Jumat, 15 Januari 2021

Kisah Wanita Dinyatakan Meninggal Padahal Masih Hidup, Hidupnya Jadi Hancur

 Seorang wanita asal Perancis berusia 58 tahun selama tiga tahun belakangan ini harus berjuang memperoleh kembali status kehidupannya. Pasalnya pada November 2017 dia dinyatakan telah meninggal dunia oleh pihak pengadilan.

Seperti dikutip dari Oddity Central, wanita bernama Jeanne Pouchain itu berusaha menyatakan bahwa dirinya masih hidup dan sehat. Kabar kematiannya tersebut saat itu diberikan oleh salah satu mantan karyawannya yang tengah berselisih dengannya. Anehnya, semua orang langsung percaya, padahal mantan karyawannya itu tidak memberikan bukti apapun.


"Itu cerita yang gila. Saya tidak percaya itu. Saya tidak pernah berpikir bahwa hakim akan menyatakan seseorang mati tanpa sertifikat," jelas pengacara Pouchain, Sylvain Cormier.


Kasus Pouchain itu bermula pada tahun 2000, saat perusahaan kebersihan miliknya terpaksa harus memecat beberapa karyawan karena kehilangan sebuah kontrak besar. Pada tahun 2004, pihak pengadilan lalu meminta perusahaan milik Pouchain untuk membayar ganti rugi kepada karyawan yang dipecatnya sebesar Rp 240 juta. Namun pada kenyataannya keputusan tersebut tidak pernah terlaksana.


Lima tahun kemudian, mantan karyawannya itu mencoba menuntut Pouchain namun gagal. Pada tahun 2016 kasus tersebut kembali diajukan. Mantan karyawannya itu menyebut bahwa Pouchain telah meninggal, sehingga meminta penerusnya, yaitu suami dan putranya untuk membayar ganti rugi.


Mantan karyawan dan pengacaranya itu mengatakan bahwa Pouchain lah yang harus disalahkan karena telah menolak menjawab korespondensi dan berusaha menghindari litigasi. Dia mengatakan kepada pihak pengadilan bahwa mantan bosnya itu tidak menjawab surat-suratnya dan telah meninggal.


Karena hal itu hidup Pouchain kini hancur berantakan. Namanya telah dihapus dari catatan sipil, tidak bisa memiliki KTP, SIM, rekening bank, dan asuransi kesehatan. Bahkan saat ini dirinya sampai takut untuk pergi ke luar. Dia takut jika saat pergi ke luar seseorang akan memintanya untuk memperlihatkan kartu identitasnya.


Saat ini kasus Pouchain masih dalam proses. Belum dapat dipastikan sampai kapan Pouchain dan pengacaranya itu harus terus berjuang demi mengembalikan statusnya yang masih hidup.

https://tendabiru21.net/movies/walk-of-shame/


Efikasi Vaksin Sinovac di Brasil Merosot ke 50,4 Persen, Ini Kata Satgas


Uji coba vaksin Corona Sinovac di Brasil banyak disorot usai efikasi vaksin diperbaharui. Sebelumnya, efikasi diklaim mencapai 78 persen, tetapi kini disebut hanya mencapai 50,4 persen.

Juru bicara vaksinasi dari Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito ikut menanggapi hal ini. Ia menegaskan data uji klinis seluruh vaksin yang berkembang terus dipantau termasuk vaksin Corona Sinovac di Brasil.


"Kita terus memantau uji coba vaksin corona di dunia terutama vaksin yang masih dalam tahap uji klinis," jelasnya dalam konferensi pers secara live Kamis (14/1/2021).


"Berdasarkan artikel Science Magz, efikasi 50,4 persen vaksin Corona Sinovac di Brasil didapatkan setelah mendapat keseluruhan data uji klinis vaksin termasuk memasukkan kasus COVID-19 bergejala ringan dan tidak membutuhkan perawatan klinis di rumah sakit dalam perhitungan," lanjutnya.


Disinggung terkait cukupkah efikasi vaksin Corona Sinovac di Indonesia 65,3 persen memicu kekebalan kelompok atau herd immunity, Prof Wiku optimis hal tersebut bisa dicapai. Ia menegaskan langkah proteksi terbaik dari Corona terpenting tetap mengedepankan protokol kesehatan dijalankan.


"WHO sudah menetapkan minimal efikasi vaksin Corona di atas 50 persen, dan kita tahu mungkin efikasi vaksin Corona Sinovac yang lebih rendah membutuhkan lebih banyak orang untuk divaksin, itu tantangan bagi Indonesia," tegasnya.

https://tendabiru21.net/movies/smiley-face/

Pria Tega Habisi Nyawa Keluarganya karena Takut Ketahuan Bohong Soal Kuliah

 Seorang pria berusia 23 tahun tega membunuh seluruh anggota keluarganya hanya demi menjaga rahasia yang selama bertahun-tahun telah ditutupinya. Akibat perbuatannya itu, sang pria kini didakwa dengan empat tuduhan pembunuhan.

Seperti dikutip dari Mirror, pria bernama Menhaz Zaman itu awalnya dikenal sebagai anak yang baik. Menhaz tinggal bersama kedua orangtuanya, Monirus, 59 tahun, dan Momotaz, 50 tahun, saudara perempuannya, Malesa, 21 tahun, dan neneknya, Firoza Begum, 70 tahun, di Markham, Ontario.


Kedua orangtuanya berasal dari Bangladesh yang pindah ke Kanada untuk memperoleh pekerjaan lebih baik. Sama seperti kebanyakan orangtua, Monirus dan Momotaz juga sering membanggakan anak mereka kepada para kerabatnya. Mereka selalu mengatakan bahwa Menhaz adalah anak yang baik yang selalu mengutamakan keluarganya dan akan segera lulus dengan memperoleh gelar teknik.


Seharusnya upacara kelulusan Menhaz akan berlangsung pada 28 Juli 2019. Bahkan sebelumnya keluarga Menhaz juga sudah merencanakan pendidikan lanjutan S2 untuknya. Namun ternyata ada rahasia besar yang disembunyikan Menhaz selama bertahun-tahun yang membuat rencana tersebut tak bisa terlaksana.


Selama beberapa tahun belakangan Menhaz sebenarnya telah memalsukan kuliahnya. Dia hanya berpura-pura untuk pergi ke tempatnya berkuliah, York University, setiap hari. Padahal dia telah gagal mengikuti kelas di awal perkuliahannya. Walaupun telah diberikan kesempatan untuk mengulang, namun sayang itu tetap tidak berhasil. Akhirnya pada tahun 2015, setelah melewati beberapa semester, Menhaz pun memutuskan keluar dari tempatnya berkuliah.

https://tendabiru21.net/movies/hunting-list/


Tapi Menhaz tak pernah mengatakan hal itu kepada keluarganya. Dia tetap pergi setiap hari dengan menenteng tas laptopnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Namun sebenarnya bukan kampus yang menjadi tempat perhentiannya, melainkan tempat sepi yang bisa digunakannya sebagai tempat bermain video game. Belakangan Menhaz juga mengisi waktunya dengan pergi ke mall atau tempat gym.


Menjelang hari kelulusannya tiba, orangtua Menhaz tentu menjadi sangat bersemangat dan senang. Namun hal itu menjadi malapetaka bagi Menhaz karena dia tahu bahwa rahasia besarnya sebentar lagi akan terbongkar. Selama tiga tahun Menhaz sendiri telah mencari bagaimana cara untuk mempertahankan kebohongannya itu. Sampai akhirnya tiba saatnya dimana dia sudah tak bisa lagi mengelak.


Alih-alih berkata jujur, Menhaz justru lebih memilih mempertahankan kebohongannya dan menghabisi nyawa seluruh anggota keluarga yang tinggal bersamanya. Pada 27 Juli, satu hari sebelum acara kelulusan, Menhaz membunuh ibunya dengan menggunakan lingis dan menggorok lehernya dengan pisau dapur. Satu jam kemudian dia melakukan hal yang sama kepada sang nenek.


Setelah melakukan aksi tak terpujinya itu, Menhaz lalu bermain game selama berjam-jam dan tidur siang sambil menunggu saudara perempuannya pulang. Ketika saudaranya pulang, Menhaz langsung memukul kepalanya dan menggorok lehernya. Dia lalu kembali menunggu sang ayah dan melakukan hal yang sama kepada ayahnya itu.


Setelah menghabisi nyawa seluruh keluarganya, Menhaz tidak kabur ataupun menelepon 911. Dia justru mulai berbicara dengan teman game onlinenya dan menceritakan apa yang telah dilakukannya. Awalnya teman-temannya itu mengira bahwa Menhaz hanya bercanda. Namun kemudian Menhaz mengirimkan bukti foto gambar mayat ke beberapa temannya dan foto selfie dirinya tengah memegang pisau.


Merasa khawatir, teman-teman onlinenya itu langsung menghubungi pihak berwenang dan melaporkan aksi Menhaz. Kini Menhaz pun ditangkap atas dakwaan empat tuduhan pembunuhan. Dia mengaku telah membunuh keluarganya karena tak ingin mereka mengetahui kebohongannya tersebut.

https://tendabiru21.net/movies/blood-in-the-water/