Selasa, 04 Agustus 2020

3 Faktor Penting di Balik Transformasi Adele Jadi Ramping

Penyanyi Adele belakangan ini banyak diperbincangkan. Tidak lain karena transformasi tubuhnya yang begitu drastis, dari sebelumnya gemuk jadi sangat langsing.
Adele menjalani program diet Sirtfood dan harus mengonsumsi makanan yang mengandung sirtuin. Sirtuin dipercaya dapat menurunkan berat badan dengan cara mempengaruhi tubuh untuk membakar lemak, memproduksi energi sehingga dapat meningkatkan metabolisme tubuh.

Soal pola makan, Adele juga mengonsumsi jus hijau serta mengurangi kafein dan alkohol. Tapi melihat transformasi Adele yang begitu drastis, rasanya ada hal lain di luar jaga pola makan dan minum.

Dikutip dari Thesun, 3 faktor penting di balik transformasi Adele menurunkan berat badan:

1. Patah hati
Selama berpisah dari mantan suaminya Simon Konecki pada April 2019, Adele memiliki tekad yang kuat yaitu melakukan diet dan olahraga untuk merawat tubuhnya.

Satu tahun yang lalu, Adele memposting sebuah harapan di akun Twitter pribadinya. Ia berharap saat umur 31 tahun akan menjadi pribadi yang lebih baik dan mengalami perubahan pada dirinya.

Ya, postingan Twitter yang ditulis Adele menjadi kenyataan. Saat ini ia mengalami perubahan pada penampilannya.

2. Pilates
Adele mengambil kelas pilates reformer untuk memperkuat tubuhnya. Pilates reformer melibatkan gerakan menggunakan mesin khusus yang dapat meningkatkan postur, keseimbangan tubuh, serta menurunkan berat badan.

3. Gym
Saat diwawancarai majalah Rolling Stone, Adele mengaku tidak suka melihat cermin karena kulitnya rusak setelah mengikuti kelas angkat beban. Meskipun begitu, Adele tidak pernah bolos pergi gym untuk latihan angkat beban.

WHO Sebut Tak Ada Satu Solusi Ampuh untuk Selesaikan Pandemi Corona

 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan mungkin tidak akan pernah ada satu 'pengobatan ajaib' yang bisa menyelesaikan semua masalah virus Corona COVID-19. Bahkan, ketika para ilmuwan di seluruh dunia berlomba menemukan vaksin yang aman dan efektif untuk penyakit ini.
Meski berbagai macam pengobatan dan perkembangan calon vaksin Corona telah menunjukkan hasil yang baik, tetapi Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengingatkan masyarakat agar tetap melakukan semua tindakan pencegahan.

"Tidak ada 'peluru perak' saat ini dan mungkin tidak akan pernah ada," kata Tedros dalam konferensi pers, Senin (3/8/2020), dikutip dari CNBC.

Peluru perak merupakan kiasan yang berarti tidak ada satu solusi yang bisa menyelesaikan semua masalah sekaligus. Karena itu, Tedros mengimbau para pemimpin dunia untuk lebih cekatan dalam mengendalikan penyakit agar penyebaran virus Corona tidak semakin luas.

"Menguji, mengisolasi, dan merawat pasien serta melacak dan mengkarantina orang yang melakukan kontak fisik dengan mereka. Lakukan semuanya," jelasnya.

Selain itu, masyarakat dapat membantu dalam mencegah penularan virus Corona dengan cara menerapkan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker, cuci tangan dengan sabun dan air, serta menjaga jarak minimal satu meter.
https://indomovie28.net/akibat-pergaulan-bebas-3/

Senin, 03 Agustus 2020

Satgas COVID-19 Ungkap 5 Kelompok Berisiko Tinggi Kena Corona, Ini Daftarnya

 Tim pakar satuan tugas COVID-19, Dewi Nur Aisyah, mengungkap ada sejumlah kelompok rentan yang memiliki risiko kematian tinggi apabila terpapar virus Corona.
"Jadi kalau kita melihat ada beberapa kelompok rentan. Kalau dari segi usia, mereka yang terinfeksi covid berusia di atas 60 tahun memiliki fatalitas tertinggi," kata Dewi dalam siaran Youtube BNPB, Senin (3/8/2020).

