terangsang, maka barulah bisa disebut voyeurism. Jadi bedakan antara mengintip sebagai filia dan mengintip sebagai hasil kalkulasi terhadap kesempatan serta risiko," lanjutnya.
Lalu apa batasan sebuah perilaku dikategorikan mesum?
"Kalau korban tidak berkenan, maka perilaku mengintip sudah bisa dianggap sebagai serangan seksual. Umum menyebutnya perbuatan mesum," tegas Reza.
Dirkrimsus Polda Metro Jaya Kombes Roma Hutajulu mengatakan orang yang merekam dan menyebarkan video pegawai Starbucks tersebut bisa dijerat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).
"Yang merekam dan sharing bisa berpotensi melanggar pasal 27 ayat 1 (UU ITE)," pungkasnya.
Sejumlah Pakar Anggap Virus Flu Babi G4 Tak Mengkhawatirkan, Ini Alasannya
Beberapa waktu lalu, peneliti di China menemukan jenis virus yang dikhawatirkan bisa berpotensi menjadi pandemi setelah COVID-19. Virus yang diberi kode G4 EA H1N1 atau G4 ini termasuk dalam varian dari virus flu babi H1N1.
Tapi, beberapa ahli kesehatan mengatakan virus G4 ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Profesor epidemiologi dan peneliti dari University of California, Amerika Serikat, Christine Johnson, VMD, MPVM, PhD, mengatakan penyakit zoonosis bisa muncul setiap saat.
"Untuk menentukan virus bisa menjadi pandemi adalah harus menular dari manusia ke manusia. Ini (virus G4) tidak akan menyebabkan pandemi, sementara hanya bisa ditularkan dari babi ke manusia saja," katanya yang dikutip dari Healthline, Kamis (2/7/2020).
Penularan penyakit zoonosis bervariasi, bisa dari babi ke manusia, kelelawar ke manusia, atau dari binatang buas lainnya. Menurut Johnson, sulit untuk memprediksi apakah virus itu bermutasi dan kapan bisa menular antarmanusia.
Menurut ahli virus sekaligus kepala departemen biologi di Texas A&M University-Texarakan, Benjamin Neuman, PhD, hewan babi dianggap sebagai 'wadah percampuran' virus. Ini karena sel inang babi bisa menggabungkan banyak virus, bahkan menghasilkan virus baru.
"Babi rentan terhadap beberapa virus seperti flu burung dan manusia hingga menghasilkan virus baru yang berpotensi menginfeksi manusia," ujar Neuman.
Neuman mengatakan, itulah pentingnya melacak babi-babi yang kemungkinan terinfeksi virus yang bisa memicu wabah di masa depan. Berdasarkan hasil pengawasan tim peneliti, mereka mengidentifikasi 179 virus flu babi pada hewan babi.
"Virus flu ini adalah potongan-potongan dari flu burung, H1N1, dan flu babi yang tampaknya akan tumbuh dengan baik di dalam sel manusia. Itu bisa berpotensi menyebabkan pandemi, tapi sampai saat ini kami belum menemukan bukti virus ini menyebabkan masalah yang nyata," jelas Neuman.
Direktur eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Dr Michael Ryan, dalam konferensi pers mengatakan bahwa virus G4 ini bukanlah virus baru, tapi tetap diawasi.
WHO menyebutkan bahwa virus flu babi sudah diawasi sejak 2011 lalu, bahkan pengawasannya pun tetap diperketat seiring dengan temuan studi China soal potensi menjadi pandemi. Bahkan WHO telah bekerja sama dengan otoritas China terkait antisipasi virus flu babi G4.
https://indomovie28.net/cast/chris-redd/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar