Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebut bahwa World Bank alias Bank Dunia menaikkan peringkat Indonesia menjadi negara berpenghasilan menengah ke atas, alias upper middle income country.
Hal itu disampaikan Luhut saat memberikan kata sambutan dalam acara peluncuran kampanye Bangga Buatan Indonesia yang diadakan Kementerian Perindustrian.
"Saya sampaikan berita baik buat kita. Bahwasanya, Indonesia diumumkan World Bank naik dari lower middle income country jadi upper middle income country," ungkap Luhut yang ditayangkan di YouTube Kementerian Perindustrian, Rabu (1/7/2020).
Luhut sendiri mengaku kaget saat mendengar kabar tersebut. Terlebih lagi pengumuman ini dilakukan pada saat kondisi ekonomi melemah dan penuh ketidakpastian.
"Saya kaget melihat ini, karena diumumkan pada saat keadaan seperti saat ini," kata Luhut.
Soal kampanye Bangga Buatan Indonesia sendiri, Luhut menjelaskan bahwa gerakan ini bisa mengakselerasi putaran ekonomi dan meningkatkan keberpihakan pada produk lokal.
"Gerakan ini adalah bentuk akselerasi putaran ekonomi dan meratakan pertumbuhan ekonomi. Selain itu juga untuk meningkatkan keberpihakan kita terhadap produk lokal," papar Luhut.
Luhut menjelaskan gerakan ini memiliki target menjaring 2 juta UMKM untuk masuk ekosistem digital. Hingga akhir Juni dia memaparkan sudah ada 600 ribu yanh masuk. Gerakan ini juga menurutnya akan memberikan dukungan pelatihan sampai relaksasi perizinan.
"Sampai akhir Juni 2020 sudah ada 600 ribu masuk ke ekosistem digital. Kita juga berikan dukungan untuk IKM dan UKM, dari pelatihan daring sampai relaksasi perizinan," kata Luhut.
KAI Masuk Daftar Merek Termahal Indonesia dengan Nilai US$ 342 Juta
PT. Kereta Api Indonesia masuk ke dalam daftar daftar 100 merek termahal Indonesia tahun ini atau Indonesia's Top 100 Most Valuable Brands 2020 yang dirilis oleh Brand Finance.
Penganugerahan dengan tema 'Challenges and Opportunities of Brand Building in The New Normal Era' tersebut dilaksanakan secara virtual oleh salah satu media cetak bekerja sama dengan Brand Finance Indonesia.
"Saya memberikan apresiasi kepada seluruh pegawai kami atas masuknya KAI dalam jajaran 100 merek termahal Indonesia. Kami akan semakin terpacu untuk meningkatkan peringkat ke depannya," ujar Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo dalam keterangan tertulis, Rabu (1/7/2020).
Adapun tahun ini menjadi yang pertama kalinya KAI masuk ke dalam daftar tersebut dan berhasil menempati posisi ke-22. KAI pun sukses mencatatkan brand valuation atau nilai merek sebesar US$ 342 juta atau Rp 4,9 triliun (asumsi kurs Rp 14.390).
Didiek mengatakan untuk menunjang kenaikan peringkat dalam daftar tersebut, KAI akan melakukan berbagai inovasi salah satunya integrasi antarmoda first mile dan last mile. Integrasi tersebut akan semakin memudahkan penumpang karena moda transportasi menuju dan dari stasiun bisa dipesan melalui aplikasi KAI Access dan langsung terhubung dengan platform pembayarannya.
"Kami akan membangun integrasi tersebut dengan cara kolaboratif dan proaktif untuk mewujudkan layanan end to end. Hal ini sesuai dengan visi KAI yaitu menjadi solusi ekosistem transportasi terbaik untuk Indonesia," jelas Didiek.
Lebih lanjut, Didiek menjelaskan akan ada inovasi lainnya pada aplikasi KAI Access. Selain dapat memesan makanan, penumpang juga bisa memesan kebutuhan sehari-hari di atas kereta. Barang tersebut selanjutnya dapat diambil di stasiun tujuan, sehingga menghemat waktu dan energi.
"Kami tetap akan menjalankan bisnis sesuai Good Corporate Governance (GCG) dengan peran proaktif stakeholders management, penanganan people dan culture, menjaga pelayanan prima, serta menjaga kualitas kinerja keuangan KAI yang tumbuh secara sustainable dari waktu ke waktu," imbuh Didiek.
Sementara itu, Direktur pengelola Brand Finance Asia Pasifik Samir Dixit mengatakan pemeringkatan ini berdasar pada hasil asesmen dengan mengacu pada data yang didapat sebelum pandemi COVID-19. Metodologi yang digunakan Brand Finance untuk menghitung valuasi merek, melibatkan aspek keuangan, yang dikategorikan sebagai aspek kuantitatif.
"Brand Finance menghitung potensi pendapatan yang dapat dihasilkan dari sebuah brand. Brand Finance juga menggunakan pendekatan Royalty Relief untuk menilai brand dengan menghitung proyeksi revenue sebuah brand 3-5 tahun ke depan, tarif pajak, serta discount rate di pasar," ungkap Samir.
https://nonton08.com/midara-na-ao-chan-wa-benkyou-ga-dekinai-episode-7/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar