Sabtu, 14 Maret 2020

Pasca Tsunami, Menpar: Pariwisata Selat Sunda Bangkit

Pasca Tsunami Selat Sunda pada akhir Desember 2018 kemarin, perlahan Lampung dan Banten bangkit. Tak ketinggalan, sektor pariwisatanya.

Kementerian Pariwisata menggelar 'Rapat Koordinasi Pemulihan Sektor Pariwisata Selat Sunda Bangkit' di Marbella Hotel, Anyer, Serang pada hari ini, Jumat (11/1/2019). Hadir Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, Gubernur Lampung M Ridho Ficardo, Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy, serta stakeholder terkait pariwisata baik dari pihak Dinas Pariwisata sampai perwakilan hotel-hotel.

"Cara meyakinkan orang untuk berwisata adalah dengan datang langsung. Saya sekarang datang ke sini untuk meyakinkan bahwa pariwisata di Banten dan Lampung sudah bisa dikunjungi," kata Menpar Arief Yahya.

Arief menjelaskan, Kementerian Pariwisata mendukung penuh untuk rehabilitasi dan normalisasi pariwisata Lampung dan Banten. Beberapa di antaranya seperti pemulihan SDM, pemasaran dan pemulihan destinasi.

"Kementerian Pariwisata memberikan anggaran untuk pemulihan. Silakan digunakan sebaik-baiknya," ujar Arief.

Arief juga menegaskan, untuk perbaikan jalan, air, listrik dan sebagainya, Kemenpar akan membantu untuk koordinasi dengan kementarian terkait. Selain itu, rencana pemasaran dan promosi pun sudah disiapkan.

"Tahap recovery 3 bulan pasca gempa yakni perhitungan dampak krisis, mendorong penyelenggaran event internasional dan nasional, serta publikasi dan promosi pariwisata," papar Arief.

Ada 23 kegiatan promosi yang siap dilakukan, yakni 20 event sekala nasional dan 3 event sekala internasional. Pelan-pelan, pariwisata Banten dan Lampung akan bangkit demi para wisatawan.

"Kita semua di sini sepakat untuk mengaungkan Selat Sunda bangkit!" tutup Arief.

Melihat Jepang Tempo Dulu, Ini Tempatnya

Jepang dikenal sebagai negara yang serba modern. Tapi traveler bisa juga melihat Jepang tempo dulu. Semua itu ada di Edo Wonderland.

Ketika memutuskan untuk berlibur ke Tokyo bersama suami di minggu terakhir November ini, saya sebenarnya tidak terlalu bersemangat dikarenakan pikir saya perjalanan ke Tokyo kali ini akan berakhir sama saja seperti perjalanan saya tahun-tahun sebelumnya. Ternyata saya salah!

Beberapa hari sebelum berangkat saya justru tidak sabar untuk pergi mengunjungi Tokyo karena saya menemukan tempat yang sangat unik hasil searchin sana-searching sini. Persiapan pun saya lakukan untuk mengunjungi tempat baru tersebut.

Saya yang biasanya sangat santai bahkan cenderung tidak ada persiapan khusus sebelum berangkat kali ini menjadi sangat ribet. Mulai dari riset masalah transportasi yang akan saya gunakan, cuaca di lokasi tersebut, apa saja yang bisa saya lakukan disana, dan lainnya.

Akhirnya tiba saatnya saya pergi ke Tokyo di tanggal 21 November 2018. Setibanya di Tokyo saya langsung menuju Osaka dan kembali ke Tokyo tanggal 24 November 2018. Hari berganti hari dan akhirnya Minggu menyapa, waktunya pergi ke Edo Wonderland!

Akan tetapi semangat dan semua rencana saya ini nyatanya sedikit berubah karena terlambat bangun yang dipersembahkan oleh cuaca yang sangat dingin dan badan yang sudah sedikit lelah dari perjalanan sebelumnya 3 hari di Osaka.

Saya baru berangkat dari hotel di daerah Shinjuku pukul 11.00 waktu setempat dan baru tiba di Kinugawa-Onsen Station sekitar pukul 14.30. Di stasiun tersebut ada bus yang akan membawa kita menuju Edo Wonderland dalam waktu sekitar 20 menit. Saya akhirnya menginjakkan kaki di Edo Wonderland pada pukul 15.00.

Memangnya Edo Wonderland semenarik itukah sampai saya rela menghabiskan 8 jam perjalanan untuk pergi menuju Edo Wonderland dan kembali ke Shinjuku? Mungkin pertanyaan itu ada terbersit saat baca cerita saya di atas? Jawabannya sederhana. Tentu saja menarik!

Transformasi Desa di Aceh, Dari Kumuh Jadi Instagramable

Kota Banda Aceh kini punya satu lagi spot foto yang instagramable. Mulanya desa ini terbilang kumuh lalu disulap jadi lokasi wisata baru.

Rumah-rumah dicat warna-warni serta dibikin mural. Letaknya ada di Bantaran Krueng Dho, Lorong Kerinci, Desa Seutui, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh, Aceh.

Proses pengecatan dilakukan secara sukarela oleh masyarakat. Beberapa rumah di sana dibikin mural pada dinding depan dan samping.

Mural yang dilukis mahasiswa dan warga itu memuat aneka gambar seperti tong sampah, susunan buku, ikan, burung serta lainnya. Tentunya, setiap mural ini mengandung arti tersendiri dan memang saat ini belum semua rumah warga selesai dibikin muralnya.

Tapi warga akan terus memoles tempat tinggal mereka. Di sana, tak hanya rumah yang dipermak, tembok pagar juga dicat dengan beragam warna. Di sekitar tembok warna pelangi ini, pengunjung dapat berfoto ria. Asyiknya, berkunjung ke sana saat ini tidak dipungut biaya apapun alias gratis.

Selain tampil fresh, suasana di kampung ini juga tergolong adem dan bersih. Jalanan sekeliling rumah warga sudah dipasang paving block. Dengan bergantinya cat rumah-rumah di sana, dusun itu pun sekarang jauh dari kesan kumuh. Lokasi ini bakal dijadikan tempat wisata baru di Banda Aceh.

Warga Dusun Kerinci juga sudah siap dengan kehadiran wisatawan. Mereka akan terus memperindah desa mereka dan rencananya di sepanjang jalan di bandaran sungai akan di pasang payung. Tujuannya, untuk menarik minat traveler.

Pembenahan itu sendiri dilakukan warga setelah dusun mereka masuk ke dalam program 'Kota Tanpa Kumuh'. Program ini digagas Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dengan tujuan untuk mempercepat penanganan permukiman kumuh di Indonesia.

Seorang warga Dusun Kerinci, Zul Mawardi, mengatakan bahwa cat untuk memoles rumah-rumah warga ini diberikan oleh Pemkot Banda Aceh. Sedangkan proses pengecatan dilakukan secara sukarela oleh masyarakat. Tempat ini pun jadi asyik untuk dikunjungi saat akhir pekan.

"Rumah yang sudah dicat ini 17 rumah dan delapan rumah sudah dibikin mural," kata Zul saat ditemui detikTravel, Jumat (11/1/2019).

"Masyarakat cukup mendukung program Kotaku karena menjadikan desa nampak bersih. Warga senang," jelas Zul yang ikut membuat beberapa mural di sana.

Sementara itu, Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman mengatakan proses pengecatan rumah yang dilakukan warga Seutui merupakan gerakan memperindah kawasan hunian. Gerakan ini dimulai dari bantaran Krueng Dho dan akan dilanjutkan ke kawasan lain, seperti bantaran Krueng Daroy.

"Kita harap desa ini semakin cantik, indah dan semakin maju sehingga akan menjadi daya tarik sebagai destinasi wisata baru di Banda Aceh," kata Aminullah beberapa waktu lalu.

"Ini bukan hanya sekadar kita percantik dengan cat warna warni, tapi juga akan kita dukung dengan kebersihan. Di sini nanti akan kita berikan boat kecil untuk mengangkut sampah di sungai ini. Wisata harus didukung dengan kebersihan. Saya harap warga ikut bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan kita," ungkap Aminullah.

Menurut Aminullah, Banda Aceh melalui program 'Kotaku' sudah berhasil mengatasi kawasan kumuh mencapai 465,24 hektare hingga akhir tahun 2018. Hingga nantinya seluruh wilayah dalam kota utama Aceh itu bebas kumuh sepenuhnya.

"Totalnya ada 485,29 hektare kawasan kumuh, artinya hanya tinggal 20 hektare lagi. Program Kotaku yang bersumber dari APBN ini akan kembali dilanjutkan tahun ini. Insya Allah tahun 2019 Banda Aceh akan zero kawasan kumuh," ujar Aminullah.