Jumat, 27 Desember 2019

Saat Penumpang Kereta Punya KTP Kembar dari Calo

Penjualan tiket angkutan massal masih tak bisa lepas dari serbuan calo atau para agen. Inilah sebuah cerita dari KAI yang menangkap calo.

Cerita seputar penumpang kereta api memang tak ada habisnya. Apalagi dengan adanya calo atau agen nakal yang membayang dalam tiap penjualan tiket.

Berbincang dengan detikcom, Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro menuturkan pengalaman menghadapi calo beberapa waktu lalu. Saat itu penjualan tiket masih dilakukan H-90.

"Saat tiket sudah bisa dipesan, para calo ini langsung beli banyak. Mereka gambling dengan memakai nama palsu," ujar Edi baru-baru ini.

Calon penumpang kereta api yang kehabisan tiket hanya punya dua pilihan, tidak berangkat sesuai waktu yang dijadwalkan atau beli di calo. Ternyata banyak penumpang yang memilih datang ke calo.

Sistem pembelian tiket kereta api sebenarnya sudah cukup ketat. Para penumpang harus menunjukkan kartu identitas untuk bisa membeli tiket. Namun ternyata para calo ini tak kehabisan akal.

"Jadi calon penumpang yang mau beli tiket ke calo harus pakai nama sesuai dengan tiket yang dibeli calo," ungkap Edi.

Lalu bagaimana dengan kartu identitas?

"Nah, para calo ini menyiapkan KTP palsu. Jadi ada tempatnya di sekitar stasiun buat foto dan nanti langsung ditempel ke KTP palsu," tutur Edi.

Hal ini mungkin terlihat aman. Tapi rupanya, para calo ini tak lebih pintar dari petugas.

"Saat itu petugas merasa ada yang aneh, kok penumpang namanya Bambang semua, terus alamat KTP-nya sama semua," lanjutnya.

Kemudian petugas mengamankan salah satu penumpang yang mencurigakan. Petugas mencoba untuk bertanya nama asli dari penumpang tersebut.

"Saya bilang, kalau hanya nama bisa bohong. Coba tes tanggal lahir sama alamatnya. Pasti tidak bisa jawab," ujar Edi.

Melihat penumpang yang gelagapan, KAI yakin pembelian tiket dilakukan oleh calo. Dari sinilah informasi didapatkan untuk menangkap calo yang berkeliaran.

Untuk traveler yang mau naik kereta api, lebih baik untuk menjadwalkan keberangkatan dari jauh-jauh hari dan membeli tiket langsung ke KAI ya! Jangan sampai tidak jadi liburan karena calo.

Leonardo DiCaprio Posting di Instagram Soal Komodo

Aktor ternama, Leonardo DiCaprio terkenal peduli dengan gerakan-gerakan pecinta lingkungan. Terbaru, dia memposting soal isu penutupan Pulau Komodo di NTT.

Isu penutupan Pulau Komodo masih menjadi polemik hingga kini. Digaungkan oleh Pemprov NTT dengan alasan konservasi, namun hingga kini keputusan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) selaku pemutus kebijakan belum memutuskan apapun.

Isu penutupan Pulau Komodo (yang direncanakan selama 1 tahun) pun menjadi perbincangan dunia. Terbaru, aktor Hollywood Leonardo DiCaprio memposting perihal itu di Instagram pribadinya.

Dilihat detikcom, Selasa (3/9/2019) baru-baru ini Leonardo DiCaprio me-repost (sering juga disebut regram) postingan Instagram dari portal berita The New York Times. Berisi tentang penutupan Pulau Komodo.

Dalam postingannya disebutkan, ada kekhawatiran jika Pulau Komodo tetap dijadikan sebagai destinasi wisata. Dinilai, habitat komodo sebagai hewan purba bisa terganggu bahkan punah.

Masalah sampah, perusakan lingkungan dan lainnya juga terjadi di Pulau Komodo. Itu dinilai dapat merusak ekosistem di sana.

Di lain sisi, penutupan Pulau Komodo mendapat pertentangan dari ribuan warga Desa Komodo yang tinggal di Pulau Komodo. Mereka yang sudah lama menetap di sana, jauh sebelum adanya taman nasional, serta menjaga habitat komodo.

Yang pasti, hingga kini belum ada keputusan resmi dari pemerintah mengenai penutupan Pulau Komodo. Sejauh ini, aktivitas wisata di sana pun berjalan normal.

