Selasa, 07 Juli 2020

Masker Transparan Istri KSAD Jadi Perbincangan, Cocokkah untuk Sehari-hari?

 Masker transparan milik istri Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa, Diah Erwiany Trisnamurti Hendrati Hendropriyono, ramai diperbincangkan. Masker yang diduga buatan Clean Space Technology seri Halo itu punya kemampuan filtrasi yang tinggi.
Dikutip dari Clean Space Technology, masker semacam ini memiliki kemampuan untuk menyaring 99,97 persen partikel, dengan ukuran mencapai 0,3 mikro. Masker tersebut cukup bisa diandalkan untuk mencegah penularan penyakit melalui virus ataupun bakteri.

Tetapi, apakah masker seperti yang digunakan istri KSAD ini cocok untuk digunakan sehari-hari?

Menurut anggota tim pokja pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) Kemenkes RI di Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet, dr Saut Halomoan Manulang, SpB(K), FCD, masker yang digunakan oleh istri KSAD memiliki kemampuan seperti masker N95, sehingga lebih diperuntukkan untuk keperluan medis.

"Berarti untuk penggunaan medis. Karena disebutkan mampu menyaring partikel ukuran 0,3 mikro. Standar masker N95," kata dr Manulang kepada detikcom, Selasa (7/7/2020).

Untuk pemakaian sehari-hari, dr Manulang mengatakan tidak harus yang secanggih itu.

"Terlalu berlebihan bila digunakan untuk masyarakat umum," tuturnya.

Misteri di Balik Rendahnya Angka Kematian Jepang dan Dugaan 'Kebal' Corona

Jepang dikabarkan memiliki kekebalan superior terhadap wabah virus Corona COVID-19. Padahal negeri sakura ini disebut memiliki banyak kondisi yang membuatnya rentan terhadap paparan dari virus Corona COVID-19.
Ketika dunia menutup pintu untuk para pelancong dari China, Jepang menjaga perbatasan untuk tetap terbuka. Jepang juga tidak pernah menerapkan kebijakan seperti aturan lockdown untuk menangani virus Corona.

Apa yang dilakukan Jepang?
Pada awal April, pemerintah Jepang memerintahkan untuk menaikkan 'keadaan darurat'. Tetapi imbauan untuk tinggal di rumah masih bersifat sukarela yang diartikan kembali lagi ke masing-masing. Bisnis diminta untuk ditutup, namun tidak ada hukuman bagi mereka untuk yang menolak untuk tidak menutup bisnis.

Jepang, yang memiliki populasi lansia lebih banyak dibandingkan negara lain, juga tidak mengindahkan saran dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk terus menguji tes virus Corona. Bahkan kini, total tes PCR hanya 348.000 atau 0,27 persen dari total 126.468.508 populasi Jepang.

Namun, lima bulan setelah kasus COVID-19 pertama dilaporkan, Jepang hanya memiliki kurang dari 20.000 kasus terjangkit dan kurang dari 1.000 kematian. Keadaan darurat pun telah diangkat dan kehidupan dengan cepat kembali normal seperti semula.

Ada juga bukti ilmiah yang berkembang bahwa Jepang sejauh ini benar-benar bisa menekan penyebaran virus Corona COVID-19. Perusahaan telekomunikasi raksasa, Softbank melakukan pengujian antibodi kepada 40.000 karyawan, dengan hasil menunjukkan bahwa hanya 0,24 persen yang terpapar virus Corona.

Pengujian acak terhadap 8.000 orang di ibu kota Tokyo dan dua prefektur lainnya telah menunjukkan tingkat paparan yang lebih rendah. Di Tokyo, hanya 0,1 persen yang positif COVID-19.

Ketika pengumuman pencabutan keadaan darurat berakhir bulan lalu, Perdana Menteri Shinzo Abe bahkan dengan bangga mengenalkan "Model Jepang", mengisyaratkan bahwa negara-negara lain harus belajar dari Jepang dalam menangani pandemi.
https://nonton08.com/cast/matt-mercer/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar