Jumat, 17 Januari 2020

Menggapai Mimpi Liburan ke Jepang dengan Biaya Pas-pasan (3)

Tips untuk yang ingin mencoba ke Fujikyu Highland, berangkatlah naik bus arah Fujikyuu yang paling pagi dan pulang naik bus di jadwal terakhir. Karena jika ingin menaiki wahana yang terkenal, harus mengantre hingga dua jam karena memang serame itu. Jadi kalau tidak dari pagi sekali, tidak akan bisa menikmati semua wahananya.

Tetapi ada juga tiket terusan yang langsung masuk tanpa antri. Bisa dibilang tiket terusan VIP. Tapi harganya berkali lipat lebih mahal bahkan untuk orang Jepang. Mereka lebih banyak yang memilih tiket terusan biasa, karena aku hanya melihat satu dua orang yang menggunakan tiket terusan VIP.

Disamping tentang wisatanya, banyak hal yang menarik tentang Jepang. Seperti toilet yang hanya dapat ditemukan di Jepang. Toilet super canggih dengan banyak tombol, dan toilet canggih itu tersebar hampir diseluruh Jepang hingga Apato (kosan) temanku yang biasa saja, toiletnya sudah canggih.

Saat pertama kali menemukannya di Bandara Haneda, aku sampai berlama-lama di toilet hanya untuk mencari tahu fungsi dari masing-masing tombol. Ada tombol yang mengeluarkan suara tiruan bunyi alam seperti suara burung hingga air mengalir untuk menyamarkan suara buang air. Tekanan air dan posisi yang diinginkan untuk disemprot pun bisa diatur. Yang paling membuatku terjengkang dari kursi toilet adalah ada tombol yang dapat menyemprotkan angin. Fungsinya untuk mengeringkan (maaf) pantat. Rasanya sangat aneh, seperti telanjang lalu terkena angin dari kipas. Susah untuk menjelasakannya kalau tidak dicoba sendiri.

Menariknya saat aku ke Jepang awal bulan Maret adalah, aku bisa merasakan dua musim berbeda di dua tempat. Saat berada di Fujikyuu Highland aku bisa merasakan salju. Tetapi saat di Tokyo, aku bisa menemukan bunga Sakura yang mulai mekar. Aku dan sahabatku melakukan tantangan berburu bunga Sakura. Karena masih peralihan dari musim dingin ke mesim semi, maka di beberapa tempat seperti Tokyo sudah lebih dulu menyambut musim semi. Dari beberapa taman yang ada di Tokyo, kita memilih Taman Ueno, yang merupakan salah satu taman terbesar di Tokyo.

Kami berkeliling di berbagai sudut Taman Ueno sampai pegal. Tapi akhirnya membuahkan hasil. Kami bisa menemukan beberapa pohon Sakura yang mulai mekar. Memang tidak sebanyak jika sudah benar-benar masuk musim semi, tetapi merupakan kebanggaan tersendiri bahwa kita bisa menyaksikan mekar pertamanya.

Karena menurut orang Jepang, bisa menyaksikan yang 'pertama' merupakan sebuah berkah seperti merasakan salju turun pertama atau melihat sakura mekar pertama. Karena pada dasarnya orang Jepang menghargai hal-hal seperti itu dan memang beberapa hari sebelumnya masih belum ada yang tumbuh.

Pada bulan Maret aku ke Jepang bertepatan dengan musim kelulusan sekolah. Kebetulan teman dari sahabatku ada yang diwisuda dari akademi bahasa di Fujinomiya sehingga aku ikut ke sana menyaksikan acara kelulusan murid-murid internasional.

Itu adalah ruang paling internasional yang pernah aku datangi selain bandara karena banyak sekali murid internasionalnya sampai aku tidak bisa menebak lagi mereka dari mana. Ini merupakan pengalaman berharga bisa ikut mengenal teman-teman dari berbagai negara asia bahkan eropa. Bahkan kita juga diundang di pesta kelulusan mereka. Seru sekali bisa ikut merayakan pesta ter-internasional-ku seumur hidup.

Tentu saja ada yang menarik perhatianku saat pesta. Dia adalah lelaki korea selatan yang cute. Aku melihat gelagat teman-teman baruku itu mendekatkan kami. Hmm yah, dia lumayan.

Tetapi dia tidak bisa bahasa inggris dan aku kurang lancar berbahasa Jepang. Jadinya kita berkomunikasi dengan bahasa Jepang campur Inggris campur bahasa tubuh. Kalau diingat-ingat itu pengalaman yang lucu saat ingin menyampaikan 'permisi mau buang air besar di toilet' dengan bahasa tubuh. Dan harapan romantisme petualang perempuan ala drama-drama korea, pupus sampai disitu.

