Senin, 21 September 2020

Kata WHO Soal Penularan Virus Corona dari Makanan

 Otoritas China telah secara aktif memeriksa seluruh produk impor dan makanan beku. Kasus temuan patogen COVID-19 di kemasan makanan beku juga dilaporkan otoritas China pada Juli lalu di mana Biro Keamanan Pangan Impor dan Ekspor China menemukan jejak COVID-19 pada enam kemasan udang beku impor dari Ekuador.


Menanggapi soal maraknya temuan China atas patogen COVID-19 di kemasan makanan impor, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan hingga saat ini tidak ada bukti penularan virus Corona melalui makanan.


"Saat ini tidak ada bukti bahwa makanan ikut serta dalam penularan virus Corona. Orang tidak boleh takut pada makanan atau pengemasan makanan, atau pemrosesan dan pengiriman makanan. Makanan sangat penting," tutur Direktur eksekutif program darurat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dr Mike Ryan beberapa waktu lalu.


Di awal Agustus lalu, pejabat WHO mengatakan otoritas kesehatan China sudah menguji setidaknya ratusan ribu sampel frozen food dan menemukan 'sangat sedikit' jejak virus Corona. Mereka juga mengatakan telah mengeluarkan panduan dari United Nations Food and Agriculture Organization yang berkaitan dengan cara menangani makanan dengan aman.


Melihat hasil tersebut, WHO mengatakan temuan ini sangat penting untuk dipelajari lebih dalam. Untuk membuktikan kebenarannya, perlu adanya bukti ilmiah yang lebih kuat lagi.


"Bahkan jika virus memang menular lewat makanan yang tidak ditunjukkan oleh bukti, virus mati sebelum kita memakannya," kata kepala unit penyakit dan zoonosis WHO, Maria Van Kerkhove.


"Kalau virus sebenarnya ada di makanan, dan kita tidak punya contoh di mana virus ini ditularkan sebagai bawaan makanan, padahal seseorang sudah mengkonsumsi produk makanan, virus itu bisa dibunuh seperti virus lain juga, bisa dimatikan kalau dagingnya sudah matang," imbuhnya.

https://nonton08.com/v-h-s-viral/


Pria Harus Tahu! 4 Kebiasaan yang Bikin Sperma Nggak Tokcer


Banyak orang yang beranggapan bahwa laki-laki jantan adalah mereka yang punya sperma tokcer atau berkualitas baik. Hal ini dikarenakan sperma yang sehat mampu memperbesar peluang kehamilan.

Memiliki sperma yang berkualitas baik tentu diidamkan kaum adam. Akan tetapi ada beberapa kebiasaan yang justru bisa membuat sperma jadi nggak tokcer.


Mengutip laman Today's Parent, berikut 4 kebiasaan yang bikin sperma nggak tokcer:


1. Merokok

Ari Baratz, seorang spesialis kelamin di Create Fertility Centre menyampaikan bahwa racun yang terdapat pada rokok yang masuk ke dalam tubuh akan mengalir dari paru-paru melalui sistem peredaran darah ke testis. Oleh sebab itu, kebiasaan merokok sangatlah merusak kualitas sperma.


Selain itu, sebuah studi tahun 2015 di American Journal of Epidemiology menyebut, kebiasaan merokok dapat menurunkan 28 persen kuantitas sperma.


2. Stres

Para peneliti di Mailman School of Public Health Columbia University menyampaikan bahwa pria yang mudah stres lebih cenderung memiliki konsentrasi sperma yang rendah. Sebab, stres menyebabkan peningkatan kadar hormon glukokortikoid, yang berdampak negatif pada produksi testosteron dan sperma.


3. Pakai celana dalam ketat

Celana dalam ketat dapat membuat rasa nyeri pada kantung buah zakar (skrotum). Ari Baratz menyampaikan bahwa celana dalam yang ketat dapat membuat testis tak dapat mengatur suhu untuk menghasilkan sperma yang sehat.


"Suhu ideal untuk produksi sperma adalah beberapa derajat lebih rendah dari suhu tubuh," ujar Ari Baratz.