Lewat Waisak, Toleransi Indonesia Dikagumi Masyarakat Dunia (3)

Saya sebagai orang yang hadir di tempat tersebut, walaupun bukan sebagai umat buddha pun ikut merasakan kehidmatan prosesi tersebut. Lantunan doa-doa yang dipanjatkan oleh biksu yang memimpin ibadah tersebut, ditambah dengan suara lonceng, dan berbagai ekspresi wajah dari peserta ibadah menjadi gambaran betapa tingginya tingkat religiusitas umat buddha hari itu.

Momen itu terus meningkat seiring malam semakin larut. Sekitar pukul 22.00 WIB semua orang yang berada di pelataran ibadah, biksu-biksu, hingga turis seperti gue, diharapkan untuk berkumpul di salah satu spot taman terbuka.

Hal tersebut menjadi tanda akan semakin mendekatnya Malam Waisak. Saya, Barly, dan Razan pun gamau ketinggalan. Setelah semua kumpul, dan duduk rapih, prosesi puncak pun dimulai. Salah satu biksu, membunyikan lonceng tanda untuk dimulainya acara ibadah. Doa demi doa pun di lantunkan, fokus isi doanya pun adalah soal kedamaian, dan harapan bagi Indonesia yang semakin diberkati dan damai.

Malam itu, bukan hanya milik umat buddha yang sedang menjalani ibadah dalam merayakan Waisak, namun umat islam pun saat itu sedang menjalani ibadah salat tarawih, karena memang sedang berada di bulan Ramadhan. Saat fokus untuk mendengarkan biksu berdoa dengan cara meditasi, saya juga mendengar sayup sayup khatib masjid yang baru saja selesai menunaikan salat memberikan pengumuman. kurang lebih isinya begini:

"Assalamualaikum, Warrahmatullahi Wabarakatuh. Jamaah Masjid yang dimuliakan Allah, hari ini saudara kita, umat buddha sedang merayakan Hari besar Waisak. Mari bersama kita doakkan agar acara tersebut berjalan lancar, dan diberikan kedamaian selama prosesi khidmat, Al Fatihah"

Kata-kata itu membuka mata saya, sekaligus menjawab pertanyaan selama ini soal toleransi di Indonesia. Dasarnya memang bangsa Indonesia itu sudah toleran dari sananya. Sambil gue fokus meditasi, gue sedikit emosional saat momen itu terjadi. Seolah Tuhan benar-benar menjawab pertanyaan saya soal toleransi dan Indonesia. Pertanyaan tersebut betul-betul dijawab kontan sama Tuhan.

Pelajaran penting perjalanan kali ini benar-benar soal toleransi. Ketika perbedaan agama bukan menjadi penghalang setiap umat manusia untuk hidup berdampingan dengan tetap menjaga nilainya masing-masing. Soal keadaan Indonesia yang akhir-akhir ini lagi seolah kurang ramah dengan perbedaan, sepertinya pelaku-pelaku intoleransi itu harus jalan-jalan, biar membuka pikirannya. Kita hidup dengan berbagai macam perbedaan.

Karena pemahaman berlebihan yang cenderung memaksakan kehendak soal nilai yang dianut agaknya tidak elok diterapkan di Indonesia. Oleh karena itu, saya mengangkat tema blog saya dengan istilah Jejak Kosmopolis. Agar siapapun yang membaca tulisan-tulisan gue ini mampu memahami betul betapa indahnya perbedaan nilai. Hargai, hormati, cintai, dan berbagi lah, dunia terlalu sempit,  jika cuma satu nilai yang dianut!

Soal traveling, Dubai pasti menjadi salah satu destinasi wisata terbaik di dunia, terutama soal lux traveling. Mulai dari restoran super mahalnya Salt Bae, terjun payung yang pasti super seru, burj khalifa, pulau buatan Palm Island, sampai mall yang besar dan mewah yaitu The Dubai Mall.

Semua menarik banget untuk di eksplor. Sebagai traveler yang selalu mencari sisi budaya, dan alam. Satu hal yang menarik untuk saya kunjungi di Dubai, yaitu Hatta. Daerah yang khusus diperuntukkan bagi wisata alam di Dubai.

Di sini, gue penasaran banget untuk liat sisi lain dari Dubai yang terkesan dengan segala kemewahannya. Jajaran pegunungan, danau, bendungan, serta udara segar. Pasti seru banget bisa main dan eksplor the other side of Dubai ini. Saya siap untuk pergi eksplor Dubai.