Senin, 08 Februari 2021

Update Vaksinasi 6 Februari: Sudah 777.096 Nakes Terima Vaksin COVID-19

 Per 6 Februari 2021, tercatat 777.096 tenaga kesehatan (nakes) di Indonesia sudah menerima vaksin COVID-19 tahap 1. Menurut laporan, angka ini sudah mencakup 49,66 persen dari total sasaran nakes penerima vaksin.

Dari laporan sebelumnya pada Jumat (5/2/2021), jumlah penerima vaksin tahap 1 hari ini bertambah sebanyak 2.212 nakes.


Angka hari ini merupakan akumulasi sejak vaksinasi pertama pada 13 Januari 2021 dengan penerima Presiden Joko Widodo. Saat ini, vaksinasi masih diprioritaskan untuk nakes. Pasalnya, merekalah yang berhadapan langsung dengan pasien COVID-19 sehingga memiliki risiko tertular yang tinggi.


Sedangkan untuk vaksin tahap 2, total penerima sebanyak 137.207 nakes, bertambah 16.482 sejak Jumat (5/2/2021). Kementerian Kesehatan klaim, angka ini sudah mencakup 8,77 persen dari total sasaran.


Tercatat, total target nakes penerima vaksin COVID-19 ada sebanyak 1.593.620 orang. Berikut rincian update penerima vaksin COVID-19 di Indonesia per 6 Februari 2021:


Total sasaran vaksin: 181.554.465 orang

Sasaran vaksinasi tenaga kesehatan: 1.593.620 orang

Vaksinasi tahap 1: 777.096 (+ 2.212 orang)

Vaksinasi tahap 2: 137.207 (+ 16 482 orang)


Data ini berdasarkan laporan di akun resmi Kementerian Kesehatan RI pukul 14.00, Sabtu (6/2/2021).

https://indomovie28.net/movies/the-secret-scripture/


Terpopuler Sepekan: Cara Bedakan Batuk Biasa dengan Batuk Akibat COVID-19


Batuk adalah salah satu gejala infeksi virus Corona COVID-19. Namun, karena batuk ini merupakan gejala yang sangat umum, kadang sulit untuk membedakan penyebabnya.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) demam, batuk, dan rasa letih jadi gejala yang paling banyak dialami oleh pasien virus Corona COVID-19. Pada beberapa pasien kadang juga muncul gejala sakit tenggorokan, nyeri, hilangnya fungsi indra penciuman dan pengecap, perubahan warna kulit, hingga diare.


Seorang mungkin tidak sadar gejala umum, seperti batuk, yang dialami merupakan tanda-tanda awal infeksi Corona. Bagaimana sih cara membedakannya?


Berikut contoh beda batuk biasa dengan batuk karena COVID-19:


1. Kemunculan batuk

Hal pertama yang harus kamu perhatikan adalah waktu kemunculan gejala batuk. Menurut spesialis paru-paru dr Budhi Imansyah, SpP, FISR, dari Primaya Hospital Bekasi Barat batuk karena COVID-19 muncul secara tiba-tiba tanpa penyebab yang jelas dengan terus-menerus.


Biasanya orang akan batuk karena beberapa hal, misalnya saat terpapar udara kotor atau karena kebiasaan merokok. Nah pada kasus infeksi COVID-19 batuk ini muncul tanpa penyebab tersebut.


2. Batuk kering

Batuk yang disebabkan karena COVID-19 biasanya tanpa disertai dahak atau sering disebut batuk kering. Aline M. Holmes dari Rutgers University School of Nursing mendeskripsikan soal batuk kering karena COVID-19 terdengar kasar atau berat dan berasal dari paru-paru bagian bawah.


Hanya saja, perlu untuk diketahui dalam beberapa kasus kadang ada juga COVID-19 yang gejalanya merupakan batuk basah. Menurut dr Budhi ini terjadi ketika infeksi sudah dalam tahap menimbulkan pneumonia sehingga paru-paru terisi oleh cairan peradangan.


3. Sesak napas

Batuk karena hal umum atau penyakit seperti pilek dan flu tidak sampai menimbulkan sesak napas. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyarankan agar segera mencari bantuan dari medis bila batuk-batuk sampai menimbulkan sesak napas.


"Ketahui tanda-tanda darurat dari COVID-19. Bila seseorang memiliki tanda-tanda ini maka segera cari bantuan medis," tulis CDC seperti dikutip dari situs resminya.


4. Gejala penyerta

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, infeksi COVID-19 dapat menimbulkan berbagai gejala. Bila batuk juga disertai gejala, seperti demam, nyeri, hilangnya fungsi indra penciuman dan perasa, diare, lelah, sakit kepala, hingga sakit tenggorokan maka bisa jadi itu gejala COVID-19.

https://indomovie28.net/movies/secret/

Cukai Rokok Jadi Pahlawan buat Negara, Ini Buktinya

 Cukai hasil tembakau (CHT) alias cukai rokok memiliki peran penting bagi negara. Keberadaan cukai rokok dapat meningkatkan pendapatan pemerintah.

