Kamis, 02 Juli 2020

Jualan di E-Commerce, UMKM Terkendala Internet Mahal

Banyak pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang mengalihkan usahanya ke e-commerce agar tetap bisa berjalan di tengah pandemi COVID-19. Tapi sebagian besar dari mereka terkendala biaya internet yang mahal dan jaringan yang tidak stabil.
Survei Sea Insights menemukan 63% UMKM mengaku kesulitan bekerja dari rumah karena hambatan internet. Survei ini dilakukan kepada 20.000 responden berusia 16-35 tahun, di mana 2.200 di antaranya merupakan pelaku usaha.

"Lebih dari 63% mengatakan kesulitan bekerja dari rumah dan hambatan utamanya dari survei kami ada tiga," kata Presiden Komisaris Sea Group Pandu P Sjahrir dalam diskusi online, Kamis (2/7/2020).

"Satu, biaya internet yang mahal dan tidak stabil; dua, perlu interaksi fisik dengan konsumen; dan tiga, pendanaan modal," sambungnya.

Lebih lanjut, Pandu menjelaskan demografi dalam kelompok ini adalah pelaku usaha yang berasal dari industri kesehatan, pendidikan, pertanian dan pertambangan. Mereka juga tinggal di luar Jakarta dan tidak kuliah.

Walau semakin banyak UMKM yang beralih ke e-commerce dan media sosial untuk berbisnis, masih ada juga yang tidak mau memulai karena masalah internet. Pandu mengatakan hal ini berpotensi memperlebar kesenjangan ekonomi masyarakat.

"17% pelaku usah tidak berjualan di e-commerce selama pandemi COVID-19, kenapa? Karena 74% merasa kesulitan bekerja dari rumah, 35% mengatakan mereka membutuhkan interaksi fisik dan 41% melaporkan tarif internet kurang terjangkau," jelas Pandu.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Indonesia Teten Masduki mengatakan pemerintah sedang berupaya untuk mengatasi hambatan ini sebagai upaya untuk mempercepat transformasi digital UMKM. Tapi subsidi internet untuk UMKM sepertinya tidak bisa diwujudkan dalam waktu dekat.

"Mengenai subsidi internet memang pernah kami usulkan ke Kominfo, karena banyak UMKM yang terhubung dengan marketplace online terbebani biaya pulsa internet," kata Teten dalam kesempatan yang sama.

"Tapi karena kemarin fokus ada repurposing pembiayaan di kementerian dan lembaga mudah-mudahan ke depan ini akan sudah ada anggaran untuk subsidi internet," pungkasnya.

Oppo Manfaatkan Lini Produksi Garap Masker

Banyak perusahaan yang memanfaatkan lini produksi pabriknya untuk membuat alat kesehatan setelah pandemi COVID-19 melanda. Oppo salah satunya, vendor ponsel asal China ini membuat masker.
Hanya saja masker yang dibuat Oppo di pabriknya di Karawaci, Tangerang, Banten tidak untuk dijual. Masker tersebut untuk memasok kebutuhan seluruh karyawannya di Indonesia.

"Mengingat sedang masa pandemi dan mendukung untuk penanggulangan penyebaran virus corona, Oppo mendukung gerakan untuk menggunakan masker selama bekerja. Kepedulian tersebut diwujudkan dengan memproduksi masker non medis untuk kebutuhan karyawan Oppo Indonesia," ujar Aryo Meidianto, PR Manager Oppo Indonesia.

Sebelumnya Oppo telah menerapkan SOP khusus untuk toko dan pusat layanannya di saat new normal. Setiap gerai mereka dipastikan mengikuti protokol yang telah ditetapkan pemerintah.

"Kami menyiapkan hand sanitizer, wajib masker, pengecekan suhu hingga penerapan pembatasan jumlah pengunjung hingga 50% dari normal," kata Aryo.

Oppo turut penerapan jarak aman di service center. Mereka memberi tanda X pada kursi tunggu hingga penggunaan face shield dan sarung tangan.

