Seorang perawat yang berinisial I bekerja di salah satu rumah sakit di Makassar. Ia adalah salah satu dari sekian banyak petugas medis yang sedang berjuang di garda terdepan, untuk memerangi virus Corona COVID-19.
Selama bertugas terutama saat berada di kamar pasien COVID-19, para petugas medis wajib menggunakan alat pelindung diri (APD). Perawat ini mengatakan, saat memakainya panas yang terasa sangat luar biasa.
"Pake APD itu kan panasnya luar biasa. Itu kalau kita buka, kita sudah mandi keringat. Tangan sudah putih mengkerut seperti sudah lama renang," kata I pada detikcom, Rabu (8/4/2020).
Tak hanya keringat yang didapatkan, tapi ada beberapa luka di wajahnya setelah menggunakan APD. Luka yang terlihat ada di bagian pipi dan juga hidung.
"Ada di daerah pipi dan hidung bekas masker. Tapi, kalau saya pribadi paling terasa di hidung sampai muncul kayak jerawat. Jadi, saya pake hypafix untuk di bagian hidung supaya ndak langsung kena kulit," jelasnya.
Meskipun sangat terasa sakitnya, tapi itu hanya terasa selama dua hari. Untuk mengatasi hidungnya agar tidak sakit lagi, ia menggunakan perekat sebelum memakai masker. Ini dilakukan agar masker tidak langsung terkena kulit pada bagian hidung.
Sementara itu, luka yang ada di bagian pipinya terbentuk karena tali masker dan bisa hilang dalam waktu sehari. Sejak Minggu (6/4/2020) lalu, I menggunakan APD mulai pukul 17.00 sampai 20.00 waktu setempat. Tapi, ia hanya sanggup menggunakannya selama tiga jam.
"Saya hanya bisa pakai itu (APD) selama tiga jam saja. Saya sendiri tidak tahu dari WHO itu berapa lama pemakaiannya. Tapi, kalau kami selalu bilang ke temen-temen yang lain kalau tidak sanggup buka saja," ujar I.
Benerapa atribut APD yang digunakan ada banyak sekali. Di antaranya adalah beberapa bagian seperti masker N95, masker bedah, tutup kepala, hazmat, handscoen non steril, handscoen steril, boot, jas hujan, dan helm atau penutup wajah.
Curhat Pasien Cuci Darah, Wajib Rapid Test Corona dan Harus Bayar Sendiri
Tak hanya pasien virus Corona yang tengah berjuang menghadapi pandemi Corona. Seorang pasien asal Surabaya pun terancam tak bisa cuci darah karena harus membayar rapid test.
Kabar ini awalnya diterima detikcom melalui Ketua Komunitas Pasien Cuci Darah (KPCDI) Tony Samosir.
"Ini tadi ditelepon dari pasien di Surabaya di Rumah Sakit S bahwasanya seluruh pasien di S itu wajib untuk rapid test dan foto thorax, biayanya itu tidak ditanggung BPJS Kesehatan, tapi ditanggung oleh pasien, kalau nggak mau nggak bisa cuci darah," ungkapnya saat dihubungi pada Rabu (8/4/2020).
Dihubungi secara terpisah, pasien yang berusia 37 tahun ini mengeluh karena terpaksa menunda jadwal cuci darah. Pengobatan pun terhambat karena tak punya cukup uang untuk langsung membayar serangkaian tes yang harus dilakukan sebelum bisa menjalani cuci darah.
"Jadi gini tadi siang itu kan setiap pasien kan selalu dapat grup cuci darah setiap RS toh. Jadi saat itu saya dikasih WA sama rumah sakitnya, sama susternya, bahwa setiap pasien HD itu harus melakukan rapid test, foto thorax, sama cek darah lengkap. Untuk memastikan pasiennya itu tidak terjangkit Corona, gitu lho. Itu cuman tidak pakai BPJS Kesehatan," ungkap pasien yang tak ingin disebutkan namanya.
Serangkaian tes yang ia sebut totalnya bisa mencapai satu juta ini disampaikan menjadi syarat agar ia bisa melakukan cuci darah. Menurutnya, penetapan kebijakan tersebut dilakukan serba mendadak dan sepihak karena tak diberi surat edaran resmi dari RS.
"Kan saya jadwal cuci darahnya itu besok jadi harus hari ini. Kalau nggak hari ini rapid test, besok ndak boleh datang, soalnya kan hasilnya langsung dibawa. Kalau nggak ada hasilnya nggak boleh masuk, nggak boleh cuci darah, harus tes dulu, berarti secara nggak langsung kan ini kaya sepihak gitu lho, tanpa melihat kondisi pasien gimana, terus keadaan gimana," lanjutnya.