4. Terlalu banyak duduk

Paparan panas yang diakibatkan karena terlalu banyak duduk, rupanya dapat memengaruhi produksi sperma. Oleh sebab itu, Caitlin Dunne, seorang dokter kelamin di Pacific Centre for Reproductive Medicine menyarankan untuk meletakan bantal di atas tempat duduk bila kamu ingin duduk dalam kurun waktu yang lama, seperti menyetir mobil dan bekerja di depan laptop.

https://nonton08.com/wake-of-death/

Bos Sido Muncul Usul ke Pemerintah Teliti Potensi Obat Herbal

  Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat mengajak para peneliti untuk berani melakukan hal-hal baru, untuk berperan aktif meneliti tanaman asli Indonesia. Menurutnya hal tersebut penting agar potensi obat herbal bisa dikembangkan lebih lanjut.

"Jika ingin berhasil memanfaatkan tanaman obat, maka kita harus berani melakukan hal-hal baru, tapi tidak melanggar peraturan, etika profesi, dan moral," ungkap Irwan Hidayat, dalam keterangannya, Sabtu (19/8/2020).


Hal itu ia ungkapkan dalam acara webinar bertajuk 'Strategi Pengembangan dan Pemanfaatan Herbal Menuju Indonesia Sehat'.

https://nonton08.com/mission-impossible-ii/


Irwan mengatakan pihaknya sudah mengusulkan kepada pemerintah untuk dilakukan penelitian terhadap tanaman-tanaman asli Indonesia yang bisa digunakan sebagai tanaman obat. "Saat ini hanya sekitar 350 jenis yang boleh dimanfaatkan. Padahal jenis tanaman dan biota laut Indonesia mencapai lebih dari 28.000 spesies," ungkapnya.


Irwan membandingkan Indonesia dengan China yang memiliki ribuan spesies. Menurutnya harus ada saran dan masukkan kepada pemerintah agar industri obat herbal bisa lebih berkembang.


Sebagai pengusaha yang bergerak di bidang obat herbal, ia mengatakan sudah melakukan beragam hal untuk ikut mendorong tercapainya hal tersebut tanpa melanggar peraturan seperti uji toksisitas.


"Tahun 2002, Sido Muncul melakukan Uji Toksisitas pada Tolak Angin. Padahal uji toksisitas ini juga tidak ada keharusan dari BPOM. Sampai hari ini, Sido Muncul adalah perusahaan pertama yang melakukan uji toksisitas ini. Kami juga terus menguji dan membuktikan produk-produk lainnya agar aman untuk dikonsumsi," jelasnya.


Sementara itu, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM Maya Gustina Andarini mengatakan potensi obat herbal seperti jamu sudah ada dan dimanfaatkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Menurutnya, jamu atau tanaman obat bisa digunakan dengan aman oleh masyarakat selama ada bukti empiris yang menyatakan khasiatnya.


"Asam temulawak maupun ramuan pegel linu itu sudah ada dari dulu, itu ada di prasasti-prasasti serta ada di kitab-kitab lama. Itu (khasiat jamu) sudah terbukti secara turun temurun digunakan oleh nenek moyang kita, artinya tidak ada efek samping yang serius. Jadi tidak perlu ada pembuktian secara ilmiah untuk diberikan izin edar dan klaimnya karena sudah ada riwayat empiris," ujarnya.


Namun, Maya Gustina menambahkan agar potensi obat herbal seperti jamu bisa lebih dikembangkan, maka bisa juga dilakukan pembuktian secara ilmiah. "Jamu bisa menjadi Fitofarmaka (obat dari bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya) gak masalah karena dia ingin membuktikan secara ilmiah bukan turun temurun. Misalkan suatu perusahaan supaya bisa masuk ke negara asing, negaranya itu butuh bukti ilmiah bukan bukti empiris," imbuhnya


Adapun Maya Gustina mengatakan pembuktian secara ilmiah tersebut dilakukan dengan cara uji klinis. "Jadi dibuktikannya dengan cara uji klinis walaupun sebetulnya jamu. Tapi mungkin ada hal-hal yang tidak empiris. Contoh misalnya nanas yang kita makan kan buahnya, lalu ada suatu penemuan baru yang mungkin akarnya misalnya ternyata berkhasiat tapi itu bukan empiris. Jadi dilakukanlah penelitian dan penelitian itu harus dibuktikan dengan uji klinis karena tidak ada riwayat empiris," pungkasnya.

https://nonton08.com/bad-boys/