Jumat, 03 Juli 2020

3 Fakta Masturbasi, Benarkah Bisa Bikin Mandul?

 Masturbasi memang tidak berbahaya bagi kesehatan. Meski begitu, masturbasi tidak disarankan untuk dilakukan terlalu sering.
Ada yang khawatir jika masturbasi bisa berdampak pada kesuburan sehingga menyebabkan mandul. Namun benarkah masturbasi bisa mempengaruhi kesuburan?

Catat 3 fakta masturbasi dirangkum detikcom dari berbagai sumber.

Apakah masturbasi bisa mempengaruhi kesuburan atau menyebabkan mandul?
Meski kerap menimbulkan kekhawatiran, faktanya masturbasi tidak menyebabkan kemandulan. Mayo Clinic menyebut frekuensi masturbasi tidak terlalu berpengaruh terhadap kualitas air mani.

"Beberapa data menunjukkan kualitas air mani yang optimal terjadi setelah sekitar dua sampai tiga hari tanpa ejakulasi. Tapi, studi lainnya menemukan pria dengan kualitas sperma normal bisa mempertahankan motalitas (kemampuan berenang -red) dan konsentrasinya meski ejakulasi setiap hari," tulis Mayo Clinic.

Masturbasi saat menstruasi, apakah berbahaya?
Para wanita mungkin sering menanyakan apakah aman masturbasi saat menstruasi. Dikutip dari Healthline, masturbasi saat menstruasi malah memiliki beberapa manfaat, seperti menghilangkan rasa nyeri saat menstruasi, meningkatkan mood, dan membuat tidur lebih nyenyak.

Bagaimana tandanya kamu ketagihan masturbasi?
Dikutip dari MensHealth, terlalu sering masturbasi bisa dilihat dari seberapa sering seseorang memikirkan terus masturbasi. Terlalu sering ingin melakukan masturbasi bisa berdampak bagi pekerjaan dan kegiatan aktivitas sehari-hari, termasuk tidak begitu bergairah saat melakukan hubungan seks dengan pasangan.

Pegawai Starbucks Intip Payudara, Ini Kriteria Mesum Menurut Psikolog

 Starbucks Indonesia baru-baru ini jadi sorotan karena salah satu pegawainya ketahuan mengintip payudara pelanggan lewat CCTV. Polisi dikabarkan sedang mengusut kasusnya.
Senior General Manager Corporate PR and Communications PT Sari Coffee Indonesia, Andrea Siahaan, mengatakan pihaknya telah menindaklanjuti kejadian tersebut. PT Sari Coffee Indonesia memastikan kasus ini tidak akan terulang.

"Perilaku tersebut tidak dapat kami toleransi dan individu yang bersangkutan sudah tidak bekerja lagi bersama PT Sari Coffee Indonesia," tegas Andrea.

Terkait hal tersebut, psikolog forensik Reza Indragiri Amriel menyebut perlu dibedakan perilaku mengintip mana yang timbul karena kelainan seksual atau hanya karena dorongan dan ada kesempatan.

Seseorang misalnya bisa dikatakan memiliki kelainan voyeurisme bila harus mengintip untuk mendapatkan kepuasan seksual. Orang seperti ini tidak bisa mengendalikan hasrat seksualnya.

"Orang yang suka melihat, termasuk mengintip, tidak harus menjadi voyeurist," kata Reza pada detikcom, Kamis (2/7/2020).

"Kalau mengintip sudah menjadi kelakuan yang harus dilakukan agar bisa terangsang, sehingga bila tidak mengintip maka tidak bisa terangsang, maka barulah bisa disebut voyeurism. Jadi bedakan antara mengintip sebagai filia dan mengintip sebagai hasil kalkulasi terhadap kesempatan serta risiko," lanjutnya.

Lalu apa batasan sebuah perilaku dikategorikan mesum?

"Kalau korban tidak berkenan, maka perilaku mengintip sudah bisa dianggap sebagai serangan seksual. Umum menyebutnya perbuatan mesum," tegas Reza.

Dirkrimsus Polda Metro Jaya Kombes Roma Hutajulu mengatakan orang yang merekam dan menyebarkan video pegawai Starbucks tersebut bisa dijerat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

"Yang merekam dan sharing bisa berpotensi melanggar pasal 27 ayat 1 (UU ITE)," pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar