Sabtu, 08 Mei 2021

Kucing Bisa Mati Tertular COVID-19 dari Pemiliknya

 Seekor anak kucing di Inggris mati setelah tertular virus Corona dari pemiliknya. Fakta ini semakin menguatkan larangan para ahli agar pengidap COVID-19 tidak melakukan kontak fisik termasuk dengan hewan.

Para peneliti dari Veterinary Records menemukan dua ekor kucing terinfeksi virus Corona dari pemiliknya. Kucing-kucing itu berasal dari dua ras berbeda dan dari rumah tangga berbeda pula. Keduanya ditemukan saat skrining virus Corona di Inggris.


Salah satu kucing yang baru berusia empat bulan, mengalami pneumonia yang membuatnya kesulitan bernapas. Peneliti mengatakan, ditemukan SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19 pada paru-parunya. Mereka percaya hal itu kemungkinan telah memicu pneumonia yang membunuhnya.


Sedangkan kucing satunya lagi, berasal dari kota berbeda di Inggris, di mana pemiliknya dinyatakan positif mengidap COVID-19. Kucing tersebut dibawa ke dokter hewan dengan hidung meler dan konjungtivitis. Beruntung kucing yang ini sembuh total.


Dikutip dari Forbes, Senin (26/4/2021) riset yang dipublikasikan di Veterinary Record ini mengatakan saat ini tidak ada bukti penularan dari kucing ke manusia. Namun hewan bisa menjadi 'reservoir virus' atau pembawa penyakit yang memungkinkan penularan terus menerus.


Profesor Margaret Hosie selaku penulis utama studi ini mengatakan, hal tersebut menggarisbawahi perlunya melakukan lebih banyak penelitian tentang berbagai jenis penularan virus Corona.


Ini bukan pertama kalinya ditemukan hewan peliharaan mati setelah terinfeksi virus Corona. Sebelumnya, Amerika Serikat juga mencatat sejumlah kasus serupa. Sebelumnya, seekor anjing di Carolina Utara meninggal karena virus Corona pada Agustus lalu.

https://trimay98.com/movies/the-hidden-fortress/


Mirip Google, Huawei Kini Garap Software dan Cloud


- Huawei mengalihkan fokus bisnisnya ke area software, seperti cloud computing dan mobil pintar karena bisnis hardwarenya terus ditekan lewat berbagai sanksi dari Amerika Serikat.

Peralihan fokus ini terlihat dari beberapa produk Huawei yang dirilis belakangan. Seperti sistem mobil otonom yang dipakai oleh Arcfox, perusahaan pembuat mobil di bawah BAIC Group, yang merilis mobil dengan OS HarmonyOS, lengkap dengan teknologi mobil otomon garap raksasa asal China itu.


Huawei memang tak membuat mobil pintar, namun mereka fokus pada teknologi yang ada di balik mobil pintar tersebut, demikian dikutip detikINET dari CNBC, Senin (26/4/2021).


Kemudian sebelumnya Huawei juga merilis beberapa produk cloud computing baru untuk bersaing dengan pemimpin pasar di China, yaitu Alibaba. Harapannya adalah bisnis baru ini bisa meningkatkan proporsi pemasukan dari bisnis software dan layanan dalam pemasukan total Huawei.


"Nantinya hal ini akan meningkatkan proporsi dari bisnis software dan layanan kami dalam gabungan pemasukan total," tulis Huawei dalam pernyataan resminya.


Seperti diketahui, bisnis Huawei beberapa waktu belakangan memang tertekan. Yaitu karena berbagai sanksi yang mereka terima dari pemerintah AS, seperti masuknya nama mereka dalam Entity List, daftar perusahaan yang tak boleh berbisnis dengan perusahaan asal AS, juga tak bisa menggunakan teknologi asal Negeri Paman Sam tersebut.


"Huawei melipatgandakan peralihannya menjadi perusahaan software/cloud dan layanan. Dengan langkah seperti ini Huawei berubah menjadi seperti Google," ujar Neil Shah, direktur penelitian di Counterpoint Research.


Google adalah perusahaan yang ada di balik Android, sistem operasi paling banyak dipakai di ponsel pintar di seluruh dunia. Mereka juga menggarap software untuk mobil pintar, serta bisnis cloud computing yang bertumbuh sangat cepat.


HarmonyOS ini tampaknya akan menjadi 'Android-nya' Huawei, karena didesain untuk bisa dipakai di bermacam perangkat, dari mulai ponsel, TV, sampai mobil. Namun di ranah bisnis baru ini Huawei juga akan mendapat tantangan dari beberapa perusahaan China yang sudah menggarap sektor ini.