Walau aku tidak ikut tour trip bersama rombongan, aku ditemani sahabatku juga mendatangi sendiri beberapa tempat ikonik untuk mengabadikan momen, seperti Akihabara, Shinjuku, Harajuku, Meiji Jingu, dan Kaminorimon Sensoji yang terkenal dengan lentera merahnya yang besar.

Menggapai Mimpi Liburan ke Jepang dengan Biaya Pas-pasan (2)

Lalu untuk gantinya bagaimana? Tenang saja. Di Jepang banyak toko second hand. Walaupun toko barang bekas tapi jangan dibayangkan toko yang lusuh, kotor, dan bau. Karena ini adalah Jepang, maka standar tokonya pun sesuai standar orang Jepang.

Tokonya normal seperti toko baju biasa, barang-barangnya tertata rapih dan masih dalam kondisi bagus, bersih, wangi dan harganya miring sekali. Fitting room juga disediakan, alhasil aku dan temanku menghabiskan tiga jam hanya untuk memilih-milih pakaian. Barang-barangnya pun tidak 100% bekas, banyak juga barang baru yang mungkin tidak laku di toko asal lalu dijual di toko seperti ini.

Karena saat aku ke Jepang masih akhir musim dingin, untuk coat aku mencari di Toko yang memberikan diskon besar. Aku mendapat coat seharga 780 yen saja. Jika memang berniat cari yang murah, banyak kok di Jepang barang yang murah. Di daerah Harajuku ada beberapa toko yang juga menjual second hand. Bisa dibilang hari pertamaku di Jepang hanya untuk belanja.

Untuk liburan di Jepang, hal dasar yang perlu dipersiapkan oleh para solo traveler adalah biaya transpotasi. Karena di Jepang hampir 95% mode transportasinya adalah transportasi umum, sediakan budget lumayan untuk isi saldo kartu transpotasi.

Kalau aku menggunakan kartu umum bukan wisata karena perjalananku tidak terlalu jauh sampai Kyoto atau Hokkaido. Selama seminggu aku menghabiskan dana satu setengah juta hanya untuk berkeliling Tokyo, Fujikyuu Highland dan Fujinomiya. Kartu transportasi ini bisa digunakan untuk naik kereta dan bus. Pastikan kartu yang dibawa selalu ada saldonya, karena kalau habis harus mengisi dulu di stasiun. Selain itu, pakailan sepatu yang nyaman dan tanpa hak karena di Jepang kalau kemana-mana harus jalan kaki. Jadi persiapkan fisik juga.

Dalam jadwal perjalananku, aku sengaja tidak memilih untuk ke Disney Land. Karena menurutku itu Disney Land sudah terlalu mainstream. Karena ini akan menjadi perjalanan sekali seumur hidup, maka aku memilih untuk ke Fujikyuu Highland.

Fujikyuu Highland merupakan taman wisata yang berada di kaki Gunung Fuji. Kita bisa menikmati banyak wahana-wahana paling ekstrim di dunia dengan latar pemandangan Gunung Fuji. Beberapa wahana yang terkenal diantaranya, Eejanaika yang merupakan roller coaster dengan putaran tiga ratus enam puluh derajat terbanyak di dunia, dan Takabisha yang merupakan roller coaster tercuram di dunia. Juga ada wahana yang lain namun karena saat itu angin yang bertiup cukup kencang, sehingga beberapa wahana ekstrim ditutup.

Padahal kami ingin sekali mencoba Fujiyama yang pernah menjadi roller coaster tercepat di dunia. Selain naik wahana ekstrem, aku dan sahabatku juga berfoto-foto di taman dan bangunan-bangunan yang instagramable. Karena masih akhir musim dingin dan awal musim semi, aku sempat merasakan salju turun saat mengantre naik wahana. Tidak kulewatkan momen itu untuk berfoto bersama tumpukan salju.

Suhu saat itu mencapai minus sepuluh derajat. Cuaca terdingin yang pernah aku rasakan, dan menjadi berkali-kali lipat lebih dingin saat menaiki roller coaster. Wajah terasa seperti ditampar angin kencang yang sangat dingin. Wajahku pun menjadi mati rasa.

Baru ketika roller coaster berhenti, temanku sontak tertawa terbahak-bahak melihat wajahku. Penumpang yang sedang antri pun ada yang menahan senyumnya saat melihatku. Aku pun lekas mencari barang apapun yang mengkilat yang bisa dibuat bercermin. Aku juga ikut tertawa terbahak- bahak melihat ingus yang keluar panjang melewati mulutku sampai ke dagu. Sangat menjijikkan, memalukan, sekaligus menggelikan. Sayangnya aku tidak bisa mengabadikannya karena semua barang bawaan dan alas kaki harus dititipkan di loker. Kami bermain dan berfoto sepuasnya hingga wahana tutup.