Selasa, 21 Januari 2020

Kabar Gelombang Tinggi Tak Surutkan Wisatawan ke Parangtritis

Gelombang tinggi di Pantai Selatan Jawa beberapa hari ini, tidak berdampak pada kunjungan wisata di kawasan Pantai Parangtritis. Suasananya masih ramai.

Tercatat hari ini ada ribuan wisatawan yang mengunjungi kawasan tersebut. Pantauan detikcom di Pantai Parangtritis, gelombang air laut tampak tidak begitu tinggi. Akan tetapi, hembusan angin di Pantai yang berlokasi di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul ini sangatlah kencang.

"Jika dibanding hari biasa, ombak hari ini cukup tinggi, tapi kalau dibandingkan kemarin (Selasa 11/6/2019) ketinggiannya cenderung menurun. Karena kemarin itu (ketinggian ombak di Pantai Parangtritis) mencapai 5 sampai 6 meter," ucap anggota tim SAR Satlinmas wilayah III Parangtritis, Catur Wibowo, saat ditemui detikcom di Posko SAR Pantai Parangtritis, Rabu (12/6/2019).

Kendati demikian, Tim SAR tetap mengimbau kepada wisatawan agar tidak bermain air di Pantai Parangtritis. Mengingat terdapat beberapa titik palung di Pantai tersebut.

Salah seorang wisatawan, Kusminingsih (48), mengatakan bahwa ia telah mendengar kabar gelombang tinggi yang menerjang Pantai Selatan Jawa. Namun hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk mengunjungi Pantai Parangtritis.

"Sudah dengar kabar itu (adanya gelombang tinggi), tapi karena saudara terlanjur mengajak ke sini (Pantai Parangtritis) mau gimana lagi, kan yang penting tidak bermain air sampai ke tengah," katanya.

Lanjut warga Kota Yogyakarta ini, sebetulnya ia berencana untuk mengunjungi Pantai-pantai di Gunungkidul. Namun, karena jaraknya yang terbilang jauh, Kusminingsih memilih untuk mengunjungi Pantai Parangtritis.

"Karena kalau ke Parangtritis kan tidak terlalu jauh dari rumah. Selain itu pemandangan pantainya juga lumayan," ucapnya.

Terpisah, Koordinator TPR Parangtritis, Rokhmad Ridwanto mengatakan, bahwa hingga siang ini tercatat ada sekitar 4 ribu wisatawan yang berkunjung ke Pantai Parangtritis. Bahkan, saat gelombang pasang kemarin, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Pantai Parangtritis mencapai belasan ribu orang.

"Kemarin (Selasa 12/6/2019) memang ada kabar gelombang pasang, tapi untuk jumlah wisatawan mencapai 16.650 orang dan sampai siang ini sekitar 4 ribu orang," ucapnya saat saat ditemui detikcom di TPR Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Rabu (12/6/2019).

Menurutnya, penurunan jumlah kunjungan wisata hari ini karena sebagian besar pemudik telah kembali ke perantauan. Akan tetapi, ia menilai semakin sore jumlah wisatawan yang datang akan semakin bertambah karena saat ini masih masuk libur sekolah.

Primadona Baru di Raja Ampat, Pulau Bonbedar

Raja Ampat bukan cuma Waisai atau Wayag. Di Distrik Wawarbomi ada sebuah pulau tak berpenghuni yang jadi calon primadona baru Raja Ampat, Pulau Bonbedar.

Potensi Pariwisata Raja Ampat seolah tak ada habisnya untuk dieksplorasi. Beberapa spot wisata baru, kini mulai bermunculan di beberapa pulau tak berpenghuni.

Ini semua berkat inisiasi masyarakat lokal untuk mengembangkan pulau-pulau tersebut menjadi kawasan wisata baru. Salah satunya yakni Pulau Bonbedar.

Pulau mungil nan indah tanpa penghuni itu, terletak di Distrik Wawarbomi Kabupaten Raja Ampat. Letaknya memang agak jauh ke wilayah Pantai Utara.

Traveler yang berangkat dari Waisai bisa menggunakan speedboat dengan jarak tempuh 3 jam pelayaran. Memang cukup lama.