Contohnya Alibaba yang merupakan pemimpin pasar untuk bisnis cloud computing di China, sementara di sektor mobil pintar, ada sejumlah perusahaan yang sudah hadir lebih dulu, seperti Baidu, ataupun pemain baru seperti Xiaomi yang baru-baru ini menyatakan minatnya di sektor ini.

https://trimay98.com/movies/dirty-weekend-2/

Pemerintah Masih Kurang Kesadaran Privasi, Yes or No?

 - Keamanan data pribadi kini menjadi ancaman yang nyata dan ditakutkan banyak orang. Salah satu data specialist berani menyebut pemerintah dan swasta kurang sadar akan pentingnya privasi.

Ialah Nurvirta Monarizqa sarjana IT dari Universitas Gadjah Mada yang melanjutkan pendidikan Master Applied Urban Data Science and Informatics di New York University. Bagaimana tidak, berbagai kasus kebocoran data hingga pencurian identitas untuk mengajukan kredit makin kerap terangkat ke publik beberapa waktu terakhir.


"Disclaimer dan kayaknya perlu di-highlight, segimana kita usaha sebenarnya di Indonesia agak nggak ngefek karena orang pemerintah atau swasta banyak yang kurang kesadaran privasi," jelasnya kepada detikINET, Senin (26/5/2021).


Wanita yang akrab disapa Mona ini memberikan contoh masih banyak oknum customer service yang melakukan praktik jual data pelanggan. Dari hal-hal kecil yang pernah ia sarankan, Mona beranggapan itu hanya bisa mencegah kejadian sejenis sebanyak 10%.


"Semisal yang pernah aku tweet (tentang contoh pencegahan -- red), yaitu dengan cara sobek label shipping sebelum dibuang, lalu tidak memberi data diri walau ada teman yang request dan mohon-mohon karena ada target credit card atau pinjol," tutur Mona.


Ia menyinggung ada banyak contoh yang menunjukkan kurangnya perhatian pemerintah pada kesadaran privasi. Paling mencolok adalah ketika pemilu berlangsung, sejumlah kasus kebocoran data pun mencuat ke masyarakat.


"Contohnya banyak, pas pemilu kita bisa ngecek data diri/KTP kita jadi bisa di-scrap orang," tandasnya.


Karena itu detikers, nampaknya kita harus semakin sadar akan kerentanan keamanan data pribadi. Yuk, lakukan langkah pencegahan untuk terhindar dari kemungkinan menjadi korban.

https://trimay98.com/movies/jesus-4/


Kucing Bisa Mati Tertular COVID-19 dari Pemiliknya


Seekor anak kucing di Inggris mati setelah tertular virus Corona dari pemiliknya. Fakta ini semakin menguatkan larangan para ahli agar pengidap COVID-19 tidak melakukan kontak fisik termasuk dengan hewan.

Para peneliti dari Veterinary Records menemukan dua ekor kucing terinfeksi virus Corona dari pemiliknya. Kucing-kucing itu berasal dari dua ras berbeda dan dari rumah tangga berbeda pula. Keduanya ditemukan saat skrining virus Corona di Inggris.


Salah satu kucing yang baru berusia empat bulan, mengalami pneumonia yang membuatnya kesulitan bernapas. Peneliti mengatakan, ditemukan SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19 pada paru-parunya. Mereka percaya hal itu kemungkinan telah memicu pneumonia yang membunuhnya.


Sedangkan kucing satunya lagi, berasal dari kota berbeda di Inggris, di mana pemiliknya dinyatakan positif mengidap COVID-19. Kucing tersebut dibawa ke dokter hewan dengan hidung meler dan konjungtivitis. Beruntung kucing yang ini sembuh total.


Dikutip dari Forbes, Senin (26/4/2021) riset yang dipublikasikan di Veterinary Record ini mengatakan saat ini tidak ada bukti penularan dari kucing ke manusia. Namun hewan bisa menjadi 'reservoir virus' atau pembawa penyakit yang memungkinkan penularan terus menerus.


Profesor Margaret Hosie selaku penulis utama studi ini mengatakan, hal tersebut menggarisbawahi perlunya melakukan lebih banyak penelitian tentang berbagai jenis penularan virus Corona.


Ini bukan pertama kalinya ditemukan hewan peliharaan mati setelah terinfeksi virus Corona. Sebelumnya, Amerika Serikat juga mencatat sejumlah kasus serupa. Sebelumnya, seekor anjing di Carolina Utara meninggal karena virus Corona pada Agustus lalu.

https://trimay98.com/movies/jesus-3/