"Kami ingin memberikan rasa aman serta tetap menjaga kesehatan karyawan dan pelanggan," pungkas Aryo.
https://nonton08.com/2017/09/

Telkomsel Orbit Jadi Andalan Telkomsel Soal Internet Rumah

 Telkomsel Orbit jadi andalan terbaru Telkomsel di masa pandemi COVID-19. Produk layanan operator seluler anak perusahaan plat merah ini menyasar segmen perumahan dengan layanan internet rumah berbasis modem WiFi.
Menurut Telkomsel, penetrasi broadband di Indonesia terbilang masih rendah bila dibandingkan negara lain. Berdasarkan data yang dimiliki, penetrasi Indonesia baru menyentuh 15%, sedangkan Filipina 20%, Thailand 47%, atau Korea Selatan yang sudah 108%.

Di sisi lain, pertumbuhan populasi dan ekonomi di Indonesia mampu menjadi basis dalam meningkatkan penetrasi broadband di masa mendatang. Diperkirakan potensi penetrasi broadband akan mencapai 35-40% pada tahun 2025.

"Artinya, akan ada 26 juta rumah tangga yang melayani home broadband, di mana 15 juta dari mereka bisa dijangkau dengan jaringan kabel dan sisanya 11 juta di-cover oleh jaringan nirkabel," ungkap Head of Home LTE Telkomsel Arief Pradetya saat konferensi pers secara virtual, Kamis (2/7/2020).

Di saat bersamaan, pandemi COVID-19 juga menumbuhkan kebiasaan baru berupa aktivitas yang banyak dilakukan di rumah. Alhasil, kebutuhan internet di rumah menjadi keniscayaan pada saat ini.

Potensi tersebut yang ingin digapai oleh Telkomsel Orbit yang menggunakan jaringan 4G LTE. Arief menekan, koneksi 4G di Telkomsel Orbit berbeda dengan biasanya, Telkomsel memastikan bahwa pengguna Telkomsel Orbit ini mendapatkan layanan 4G yang terbaik.

Telkomsel Orbit hadir dalam dua varian modem, yaitu Orbit Star dan Orbit Max. Untuk Orbit Star mempunyai kemampuan terhubung untuk 32 perangkat sekaligus, sedangkan Orbit Max lebih besar lagi, terkoneksi dengan 64 perangkat se

Selama tahap awal peluncuran, Telkomsel membanderol harga khusus untuk pembelian produk Telkomsel Orbit, baik modem maupun paket datanya. Varian modem Orbit Star dibanderol Rp 799 ribu, sedangkan Orbit Max dihargai Rp 2,399 juta.

Setiap pembelian Orbit Star dan Orbit Max ini sudah termasuk perangkat modem, kartu SIM prabayar Telkomsel, dan kuota data 50 GB untuk Orbit Star dan kuota data 150 GB untuk Orbit Max selama 30 hari.

Jualan di E-Commerce, UMKM Terkendala Internet Mahal

Banyak pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang mengalihkan usahanya ke e-commerce agar tetap bisa berjalan di tengah pandemi COVID-19. Tapi sebagian besar dari mereka terkendala biaya internet yang mahal dan jaringan yang tidak stabil.
Survei Sea Insights menemukan 63% UMKM mengaku kesulitan bekerja dari rumah karena hambatan internet. Survei ini dilakukan kepada 20.000 responden berusia 16-35 tahun, di mana 2.200 di antaranya merupakan pelaku usaha.

"Lebih dari 63% mengatakan kesulitan bekerja dari rumah dan hambatan utamanya dari survei kami ada tiga," kata Presiden Komisaris Sea Group Pandu P Sjahrir dalam diskusi online, Kamis (2/7/2020).

"Satu, biaya internet yang mahal dan tidak stabil; dua, perlu interaksi fisik dengan konsumen; dan tiga, pendanaan modal," sambungnya.

Lebih lanjut, Pandu menjelaskan demografi dalam kelompok ini adalah pelaku usaha yang berasal dari industri kesehatan, pendidikan, pertanian dan pertambangan. Mereka juga tinggal di luar Jakarta dan tidak kuliah.

Walau semakin banyak UMKM yang beralih ke e-commerce dan media sosial untuk berbisnis, masih ada juga yang tidak mau memulai karena masalah internet. Pandu mengatakan hal ini berpotensi memperlebar kesenjangan ekonomi masyarakat.

"17% pelaku usah tidak berjualan di e-commerce selama pandemi COVID-19, kenapa? Karena 74% merasa kesulitan bekerja dari rumah, 35% mengatakan mereka membutuhkan interaksi fisik dan 41% melaporkan tarif internet kurang terjangkau," jelas Pandu.