Selasa, 25 Agustus 2020

Kondisi Darurat Jadi Alasan FDA Izinkan Terapi Plasma untuk Pasien Corona

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) akhirnya mengizinkan penggunaan terapi plasma darah untuk mengobati pasien Corona. Terapi ini awalnya dipromosikan oleh Presiden Donald Trump, namun ditolak karena dianggap masih kurang bukti.
Keputusan FDA mengeluarkan izin karena kondisi darurat. Uji coba pada 70 ribu pasien yang sakit parah menunjukkan setidaknya terapi ini relatif aman.

Beberapa studi awal melihat pemberian plasma darah tampaknya mengurangi risiko kematian bila diberikan pada pasien kurang dari tiga hari setelah dirawat di rumah sakit. Hanya saja FDA menekankan perlu studi lebih lanjut untuk membuktikan efektivitas terapi.

"Tampaknya terapi ini aman dan kami cukup nyaman dengan itu. Sampai saat ini tidak ada sinyal bahaya yang mengkhawatirkan," kata salah satu direktur FDA, Peter Mark, seperti dikutip dari BBC pada Selasa (25/8/2020).

Pada umumnya prinsip terapi plasma sendiri adalah pemberian plasma darah pasien yang sudah dinyatakan sembuh virus Corona kepada pasien yang masih dalam pengobatan. Sebab, pasien yang sudah dinyatakan sembuh diketahui memiliki antibodi terhadap virus tersebut.

Namun perlu diingat, terapi plasma konvalasen ini sifatnya pengobatan untuk pasien dengan gejala berat. Bukan sebagai pencegahan terhadap infeksi virus Corona COVID-19.

7 Perubahan Payudara Saat Bercinta, Membesar hingga Berubah Warna

 Bercinta ternyata bisa berpengaruh pada tubuh seseorang, terutama pada wanita. Beberapa anggota tubuh kamu bisa mengalami perubahan, mulai dari bagian folikel rambut, vagina, dan salah satu zona sensitif yaitu payudara.
Selama bercinta, pasti area payudara tidak akan terlewat untuk disentuh. Hal ini ternyata bisa membuat perubahan pada payudara si wanita.

Dikutip dari Bustle, berikut 7 perubahan yang bisa terjadi pada payudara saat bercinta.

1. Jadi lebih sensitif
Saat kamu merasa bergairah, area payudara akan terasa lebih sensitif terhadap sentuhan. Tak hanya pada puting, areola atau bagian yang berwarna gelap yang mengelilingi puting juga terasa lebih sensitif.

2. Menjadi lebih besar
Selama berhubungan seks, tubuh melewati empat fase, yaitu excitement atau tubuh mulai merespons gairah dan stimulasi, plateau atau fase gairah yang mulai memuncak, orgasme atau fase puncak dan resolution atau fase tubuh kembali seperti awal.

Saat di fase plateau atau gairah mulai memuncak, payudara akan menjadi semakin besar. Bahkan besar bisa bisa sampai 20-25 persen dari ukuran awalnya.

3. Areola membengkak
Tak hanya ukuran payudaranya yang semakin besar, bagian areolanya atau bagian yang berwarna gelap di sekitar puting juga semakin membengkak. Hal ini disebabkan karena darah yang ada di sekitar payudara.

4. Berkeringat dengan aroma yang khas
Saat bercinta, payudara juga akan terasa berkeringat dengan aroma yang khas. Sebenarnya, itu berasal dari kelenjar apokrin di area areola yang mengeluarkan feromon (keringat yang beraroma).

Meskipun tidak benar-benar bisa mencium baunya secara sadar, tetapi pasangan kamu bisa mendeteksinya. Bahkan hal itu bisa membuat kamu dan pasangan semakin tertarik satu sama lain.

5. Melepaskan hormon oksitosin
Ketika payudara disentuh dengan tangan atau mulut, rangsangan yang muncul itu akan memberitahu otak untuk melepaskan hormon oksitosin atau hormon cinta. Hormon inilah yang membuat kamu dan pasangan semakin mesra dan membentuk ikatan yang emosional saat bercinta.

6. Bisa membantu mencapai orgasme
Berdasarkan penelitian di Rutgers University, terdapat hubungan neurologis antara rangsangan puting dan klitoris. Jika dua area tersebut diberi rangsangan secara bersamaan, bisa membantu kamu lebih cepat mencapai klimaks.

Faktanya, beberapa wanita bisa mencapai orgasmenya hanya dengan diberi rangsangan pada puting payudarannya.
https://indomovie28.net/hidden-wrath/

Sebelum Disuntik Vaksin COVID-19, Ridwan Kamil Bakal Jalani Swab Test

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil akan melaksanakan pemeriksaan fisik dan uji usap (swab test) PCR pada Selasa (25/8/2020), tahapan itu dilakukan karena pria yang akrab disapa Kang Emil itu akan menjadi relawan vaksin COVID-19 buatan Sinovac.
Kabiro Humas dan Keprotokolan Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Jabar Hermansyah mengatakan, bila hasil swab negatif, tiga hari kemudian Kang Emil akan mendapatkan penyuntikan kandidat vaksin.

"Proses uji klinis Bapak Gubernur tidak dapat diliput secara langsung oleh media," kata Hermansyah di Kota Bandung, Senin (24/8/20).

Ia mengatakan, keikutsertaan Kang Emil sebagai relawan uji klinis untuk meyakinkan kepada masyarakat bahwa uji klinis vaksin dilakukan secara ilmiah. "Pemerintah memberikan yang terbaik kepada masyarakat melalui proses yang kita tunggu-tunggu, yakni adanya vaksin COVID-19," ucapnya.

Juru bicara tim uji klinis vaksin COVID-19 Universitas Padjadjaran (Unpad) Rodman Tarigan mengatakan, selama uji klinis, relawan melakukan lima kunjungan penelitian.
Pada kunjungan pertama, relawan akan mendapatkan penjelasan mengenai alur uji klinis dan swab test.

"Hasil tes akan diumumkan 2-3 hari. Jika hasil tes positif, sukarelawan tidak bisa ikut uji klinis. Kalau hasilnya negatif, bisa ikut dalam proses penelitian selanjutnya," kata Rodman.

Pada kunjungan kedua, kata Rodman, sukarelawan akan kembali mengikuti tes kesehatan fisik dan rapid test. Jika hasil tes memenuhi syarat dan hasil rapid test nonreaktif, penyuntikan vaksin COVID-19 atau plasebo dapat dilakukan.

"Setiap suntikan terdapat reaksi dalam waktu 30-40 menit. Jadi, kami menyediakan tempat observasi. Apabila tidak terjadi gejala, sukarelawan dapat pulang," katanya.

Rodman mengatakan, penyuntikan vaksin kedua akan dilakukan dua pekan setelahnya. Kemudian, sukarelawan wajib menjalani dua kunjungan lagi untuk mengetahui reaksi vaksin terhadap kondisi kesehatan. Jika terjadi reaksi, seperti demam, batuk, pilek, dan sakit tenggorokan, sukarelawan diminta melapor kepada tim uji klinis.

"Kondisi kesehatan sukarelawan akan dipantau secara intensif oleh tim uji klinis," ucapnya.

Proses uji klinis vaksin COVID-19 fase ketiga ini akan berjalan selama enam bulan atau hingga akhir 2020. Jika berjalan lancar, rencananya vaksin Sinovac akan mendapat izin edar dan diproduksi massal di awal 2021.

Kondisi Darurat Jadi Alasan FDA Izinkan Terapi Plasma untuk Pasien Corona

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) akhirnya mengizinkan penggunaan terapi plasma darah untuk mengobati pasien Corona. Terapi ini awalnya dipromosikan oleh Presiden Donald Trump, namun ditolak karena dianggap masih kurang bukti.
Keputusan FDA mengeluarkan izin karena kondisi darurat. Uji coba pada 70 ribu pasien yang sakit parah menunjukkan setidaknya terapi ini relatif aman.

Beberapa studi awal melihat pemberian plasma darah tampaknya mengurangi risiko kematian bila diberikan pada pasien kurang dari tiga hari setelah dirawat di rumah sakit. Hanya saja FDA menekankan perlu studi lebih lanjut untuk membuktikan efektivitas terapi.

"Tampaknya terapi ini aman dan kami cukup nyaman dengan itu. Sampai saat ini tidak ada sinyal bahaya yang mengkhawatirkan," kata salah satu direktur FDA, Peter Mark, seperti dikutip dari BBC pada Selasa (25/8/2020).

Pada umumnya prinsip terapi plasma sendiri adalah pemberian plasma darah pasien yang sudah dinyatakan sembuh virus Corona kepada pasien yang masih dalam pengobatan. Sebab, pasien yang sudah dinyatakan sembuh diketahui memiliki antibodi terhadap virus tersebut.

Namun perlu diingat, terapi plasma konvalasen ini sifatnya pengobatan untuk pasien dengan gejala berat. Bukan sebagai pencegahan terhadap infeksi virus Corona COVID-19.
https://indomovie28.net/dont-open-your-eyes-2/