Minggu, 22 Maret 2020

Batal Liburan, Wanita Ini Ciptakan Wahana Disney World di Rumah

Seorang wanita asal Washington batal untuk berwisata ke Disney World. Namun, hal ini membuatnya kreatif untuk ciptakan wahana sendiri di dalam rumah.
dilansir dari Insider, Disney World telah ditutup sementara untuk mencegah penyebaran virus Corona. Akibatnya, ribuan orang terpaksa membatalkan rencana liburan mereka.

Namun, seorang wanita yang juga gagal untuk berwisata ke Disney World menemukan cara baru untuk tetap mendapat hiburan walaupun harus tetap di rumah. Dia menciptakan wahana-wahana yang ada di Disney World dengan peralatan seadanya di dalam rumah.

Wanita bernama Jess Siswick mengatakan kepada Insider bahwa dia berencana pergi ke Florida untuk keperluan kerja sekaligus liburan ke Disney World. Tetapi, dia harus membatalkan liburannya karena virus Corona.

"Sahabatku akan terbang dan kami akan memiliki akhir pekan yang luar biasa ini dan aku harus membatalkannya," kata Siswick.

Untuk melupakan kekecewaannya, Siswick membuat video yang menggambarkan dirinya sedang berada di Disney World, padahal dia berada di dalam rumah. Video pertamanya menunjukan Siswick seakan memasuki taman hiburan saat pengecekan tiket.

Siswick juga seakan menaiki salah satu wahan Disney World, Mad Tea Party dengan menggunakan kursi yang dapat berputar. Setelah itu, dia menggunakan bola kristal yang menggambarkan wahana The Haunted Mansion.

Tak sampai di situ, Siswick berlanjut ke wahana terbaru Disney World yaitu Star Wars : Rise of the Resistance.

"Ketika dunia terbakar di luar, kamu akan melakukan apa saja untuk membuat dirimu tertawa dan merasa bahagia," kata Siswick.

Petualangan imajinasinya berlanjut ke wahana Soarin, di mana pengunjung ditempatkan di depan layar raksasa. Saat menaiki wahana ini, pengunjung merasa seolah-olah mereka terbang ke landmark terkenal.Pengunjung juga akan merasakan aroma yang membuat perjalanan lebih realistis.

Di setiap video, Siswick menulis tagar #homemadedisney. Semenjak itu banyak orang-orang yang mengikuti videonya.

Maskapai Jepang Melawan Virus Corona

Jepang tak luput dari pandemi Corona. Tak lockdown, Jepang memilih berperang bersama, termasuk lewat maskapai.

Jepang tak hanya serius melakukan pencegahan penyebaran virus Corona di masyarakat. Tapi juga lewat transportasi seperti pesawat.

Japan Airlines (JAL) dan All Nippon Airways (ANA), menjadi dua maskapai kebanggaan Jepang. Penumpang pesawat menurun drastis, jelas. Namun masih ada beberapa rute yang dilayani. Dua maskapai ini melakukan langkah-langkah dalam pencegahan penyebaran virus Corona.

Diintip detikcom dari situs resmi JAL dan ANA, berikut langkah yang akan dilakukan oleh dua maskapai Jepang dalam melawan virus Corona:

1. Pengurangan rute penerbangan

Jepang tak melakukan sistem lockdown. Namun ada beberapa rute penerbangan yang di kurangi. Rute ini termasuk penerbangan internasional dan domestik.

2. Kualitas udara kabin pesawat

Tiap armada yang dimiliki oleh JAL dan ANA akan menjaga sirkulasi udara di dalam pesawat. Kabin pesawat akan dialiri udara segar tiap dua hingga tiga menit.

Kemudian ada sistem HIgh Efficiency Particular Air atau HEPA yang merupakan filter dirancang untuk memfilter 99,97 persen partikel artikel udara halus yang lebih besar dari 0,3 mikrometer.

3. Menggunakan masker dan sarung tangan

Seluruh staff maskapai hingga awak kabin akan menggunakan masker dan sarung tangan. Kebijakan ini akan diberlakukan di penerbangan internasional dan domestik.

Masker dan sarung tangan akan tetap digunakan selama penerbangan. Termasuk saat menyajikan makanan dan minuman.

4. Pembatasan masuk ke Jepang

Jepang juga memberlakukan pembatasan bagai beberapa traveler. Khususnya untuk traveler yang baru saja mengunjungi beberapa area terdampak virus Corona.

Traveler yang baru saja mengunjungi daerah-daerah terdampak akan diminta untuk dikarantina selama 14 hari.

5. Disinfektan kabin pesawat

Pesawat yang beroperasi akan dibersihkan dengan disinfektan. Seluruh area seperti meja, kursi, sandaran lengan, monitor atau pengontrol IFE, toilet akan dibersihkan dengan disinfektan.

6. Lounge

Semua makanan dan minuman yang berada di Lounge akan disiapkan secara individual. Pilihan makanan pun akan sangat terbatas.

7. Hand sanitizer

Hand sanitizer yang berbentuk gel atau cair diizinkan untuk masuk dalam kabin. Sanitizer hanya boleh digunakan untuk tubuh tidak untuk disemprot di udara.

8. Tiket

Pandemi Corona membuat beberapa negara menutup diri. Untuk traveler yang sudah terlajur membeli tiket perjalanan dengan maskapai JAL atau ANA ke Jepang bisa menghubungi agen perjalanan untuk refund.

Penanganan Corona di Hong Kong dan Jepang, Mana yang Terbaik?

 Hong Kong dan Tokyo, Jepang memiliki perbedaan kentara soal penanganan virus Corona, terutama di bandaranya. Manakah yang lebih baik atau benar?
Dilansir CNN, Jumat (20/3/2020), penumpang yang turun dari Bandara Internasional Hong Kong harus langsung ke area karantina di lantai bawah. Di sana ada beberapa pemeriksaan kesehatan dan keamanan.

Penumpang yang tiba akan diukur temperatur suhu badannya, mengisi kuesioner terperinci yang menunjukkan belum pernah melakukan perjalanan ke China, Italia, Korea Selatan atau hotspot Corona lainnya.

Dua petugas karantina akan memberi daftar petunjuk setelah penumpang meninggalkan bandara. Di dalamnya ada aturan mengukur suhu tubuh dua kali sehari dan segera melaporkan gejala-gejala abnormal ke pusat kesehatan.

Pemerintah Hong Kong mengumumkan bahwa pada minggu ini ada aturan baru. Siapa pun yang datang dari negara asing diharuskan melakukan karantina sendiri selama dua minggu.

Tak hanya itu, mereka juga akan diberi gelang pemantauan elektronik. Alat ini akan memberi tahu pihak berwenang jika ada yang meninggalkan rumah atau hotel.

Langkah-langkah Hong Kong memang amat intens untuk membendung virus Corona. Jumlah kasus di sana tetap di angka 167 meski berbatasan dengan China dan sebagian besar penyebaran dari para turis.

Di luar bandara, warga Hong Kong yang keluar selalu mengenakan masker. Kota ini jelas belajar pelajaran menyakitkan dari wabah SARS tahun 2003, ketika sekitar 300 warganya meninggal dunia.

Hong Kong telah menutup sekolah-sekolah, perpustakaan umum, dan museumnya lebih awal. Pemerintah juga mendesak orang untuk bekerja dari rumah (work from home), hasilnya tak banyak kasus di bulan Februari.

Pemerintah tidak menutup bar dan restoran. Namun, ketika Corona tiba di Hong Kong sudah banyak orang yang mengerti dan lebih banyak tinggal di rumah.

Kontras dengan Jepang

Pesawat yang tiba di Bandara Narita Tokyo, Jepang akan berhenti di gerbang seperti biasa. Penumpang akan berjalan lebih dari 500 meter ke kantor karantina di mana sekitar 10 petugas akan memproses semua orang yang datang.

Tidak ada yang mengukur suhu tubuh. Penumpang memang sudah berjalan melewati kamera pemindai suhu namun kurang akurat jika banyak yang memakai jaket tebal.

Petugas karantina akan memberi formulir yang meminta turis agar tetap di rumah selama 14 hari, memeriksa suhu tubuh saya setiap hari, dan menghindari transportasi umum.

Namun, itu hanya permintaan dan tidak ditegakkan. Anda masih bisa ke manapun. Negara-negara lain telah menyatakan keadaan darurat dan lockdown, tapi Perdana Menteri Shinzo Abe mengatakan bahwa situasi di Jepang belum bisa menegakkan keadaan darurat.

Di Tokyo, sementara banyak sekolah ditutup, beberapa pertemuan besar dibatalkan, dan sebagian orang bekerja dari rumah. Tapi, sebagian besar bar dan restoran tetap buka, banyak orang yang masih menggunakan transportasi umum, dan orang tua masih membawa anak-anak mereka ke luar rumah untuk bermain tanpa masker.

Jepang tidak lockdown, kata Abe merujuk pada data di mana hanya ada sedikit kasus Corona yang terkonfirmasi di Jepang. Negara dengan 125 juta penduduk ini memiliki 873 warga yang terkena Corona, bandingkan dengan jumlah 31.506 di Italia, 16.169 di Iran, dan 8.413 di Korea Selatan.

Jepang hanya menguji sebagian kecil warganya dibanding negara lain, yakni sejumlah 14.525 orang. Pejabatnya mengatakan akan ada pengujian 8.000 orang per hari di akhir bulan ini.

Pengujian yang meluas ini adalah satu-satunya cara untuk mengetahui dengan pasti apakah ketenangan di Tokyo adalah gambaran nyata dari situasi wabah Corona di Jepang. Atau, apakah itu benar-benar ketenangan sebelum badai?