Rabu, 01 Juli 2020

Menperin Mau Industri Besar Serap Bahan Baku dari UMKM

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita tengah berupaya menjadikan usaha kecil, mikro dan menengah (UMKM) serta industri kecil dan menengah (IKM) jadi pemasok bahan baku yang dibutuhkan oleh industri besar di Indonesia.

"Kami ingin sekali agar supply chain bagi industri2 menengah atas ke besar itu bisa dilakukan oleh IKM di Indonesia. Ini yang kami terus upayakan. Oleh sebab itu yang penting adalah bagaimana kita mempersiapkan IKM menjadi bagian yang tak terpisahkan, integral dari industri besar," kata Agus dalam konferensi pers virtual, Rabu (1/7/2020).

Menurut Agus, saat ini kemampuan UMKM dan IKM sudah sangat cukup untuk membentuk rantai pasok atau supply chain bahan baku bagi perindustrian Indonesia. Dengan mendorong pembentukan supply chain mandiri tersebut, Agus berharap impor bahan baku bisa dikurangi.

"Kita bisa lihat semua barang-barang yang dibutuhkan masyarakat ada, sudah diproduksi oleh anak-anak bangsa kita sendiri, oleh produsen-produsen nasional, nah ini tinggal bagaimana supply chainnya yang nanti tentu akan mempengaruhi terhadap nilai impor bahan baku, yang juga nanti mempengaruhi substitusi impor," terang dia.

Selain mengupayakan pembentukan supply chain mandiri, Agus meminta masyarakat juga meningkatkan konsumsi produk dalam negeri. Menurutnya, saat ini masyarakat masih punya kemampuan menyerap produk dalam negeri meski ada di tengah-tengah pandemi virus Corona (COVID-19).

"Kami pemerintah percaya dan meyakini bahwa market itu masih tersedia, masih ada, kekuatannya masih cukup untuk menyerap atau membeli produk-produk dalam negeri khsusunya IKM," tutur dia.

Namun, pemerintah masih punya pekerjaan rumah (PR) yakni menghubungkan pasar dengan IKM itu sendiri.

"Hanya saja sekarang bagaimana kita bisa untuk melink-an antara market itu sendiri yang menurut pandangan kami di pemerintah sebetulnya sinyalnya masih baik dengan penyedia produk itu sendiri," pungkas Agus.

Apa Kabar Proyek Kilang RDMP Balikpapan?

PT Pertamina (Persero) mencatat pembangunan kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan sudah mencapai 18%. Progres itu meningkat dari progres sebelumnya di Mei 2020 16,32%.

Hal itu diungkapkan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dalam lanjutan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, di gedung DPR, Jakarta, Rabu (1/7/2020).

"Hingga hari ini progresnya sudah 18%," ujarnya.

Nicke menjelaskan untuk kontrak proyek kilang RDMP Balikpapan sendiri mencapai US$ 40 miliar. Pertamina sendiri memenuhi kebutuhan investasi itu dengan modal atau ekuitas dan pinjaman dengan porsi 40-60.

"Jadi 40% itu ekuitas, 60% dari loan. Total kontrak US$ 40 miliar, itu tahap 1 Balikpapan. Jadi kalau progres 18% dikali 40% itulah dari ekuitas, 60% dari loan. Kita rencananya project financing," tambahnya.

Progres pembangunan kilang RDMP Balikpapan sendiri terbagi dalam empat pekerjaan yakni engineering, Procurement, Construction dan Commissioning.

RDMP Balikpapan akan meningkatkan kapasitas pengolahan kilang dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari serta meningkatkan kualitas produk BBM dari setara Euro II menjadi setara Euro V. Proyek RDMP Balikpapan juga disinergikan dengan pembangunan New Crude Lawe-Lawe Tankage Facility dengan kapasitas penyimpanan sebesar 2 juta barel.
https://nonton08.com/nanatsu-no-taizai-season-3-episode-2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar