Kamis, 02 Juli 2020

KRL Jadi Area Utama Penularan Corona di DKI, Catat Cara Cegah COVID-19 di KRL

 Pemprov DKI Jakarta menyebut KRL jadi salah satu area yang rentan terhadap penularan virus Corona. Setelah dilakukan evaluasi, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan KRL pun sering menjadi tempat penularan maka akan ditingkatkan pengawasannya untuk pengendalian COVID-19.
"Pemprov DKI Jakarta akan bekerja sama dengan PT KCI (Kereta Commuter Indonesia) untuk bisa memantau pengaturan penumpang di KRL," tutur Anies dalam konferensi pers di akun Youtube Pemprov DKI Jakarta dan ditulis Kamis (2/7/2020).

Transportasi umum seperti KRL memang jadi sasaran empuk dengan risiko penularan virus Corona yang cukup tinggi. Banyaknya orang yang bepergian dalam satu waktu menjadikan KRL moda transportasi rentan sebab penumpangnya bisa berdesak-desakan di dalam.

Untuk itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan penumpang sebagai cara untuk menekan penyebaran virus Corona di KRL. Dikutip dari situs PT KCI, berikut protokol kesehatan new normal di KRL:

1. Wajib pakai masker selama di KRL dan stasiun

2. Penumpang KRL wajib terapkan jaga jarak sesuai marka yang tertera. Jika kondisinya padat, petugas akan menerapkan sistem buka tutup di luar stasiun

3. Penumpang disarankan untuk melakukan transaksi nontunai

4. Anak berusia kurang dari lima tahun atau balita dilarang naik KRL untuk sementara waktu

5. Untuk penumpang lanjut usia atau lansia, hanya diizinkan naik KRL di luar jam sibuk pada pukul 10.00-14.00 WIB

6. Balita dan lansia yang naik KRL karena keperluan mendesak, seperti perawatan rutin ke rumah sakit, harus melapor ke petugas stasiun

7. Para pedagang dengan barang bawaan yang banyak tidak boleh naik KRL di saat jam sibuk

8. Setiap penumpang tidak diizinkan berbicara secara langsung atau melalui telepon seluler selama di dalam kereta.

Potensial Jadi Pandemi, Flu Babi G4 Punya Kesamaan dengan Flu Spanyol 1918

Galur atau jenis baru virus flu babi asal China yang disebut virus G4 disebut potensial memicu pandemi. Ilmuwan Amerika Serikat bahkan menegaskan, karakter virus ini mirip virus flu spanyol yang mewabah di 1918.
Sebelumnya, virus baru yang nama lengkapnya G4 EA H1N1 ini disebut mirip seperti flu babi yang memicu pandemi pada 2009. Diperkirakan 10 persen pekerja rumah potong babi dan 4,4 persen populasi umum di China sudah terpapar.

Sama seperti flu babi 2009, flu spanyol yang mewabah pada 1918 juga memicu pandemi. Bahkan virus tersebut menjangkiti sepertiga populasi penduduk dunia dan membunuh kurang lebih 50 juta manusia.

Pakar infeksi di Amerika Serikat, Anthony Fauci, menyebut virus baru G4 perlu diwaspadai. Meski belum ada bukti ditularkan dari orang ke orang, virus ini punya kemampuan bermutasi dan beradaptasi.

"Dan mereka sedang melihat virus di babi, yang memiliki karakter H1N1 2009, 1918 yang asli (flu spanyol), yang sisa-sianya dimiliki banyak virus flu pada manusia, seperti halnya segmen pada inang lain, seperti babi," jelasnya.

Wabah flu spanyol 1918 menyebar ke seluruh dunia di tengah berkecamuknya perang dunia I dan masih terbatasnya layanan kesehatan maupun ilmu pengetahuan. Puluhan juta penduduk dunia meninggal karenanya.

"Kemungkinannya adalah Anda mungkin punya wabah setipe flu babi yang kita alami pada 2009," kata Fauci, dikutip dari CNBC.
https://nonton08.com/2020/05/

Pasien Corona Tanpa Gejala Juga Bisa Alami Kerusakan Paru Permanen

Virus Corona menimbulkan gejala yang beragam pada tiap pasien. Beberapa mungkin hanya mengidap kondisi ringan namun lainnya lebih buruk sehingga harus mendapat bantuan oksigen atau ventilator.
Tapi ada beberapa kelompok yang tidak menunjukkan gejala COVID-19 sama sekali saat terinfeksi yang disebut pasien asimptomatik atau orang tanpa gejala (OTG). Meski tampak 'sehat', sebuah pemeriksaan menunjukkan banyak OTG memiliki kerusakan paru jangka panjang sama seperti pasien dengan kondisi parah.

