Rabu, 11 November 2020

COVID-19 Makin Banyak Serang Pemuda, WHO Ingatkan Bahaya Jangka Panjang

  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan epidemiologi mingguan terbaru menyebut bahwa saat ini pandemi COVID-19 lebih banyak menyerang kelompok usia muda.

Dalam laporan epidemiologi per 1 November, kasus COVID-19 pada kelompok usia 15-24 tahun disebut kini berkontribusi terhadap 14 persen total kasus dari yang tadinya hanya sekitar 4 persen di awal pandemi. Sementara kasus COVID-19 pada kelompok usia 25-64 tahun berkontribusi terhadap 65 persen total kasus dari yang tadinya sekitar 50 persen di awal pandemi.


WHO mengingatkan agar para pemuda tidak menganggap remeh risiko infeksi COVID-19. Memang sebagian besar orang akan sembuh, namun ada risiko bahwa mereka yang terinfeksi COVID-19 bisa mengalami efek jangka panjang.


"Dibandingkan dari awal pandemi, terlihat penambahan proporsi kasus terkonfirmasi pada kelompok usia muda dan pengurangan proporsi kasus pada kelompok 65 tahun ke atas," tulis akun Twitter WHO seperti dikutip pada Kamis (5/11/2020).


"Penting diingat bahwa meski sebagian besar orang akan sembuh setelah 4-6 minggu, mulai banyak dokumentasi bermunculan menunjukkan efek jangka panjang bahkan pada kelompok muda dan yang tidak berisiko," lanjutnya.


Per tanggal 1 November, WHO mencatat kasus COVID-19 yang terkonfirmasi di dunia telah mencapai hampir 46 juta kasus dengan total kematian mencapai sekitar 1,2 juta orang. Dalam sepekan bisa terdapat lebih dari 3,3 juta kasus baru.

https://indomovie28.net/movies/romantic-warriors/


DBD Menyerang di Tengah Pandemi COVID-19, 9 Meninggal di Klaten


Di tengah pandemi COVID-19 yang belum mereda, sembilan orang warga Klaten meninggal dunia karena gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang menyebarkan demam berdarah dengue (DBD). Kasus DBD tahun ini terjadi peningkatan kasus kematian dibandingkan sebelumnya.

"Ada sembilan yang meninggal sampai bulan Oktober 2020. Dibandingkan tahun lalu ya memang meningkat," ungkap Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Klaten dokter Cahyono Widodo pada detikcom, Kamis (5/11/2020) saat berada di Kecamatan Klaten Tengah.


Cahyono menjelaskan kemungkinan angka terus meningkat bisa saja terjadi sebab saat ini masuk musim hujan. Antisipasi terus dilakukan di semua tingkatan.


"Semoga tidak ada peningkatan. Kita antisipasi memantau terus dan memberikan penyadaran pada masyarakat serta kita siapkan tenaga kesehatan di Puskesmas dan RS," lanjut Cahyono.


Menurut Cahyono, di masa pandemi COVID membuat masyarakat terlena. Tidak menyadari jika penyakit lainnya juga masih ada dan berbahaya.


"Kemarin kadang kita terlena. Ternyata di masa pandemi masih ada penyakit lain yang butuh diperhatikan sebab jika tidak juga membahayakan," kata Cahyono.


Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Pemkab Klaten, dokter Anggit Budiarto mengatakan tahun ini terjadi peningkatan kasus DBD. Jumlahnya cukup signifikan sebab belum akhir tahun.


"Untuk DBD sampai Minggu ini seperti yang dilaporkan ada 368 dengan meninggal sembilan orang. Iya, angka lebih tinggi dari tahun lalu," jelas Anggit pada detikcom di kantornya.

https://indomovie28.net/movies/here-alone/

Gairah Seks Melempem? Begini Mengatasinya

 Jika hubungan seks dengan pasangan bisa dihitung dengan jari, mungkin itu gejala libido rendah. Siklus yang baik untuk bercinta adalah munculnya respons seksual, diikuti oleh gairah (kegembiraan), orgasme, dan resolusi (tubuh kembali berfungsi normal).

