Senin, 14 Desember 2020

15 Gejala Virus Corona yang Telah Ditemukan, Termasuk Delirium dan Sakit Mata

 Gejala virus Corona yang dialami tiap pasien berbeda-beda. Ada yang hanya mengalami gejala ringan tapi tak sedikit juga mengembangkan gejala berat hingga harus dirawat di rumah sakit.

Sejak COVID-19 pertama kali ditemukan di akhir Desember 2019, para ilmuwan terus mempelajari virus tersebut termasuk gejala yang ditimbulkannya. Sejumlah studi telah dilakukan pada pasien COVID-19 untuk mengenali sejumlah gejala baru yang timbul pada sebagian besar pasien.


Seperti yang diketahui, setiap pasien bisa mengembangkan gejala yang berbeda. Beberapa bahkan dilaporkan tidak mengalami gejala sama sekali.


Dikutip dari laman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), berikut gejala COVID-19 yang diidentifikasi.


Gejala paling umum:

Demam

Batuk kering

Kelelahan

Baca juga: Mual-Diare Bisa Jadi Gejala COVID-19, Ini Bedanya dengan Sakit Perut Biasa

Gejala tidak biasa:

Nyeri otot

Sakit tenggorokan

Diare

Konjungtivitas atau peradangan mata

Sakit kepala

Anosmia

Ruam pada kulit atau perubahan warna jari tangan dan kaki

Gejala berat dan serius:

Sesak napas

Nyeri dada

Kehilangan kemampuan berbicara atau bergerak

Gejala virus Corona terbaru:

Delirium

Penelitian terbaru terkait gejala COVID-19 yang dipublikasikan pada November lalu menemukan delirium sebagai salah satu gejala awal infeksi COVID-19, khususnya pada kelompok lansia. Delirium adalah suatu kondisi di mana seseorang mengalami kebingungan berat serta berkurangnya kesadaran.


"Delirium adalah keadaan kebingungan di mana seseorang merasa tidak terhubung dengan kenyataan, seolah sedang bermimpi," kata Javier Correa, peneliti dari University of Catalonia (UOC).


Studi dalam Journal of Clinical Immunology and Immunotherapy mempelajari kaitan delirium sebagai gejala COVID-19 dengan virus Corona yang memengaruhi kinerja otak sebagai sistem saraf pusat. Para peneliti menemukan adanya indikasi bahwa COVID-19 juga memengaruhi sistem saraf pusat dan mengakibatkan perubahan neurokognitif, seperti sakit kepala dan delirium.


Sakit mata

Sakit mata menambah daftar terbaru gejala COVID-19. Hal ini berdasarkan beberapa studi yang menemukan kaitan antara kondisi mata dan infeksi COVID-19.


Studi yang dimuat dalam jurnal BMJ Open Ophthalmology menemukan sakit mata lebih umum terjadi ketika pasien mengidap COVID-19 dan sebelum tertular. Peneliti membagikan kuesioner kepada 83 responden, menanyakan seberapa sering gejala COVID-19 sakit mata terjadi.


"Meskipun penting bahwa gejala mata dimasukkan dalam daftar kemungkinan gejala COVID-19, kami berpendapat bahwa sakit mata harus menggantikan 'konjungtivitis' karena penting untuk membedakan dari gejala jenis infeksi lain, seperti infeksi bakteri, yang mana bermanifestasi sebagai keluarnya lendir atau mata berpasir," jelas para peneliti.


Sekitar 18 persen orang yang terlibat dalam penelitian melaporkan fotofobia (sensitivitas cahaya) sebagai salah satu gejalanya.

https://movieon28.com/movies/letter-from-death/


5 Negara Ini Gratiskan Vaksin COVID-19 untuk Warganya, Bagaimana di Indonesia?


 Vaksin COVID-19 menjadi salah satu cara yang disebut efektif mengakhiri pandemi Corona yang saat ini telah menginfeksi lebih dari 70 juta orang di seluruh dunia.

Seperti yang diketahui, ada beberapa kandidat vaksin Corona yang terbukti efektif mencegah penularan. Dengan terbitnya hasil akhir dari uji klinis fase 3 dari vaksin COVID-19, banyak negara berbondong-bondong memesan untuk disuntikan kepada warganya.


Sederet negara dilaporkan akan menggratiskan vaksin COVID-19 untuk seluruh warganya. Bagaimana di Indonesia?


Pemerintah Indonesia membuat dua skema pemberian vaksin COVID-19 yakni vaksin program untuk kelompok tertentu yang akan diberikan secara gratis dan vaksin Corona mandiri atau berbayar.


Untuk vaksin program, sasaran penerima sekitar 32 juta orang. Kelompok penerima vaksin ini adalah tenaga kesehatan, pelayan publik termasuk TNI/Polri, dan peserta BPJS Kesehatan PBI. Mereka yang berada dalam kelompok ini tidak dibebankan biaya vaksinasi.


Untuk program vaksinasi mandiri yang kelompok penerimanya adalah masyarakat dan pelaku ekonomi, jumlah orang yang nantinya akan disuntik vaksin berada di angka 75 juta orang.