Dikutip dari Medical Daily, para ilmuwan di Scripps Research Institute menemukan penemuan mengejutkan bahwa OTG, yang tidak menunjukkan gejala Corona, juga berisiko mengalami kerusakan paru-paru yang fatal.

Mereka mengetahui ini setelah memeriksa CT Scan pasien COVID-19 tanpa gejala dari kapal pesiar Diamond Princess. Peneliti juga memperhatikan bahwa pasien OTG ini mengalami kerusakan paru yang cukup parah walau tak menunjukkan gejala sama sekali.

Sementara itu, pemeriksa medis Pinellas dan Pasco County, Dr. Jon Thogmartin baru-baru ini mengungkapkan betapa buruknya COVID-19 merusak paru pasien yang mengidap kondisi berat Corona.

"Aku benar-benar tidak tahu bagaimana mengatakannya tanpa menjadi mengerikan. Itu bisa menghancurkan paru-paru. Biarkan saya katakan saja. Ketika orang tersebut meninggal, Anda melihat paru-parunya tidak terasa dan terlihat seperti paru-paru lagi," jelas Thogmartin yang menggambarkan kondisi paru pemeriksaan post-mortem pada pasien COVID-19.

Meski demikian pemeriksa mengatkaan ini tidak berarti semua pasien OTG akan mengidap kerusakan paru jangka panjang. Namun kondisi tersebut adalah sesuatu yang harus diwaspadai.

Awal tahun ini, Johns Hopkins Medicine membahas secara menyeluruh efek virus Corona pada paru-paru. Para ahli di Johns Hopkins Bayview Medical Center mengatakan COVID-19 dapat menyebabkan pneumonia dan sindrom pernapasan akut pada pasien.

KRL Jadi Area Utama Penularan Corona di DKI, Catat Cara Cegah COVID-19 di KRL

 Pemprov DKI Jakarta menyebut KRL jadi salah satu area yang rentan terhadap penularan virus Corona. Setelah dilakukan evaluasi, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan KRL pun sering menjadi tempat penularan maka akan ditingkatkan pengawasannya untuk pengendalian COVID-19.
"Pemprov DKI Jakarta akan bekerja sama dengan PT KCI (Kereta Commuter Indonesia) untuk bisa memantau pengaturan penumpang di KRL," tutur Anies dalam konferensi pers di akun Youtube Pemprov DKI Jakarta dan ditulis Kamis (2/7/2020).

Transportasi umum seperti KRL memang jadi sasaran empuk dengan risiko penularan virus Corona yang cukup tinggi. Banyaknya orang yang bepergian dalam satu waktu menjadikan KRL moda transportasi rentan sebab penumpangnya bisa berdesak-desakan di dalam.

Untuk itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan penumpang sebagai cara untuk menekan penyebaran virus Corona di KRL. Dikutip dari situs PT KCI, berikut protokol kesehatan new normal di KRL:

1. Wajib pakai masker selama di KRL dan stasiun

2. Penumpang KRL wajib terapkan jaga jarak sesuai marka yang tertera. Jika kondisinya padat, petugas akan menerapkan sistem buka tutup di luar stasiun

3. Penumpang disarankan untuk melakukan transaksi nontunai

4. Anak berusia kurang dari lima tahun atau balita dilarang naik KRL untuk sementara waktu

5. Untuk penumpang lanjut usia atau lansia, hanya diizinkan naik KRL di luar jam sibuk pada pukul 10.00-14.00 WIB

6. Balita dan lansia yang naik KRL karena keperluan mendesak, seperti perawatan rutin ke rumah sakit, harus melapor ke petugas stasiun

7. Para pedagang dengan barang bawaan yang banyak tidak boleh naik KRL di saat jam sibuk

8. Setiap penumpang tidak diizinkan berbicara secara langsung atau melalui telepon seluler selama di dalam kereta.
https://nonton08.com/2018/09/