Menikmati pagi di Sungai Makaham harus kamu coba. Setelah lelah, kamu harus nikmati soto di sana. Segar!
Sebelum berangkat ke Samarinda untuk mengikuti Forum Manajemen Indonesia tahun lalu, saya memiliki pemikiran apa yang bisa saya lihat dan nikmati di Ibu Kota Kalimantan Timur tersebut.
Tentu saja karena waktu saya tidak banyak, maka saya mencari informasi apa yang bisa dilakukan di pagi hari, atau di malam hari. Adakah tempat yang khas di Samarinda, kebetulan acara yang harus saya ikuti adalah di Hotel Bumi Senyiur yang berada di pusat Kota Samarinda.
Ternyata tempat saya menginap tidak jauh dengan Tepian Sungai Mahakam. Pikiran saya langsung beriniat 'esok pagi saya akan jalan-jalan menuju tepian Sungai Mahakam, sekaligus melihat geliat kehidupan pagi di Samarinda.
Pagi hari sekitar pukul 6 pagi, saya mulai berjalan menuju tepian Sungai Mahakan dengan berjalan kaki mengikuti petunjuk google map. Sepanjang jalan saya melihat para pedagang buah, sayur dan toko kelontong mulai menata barang dagangannya, namun banyak juga agaknya pedagang yang masih tutup.
Sesampai di tepian Sungai Mahakam saya melihat para pedagang sayur dan buah di tepi Sungai dan beberapa warung yang didirikan di tepi sungai yang sebagian bangunannya berada di atas air (jasa jadi ingat tepian sungai Barito Banjarmasin). Sebenarnya kawasan ini bisa lho dijadikan tempat wisata yang dikelola dengan baik.
Saya berkenalan dengan Bapak tukang perahu, mereka sambil menawarkan jasa untuk menyeberang sungai Mahakam dengan tarif Rp 100 ribu pergi-pulang. Namun demikian karena saya memiliki agenda yang lain maka saat itu saya tidak menggunakan jasa beliau.
Beliau juga menceritakan bahwa di Samarinda banyak pendatang yang mengais rejeki di Tepian sungai tersebut termasuk para pedagang, supir angkot, dan mereka-mereka yang membuka warung di tepian sungai.
Jalan-jalan pagi saya akhiri dengan menyantap semangkuk Soto Banjar yang tidak jauh dari tepian Sungai. Dengan 15 ribu rupiah sudah merasa sangat kenyanng. Kuah Soto Banjar memang sedap, segar dan mak nyes hangat di perut.
Pagi itu saya memiliki kesan bahwa Samarinda masih memerlukan pengelolaan untuk bisa menjadi lebih baik. Masyarakat Samarinda adalah pejuang yang tak kenal lelah dapat dilihat dari berbagai upaya mereka mengais rejeki dengan nilai-nilai kejujuran masyarakatnya.
Biar Tisu Tidak Dicuri, Warga Jepang Pasang Kutukan di Toilet
Ada peristiwa unik di tengah wabah virus Corona. Gara-gara banyak kasus pencurian tisu toilet, sebuah toko di Jepang memasang 'mantra' kutukan di toilet mereka.
Tisu toilet jadi benda yang paling dicari traveler di saat pandemi Corona seperti sekarang. Banyak orang yang memborongnya di supermarket. Banyak pula orang yang kehabisan, kemudian mencuri tisu toilet ini di tempat umum.
Mink Itachibe, seorang pegawai konbini alias minimarket di kota Niigata, Jepang pun kesal tak kepalang, lantaran tisu toilet di tokonya bisa hilang 3-5 buah setiap harinya.
Tak kurang akal, Mink pun menaruh rangkaian mantra kutukan di depan toiletnya. Mantra itu ditulis di atas kertas, isinya berupa tulisan huruf kanji dan juga gambar 3 mata yang disusun segitiga. Ada 4 buah mantra yang dirangkai dan dipasang Mink tepat di depan toilet.
Mantra tersebut dipercaya akan memberikan kutukan bagi siapa saja yang mencuri di tempat tersebut. Beberapa pemilik toko percaya gambar mata 3 akan memberi kesan tempat itu sudah diawasi dari pencuri.
Mink pun membagikan foto mantra yang dibuatnya di media sosial Twitter. Hasilnya, postingan Mink pun jadi viral dan sampai saat ini sudah diretweet puluhan ribuan kali.