Selain usia lanjut, berikut adalah kelompok rentan yang berisiko tinggi Corona:

1. Mereka yang memiliki daya tahan tubuh rendah atau autoimun

2. Memiliki kondisi penyerta, seperti gangguan ginjal atau gangguan jantung
3. Obesitas atau BMI lebih dari 40
4. Ibu hamil
5. Usia 60 tahun ke atas

"Ini artinya (COVID-19) bisa menyerang siapapun, termasuk ayah ibu kita, kakek nenek kita, yang mungkin punya kondisi penyerta atau usianya memang sudah lanjut," terangnya.

Berdasarkan data angka kematian COVID-19 yang dilihat dari segi usia, sebanyak 1.969 pasien positif Corona yang berusia di atas 60 tahun meninggal dunia. Kelompok ini memegang porsi tertinggi kematian akibat Corona di Indonesia atau sekitar 16 persen dari total kematian.

Meski fatalitasnya tinggi pada kelompok tersebut, Dewi mengungkap yang paling banyak menularkan COVID-19 adalah mereka yang berusia produktif. Disebutkan juga bahwa kelompok yang paling banyak menyebarkan COVId-19 berada di rentang usia 20-30 tahun.

"Lagi-lagi usia produktif ini yang memang bisa menularkan walaupun mereka jika tertular tidak bergejala. Tapi kalau menularkan ke yang lebih tua bisa berakibat fatal," pungkas Dewi.

Update Corona Indonesia 3 Agustus: Tambah 1.679, Positif Jadi 113.134 Kasus

Jumlah kasus konfirmasi positif virus Corona COVID-19 pada Senin (3/8/2020) menjadi 113.134 kasus. Sebanyak 70.237 sembuh dan 5.302 meninggal.
Demikian dikutip dari kemkes.go.id pada pukul 15:20 WIB.

Berikut detail perkembangan data Corona di Indonesia hari ini:

1. Kasus positif bertambah 1.679 menjadi 113.134
2. Pasien sembuh bertambah 1.262 menjadi 70.237
3. Pasien meninggal bertambah 66 menjadi 5.302

Sebelumnya pada Minggu (2/8/2020) jumlah konfirmasi positif virus Corona COVID-19 tercatat 111.455 kasus dengan 68.975 pasien sembuh dan 5.236 meninggal.

Viral Pelecehan Seks Berkedok Riset 'Swinger', Fantasi Apa Sih Itu?

 Seorang pria yang mengaku bernama Bambang Ariyanto membuat video pengakuan telah melakukan pelecehan seksual dengan kedok penelitian.
Dalam video tersebut, yang kini telah dihapus dan tak lagi bisa diakses, pria yang mengklaim dirinya adalah seorang dosen menyatakan telah melakukan pelecehan seks dengan kedok penelitian terkait swinger.

"Saya Bambang Ariyanto ingin menjelaskan bahwa pernyataan saya mengenai rencana penelitian tentang swinger kepada banyak perempuan adalah bohong, karena sesungguhnya saya lebih ingin berfantasi swinger secara virtual semata. Hal itu dikarenakan kata swinger sering menghantui saya di setiap waktu," ucap Bambang.

Swinger atau disebut pesta seks adalah kecenderungan untuk mendapatkan kepuasan seksual saat bertukar pasangan. Swinger kerap mendapatkan kepuasan ketika melihat atau melakukan aktivitas seks bersama pasangan lain.

"(Pelaku swinger-red) Menyukai intimasi yang diciptakan dengan pasangan lain atau orang lain," kata terapis seks Matty Silver, dikutip dart Yahoo Lifestyle.

Selain mendapat kenikmatan ketika menonton pasangan berhubungan seks dengan orang, ada beberapa alasan lain pada pelaku swinger. Salah satunya dikarenakan ketidakpuasan seksual dari pasangan resminya.

Hanya saja perilaku ini tidak bisa diterima setiap kalangan dan tentunya ada banyak risiko kesehatan akibat perilaku seks yang tak wajar. Sebuah penelitian dt Belanda menemukan bahwa swinger berisiko tinggi untuk terkena herpes, HIV, dan klamidia.
https://cinemamovie28.com/weathering-with-you/