Gangguan hasrat seksual bukanlah sebuah masalah besar. Biasanya hal itu terjadi apabila kurangnya dorongan seks karena tekanan pribadi atau ada masalah dengan pasangan. Berkomunikasi dengan pasangan dapat membantu menyelesaikan masalah ini.


Dikutip dari Insider, seorang terapis seks dan asisten profesor psikiatri di Fakultas Kedokteran David Geffen UCLA, Kimberly Resnick Anderson mengatakan beberapa penyebab gangguan hasrat seksual:


1. Faktor biologis/fisiologis

Sejumlah kondisi medis dapat menurunkan libido, seperti diabetes, penyakit jantung, gangguan hormon, nyeri kronis, dan gangguan saluran kemih. Mengonsumsi obat untuk mengatasi depresi juga dapat menurunkan keinginan seks.


Untuk wanita mungkin terpengaruh oleh menopause, sedangkan pria mengalami penurunan testosteron atau masalah yang mempengaruhi aliran darah (bisa juga karena obesitas, merokok, atau kurang olahraga).


2. Faktor psikososial

Dorongan seks seseorang dapat dipengaruhi oleh kualitas hubungan mereka dengan pasangan seperti komunikasi yang buruk, trauma masa lalu, stres, ketakutan akan penuaan, dan depresi.


Bagaimana mengatasinya? Klik halaman berikut.


Tak perlu cemas, penyebab di atas dapat diatasi dengan solusi berikut:


1. Berobat dengan dokter

Jika Anda atau pasangan khawatir tentang kurangnya libido, segera pergi ke dokter untuk pemeriksaan menyeluruh dan memastikan ada atau tidaknya penyakit yang serius.


2. Konsultasi dengan terapis atau konsultan seks

Para pekerja profesional ini akan membantu pasien mencari tahu apa yang menghalangi keinginan mereka. Dalam beberapa kasus, terapis dan dokter bekerja sama untuk mengatasi masalah fisik, emosional, dan psikologis yang terjalin.


Terapis juga akan membantu penyelesaian komunikasi dengan pasangan, apakah karena rendahnya libido atau masalah lain seperti gangguan depresi dan kecemasan yang berlebihan.


3. Meditasi orgasme

Dengan saling menyentuh pasangan selama 15 menit, membantu pasutri untuk saling melepaskan gairah seksual dalam tubuh dan belajar untuk mengkomunikasikan kebutuhannya dengan pasangan.

https://indomovie28.net/movies/the-raking/


COVID-19 Makin Banyak Serang Pemuda, WHO Ingatkan Bahaya Jangka Panjang


 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan epidemiologi mingguan terbaru menyebut bahwa saat ini pandemi COVID-19 lebih banyak menyerang kelompok usia muda.

Dalam laporan epidemiologi per 1 November, kasus COVID-19 pada kelompok usia 15-24 tahun disebut kini berkontribusi terhadap 14 persen total kasus dari yang tadinya hanya sekitar 4 persen di awal pandemi. Sementara kasus COVID-19 pada kelompok usia 25-64 tahun berkontribusi terhadap 65 persen total kasus dari yang tadinya sekitar 50 persen di awal pandemi.


WHO mengingatkan agar para pemuda tidak menganggap remeh risiko infeksi COVID-19. Memang sebagian besar orang akan sembuh, namun ada risiko bahwa mereka yang terinfeksi COVID-19 bisa mengalami efek jangka panjang.


"Dibandingkan dari awal pandemi, terlihat penambahan proporsi kasus terkonfirmasi pada kelompok usia muda dan pengurangan proporsi kasus pada kelompok 65 tahun ke atas," tulis akun Twitter WHO seperti dikutip pada Kamis (5/11/2020).


"Penting diingat bahwa meski sebagian besar orang akan sembuh setelah 4-6 minggu, mulai banyak dokumentasi bermunculan menunjukkan efek jangka panjang bahkan pada kelompok muda dan yang tidak berisiko," lanjutnya.


Per tanggal 1 November, WHO mencatat kasus COVID-19 yang terkonfirmasi di dunia telah mencapai hampir 46 juta kasus dengan total kematian mencapai sekitar 1,2 juta orang. Dalam sepekan bisa terdapat lebih dari 3,3 juta kasus baru.

https://indomovie28.net/movies/bitter-harvest/