Berdasarkan catatan detikcom yang ditulis Minggu (7/2/2021), pendapatan dari cukai rokok pernah untuk menambal defisit BPJS Kesehatan yang sedang mengalami kesulitan dalam neraca keuangannya.


Pada 2018 BPJS Kesehatan mengalami defisit anggaran mencapai Rp 16,5 triliun. Akhirnya pemerintah memutuskan untuk memberikan suntikan dana dari hasil pendapatan cukai rokok.


Aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 113 Tahun 2018 tentang Tata Cara Penyediaan Pencairan dan Pertanggungjawaban Dana Cadangan Program Jaminan Kesehatan Nasional. Dari aturan itu pemerintah akan menyuntikkan dana Rp 4,9 triliun.


Nilai yang diambil untuk dana talangan BPJS Kesehatan adalah 75% dari separuh pajak yang didapat. Cukai rokok yang diterima tahun 2018 sendiri mencapai Rp 159,6 triliun.


Bila dilihat dalam laporan realisasi APBN, selama sepuluh tahun terakhir realisasi penerimaan cukai memang hampir selalu mencapai target, kecuali pada 2015 dan 2016. Pendapatan cukai pada 2019 adalah sebesar Rp 172,4 triliun, meningkat 8,04% dibandingkan pada 2018.


Pendapatan cukai didominasi pendapatan cukai hasil tembakau yaitu sekitar 96%. Dalam APBN 2021, pemerintah mematok penerimaan cukai sebesar Rp 180 triliun. Secara spesifik, target penerimaan cukai hasil tembakau pada 2021 sebesar Rp 173,78 triliun atau lebih tinggi 5,3% dibanding target tahun 2020 senilai Rp 164,94 triliun.


Tarif cukai hasil tembakau telah meningkat 62,04% sejak 2015 dengan rincian rata-rata pada 2015 sebesar 8,72% diikuti pada 2016, 2017, 2018, 2020 berturut turut sebesar 11,19%, 10,54%, 10,04%, 21,55%. Pada 2019, pemerintah tidak menaikkan tarif cukai rokok. Kenaikan tarif cukai hasil tembakau pada 2021 lebih rendah daripada tahun 2020.


Dari aspek penerimaan negara, cukai rokok dibilang cukup berkontribusi. Industri rokok menyumbang 1,66% total Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia, dan devisa negara melalui ekspor ke dunia nilainya pada 2013 mencapai US$ 700 juta.


Selain itu, industri rokok juga menjadi sumber penghidupan bagi 6,1 juta orang yang bekerja di industri rokok secara langsung dan tidak langsung, termasuk 1,8 juta petani tembakau dan cengkeh.


Tidak hanya itu, di dalam negeri peranan rokok sebagai sumber pemasukan negara juga cukup besar. Penerimaan negara dari sektor bea dan cukai tahun 2013 lalu tercatat Rp 108,45 triliun. Dari jumlah tersebut, cukai hasil tembakau dan rokok masih mendominasi dengan angka mencapai Rp 103,53 triliun.

https://indomovie28.net/movies/secrets/


Update Vaksinasi 6 Februari: Sudah 777.096 Nakes Terima Vaksin COVID-19


Per 6 Februari 2021, tercatat 777.096 tenaga kesehatan (nakes) di Indonesia sudah menerima vaksin COVID-19 tahap 1. Menurut laporan, angka ini sudah mencakup 49,66 persen dari total sasaran nakes penerima vaksin.

Dari laporan sebelumnya pada Jumat (5/2/2021), jumlah penerima vaksin tahap 1 hari ini bertambah sebanyak 2.212 nakes.


Angka hari ini merupakan akumulasi sejak vaksinasi pertama pada 13 Januari 2021 dengan penerima Presiden Joko Widodo. Saat ini, vaksinasi masih diprioritaskan untuk nakes. Pasalnya, merekalah yang berhadapan langsung dengan pasien COVID-19 sehingga memiliki risiko tertular yang tinggi.


Sedangkan untuk vaksin tahap 2, total penerima sebanyak 137.207 nakes, bertambah 16.482 sejak Jumat (5/2/2021). Kementerian Kesehatan klaim, angka ini sudah mencakup 8,77 persen dari total sasaran.


Tercatat, total target nakes penerima vaksin COVID-19 ada sebanyak 1.593.620 orang. Berikut rincian update penerima vaksin COVID-19 di Indonesia per 6 Februari 2021:


Total sasaran vaksin: 181.554.465 orang

Sasaran vaksinasi tenaga kesehatan: 1.593.620 orang

Vaksinasi tahap 1: 777.096 (+ 2.212 orang)

Vaksinasi tahap 2: 137.207 (+ 16 482 orang)


Data ini berdasarkan laporan di akun resmi Kementerian Kesehatan RI pukul 14.00, Sabtu (6/2/2021).

https://indomovie28.net/movies/official-secrets/