Di samping itu, ada beberapa negara yang sudah memastikan akan memberikan vaksin COVID-19 secara gratis kepada seluruh warganya. Berikut daftar negara yang memberikan vaksin COVID-19 gratis seperti dirangkum detikcom dari berbagai sumber.

https://movieon28.com/movies/wedding-partner/

5 Cara Jitu Agar Punya Pola BAB Teratur Tiap Pagi

  Buang air besar (BAB) secara teratur menandakan sistem pencernaan yang sehat. Selain faktor diet dan kondisi pergerakan usus, kebiasaan juga menentukan teratur atau tidaknya jadwal BAB.

Beberapa orang punya rutinitas BAB tiap pagi atau pada waktu-waktu tertentu. Namun pada beberapa orang yang lain, munculnya hasrat BAB tidak pernah bisa diperkirakan apalagi direncanakan.


Agar terbiasa BAB secara teratur pada waktu yang tepat, ada beberapa cara yang bisa dilakukan seperti dirangkum dari Livestrong.


1. Kenali diet yang tepat

Beberapa jenis makanan bisa membuat BAB lebih lancar, sehingga memungkinkan untuk melakukannya secara teratur. Buah dan sayur yang kaya serat adalah nutrisi penting yang mendukung pola BAB yang lebih teratur.


2. Turuti keinginan BAB

Tidak menunda BAB saat dorongan itu muncul, akan membantu membentuk pola BAB yang normal dan alamiah. Demikian juga jika belum waktunya BAB, jangan terlalu dipaksakan. Makin lancar pola BAB, makin mudah untuk dibiasakan.


3. Bangun pagi

Hasrat ingin BAB di pagi hari terkadang diabaikan karena harus buru-buru beraktivitas. Bangun lebih pagi akan membuat pikiran lebih rileks, memberi kesempatan bagi sistem pencernaan untuk mengikuti pola alamiahnya.


4. Tidak perlu dipaksakan

Jika sudah bangun pagi tetapi belum juga merasa ingin BAB, tidak perlu dipaksakan. Berlama-lama jongkok maupun duduk di toilet juga akan berdampak buruk bagi area panggul. Ulangi saja keesokan paginya.


5. Sarapan

Karena tidak merasa lapar, seringkali seseorang memilih tidak sarapan. Jika ingin rutin BAB di pagi hari, tidak ada salahnya mencoba rutin sarapan dulu. Mengisi perut bukan hanya karena lapar, tetapi merangsang kontraksi dan pergerakan usus agar BAB lebih lancar dan teratur.

https://movieon28.com/movies/malik-elsa/


15 Gejala Virus Corona yang Telah Ditemukan, Termasuk Delirium dan Sakit Mata


 Gejala virus Corona yang dialami tiap pasien berbeda-beda. Ada yang hanya mengalami gejala ringan tapi tak sedikit juga mengembangkan gejala berat hingga harus dirawat di rumah sakit.

Sejak COVID-19 pertama kali ditemukan di akhir Desember 2019, para ilmuwan terus mempelajari virus tersebut termasuk gejala yang ditimbulkannya. Sejumlah studi telah dilakukan pada pasien COVID-19 untuk mengenali sejumlah gejala baru yang timbul pada sebagian besar pasien.


Seperti yang diketahui, setiap pasien bisa mengembangkan gejala yang berbeda. Beberapa bahkan dilaporkan tidak mengalami gejala sama sekali.


Dikutip dari laman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), berikut gejala COVID-19 yang diidentifikasi.


Gejala paling umum:

Demam

Batuk kering

Kelelahan

Baca juga: Mual-Diare Bisa Jadi Gejala COVID-19, Ini Bedanya dengan Sakit Perut Biasa

Gejala tidak biasa:

Nyeri otot

Sakit tenggorokan

Diare

Konjungtivitas atau peradangan mata

Sakit kepala

Anosmia

Ruam pada kulit atau perubahan warna jari tangan dan kaki

Gejala berat dan serius:

Sesak napas

Nyeri dada

Kehilangan kemampuan berbicara atau bergerak

Gejala virus Corona terbaru:

Delirium

Penelitian terbaru terkait gejala COVID-19 yang dipublikasikan pada November lalu menemukan delirium sebagai salah satu gejala awal infeksi COVID-19, khususnya pada kelompok lansia. Delirium adalah suatu kondisi di mana seseorang mengalami kebingungan berat serta berkurangnya kesadaran.


"Delirium adalah keadaan kebingungan di mana seseorang merasa tidak terhubung dengan kenyataan, seolah sedang bermimpi," kata Javier Correa, peneliti dari University of Catalonia (UOC).


Studi dalam Journal of Clinical Immunology and Immunotherapy mempelajari kaitan delirium sebagai gejala COVID-19 dengan virus Corona yang memengaruhi kinerja otak sebagai sistem saraf pusat. Para peneliti menemukan adanya indikasi bahwa COVID-19 juga memengaruhi sistem saraf pusat dan mengakibatkan perubahan neurokognitif, seperti sakit kepala dan delirium.

https://movieon28.com/movies/tarung-sarung/