Namun saat tiba di pulau ini, traveler akan disuguhkan dengan suasana dan pemandangan yang menawan. Masih enggak percaya?

Ada hamparan pasir putih yang menyelimuti seluruh pulau. Warna toska biru lautnya menggetarkan. Sepoi angin membelai lembut. Oh, indahnya alam Raja Ampat.

Aktivitas menarik yang bisa dilakukan ditempat ini adalah mancing. Traveler bisa treking mengitari seluruh pulau dengan berjalan kaki. Traveler yang mau diving, menikmati mentari pagi, dan senja yang merona serta surfing bisa bermain di sisi timur pulau.

Bagaimana traveler, kamu sudah tergoda belum?

Desa Praijing, Adat dan Bukti Kemajuan Pendidikan

Desa adat agaknya dekat dengan kumpulan masyarakat yang ketinggalan zaman. Tapi tidak dengan Desa Praijing. Desa adat ini sangat peduli dengan pendidikan.

Mempertahankan tradisi dan adat istiadat bukan berarti menutup diri dari perkembangan informasi dan teknologi dari luar. Setidaknya inilah yang dibuktikan Desa Adat Praijing di Sumba.

Desa Adat Praijing yang memiliki 38 rumah tradisional ini terletak di Desa Tebara, Kecamatan Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dari ibukota Sumba Barat Daya, Tambolaka, desa ini berjarak sekitar 46 km.

Sengaja saya berkunjung di pagi hari agar belum terlalu banyak pengunjung untuk bisa lebih leluasa mengeksplor desa ini. Memasuki kawasan desa, saya disambut oleh pepohonan yang tinggi membuat matahari tidak terlalu terik menerpa. Dengan jalanan yang menanjak, mobil kami diperbolehkan mengantar ke deretan rumah di bagian atas namun harus parkir di tempat yang telah disediakan di bawah.

Melangkahkan kaki memasuki deretan rumah adat, saya bertemu dengan seorang wanita yang sedang menemani anaknya makan. Kami duduk di depan sebuah batu megalitik yang ternyata merupakan sebuah makam dan menyempatkan berbincang dengannya.

Beliau bercerita bahwa makam ini dapat diisi oleh beberapa orang dalam satu keluarga. Saya terheran-heran bagaimana caranya memasukkan jenazah ke dalam makam dengan atap batu yang jelas kelihatan tidak ringan.

Namun jika diperhatikan, terdapat sebuah pintu batu yang disemen di samping makam yang digunakan untuk memasukkan jenazah. Meskipun keheranan saya tidak berkurang karena kecilnya pintu tersebut.

Selesai berbincang dengan beliau, saya menuju rumah paling depan dari kawasan rumah adat ini. Seorang ibu paruh baya berada di beranda rumah dan membuat saya tertarik untuk menyapa dan bertanya apakah boleh melihat isi rumahnya. Betapa senangnya ketika beliau memperbolehkan saya masuk ke rumahnya.

Rumah adat ini memiliki beberapa bagian. Bagian bawah diperuntukkan untuk hewan ternak, bagian tengah untuk penghuni, sedangkan bagian atas digunakan sebagai tempat menyimpan makanan dan benda-benda pusaka.

Untuk memasuki rumah tradisional Sumba juga tidak bisa sembarangan. Ada dua buah pintu berbeda yang diperuntukkan bagi laki-laki dan perempuan. Kepala rumah tangga dan ibu harus masuk dari pintu yang berlainan, di dalam rumah pun ada pemisah sebagai batas dimana seorang laki-laki atau perempuan boleh berada.

Ibu tersebut memiliki seorang anak lelaki yang berbahasa Indonesia dengan sangat baik. Beliau juga yang menjelaskan mengenai rumah adat ini.
Rumah ini begitu menarik, tapi tiba-tiba mata saya tertuju pada poster dan foto yang ditempelkan di dinding kayu rumah bagian depan.

Terpampang beberapa foto perempuan muda yang ternyata merupakan anak ibu ini yang kuliah di Jawa dan sekarang telah bekerja. Saya terkagum-kagum karena meskipun berasal dari desa adat, penduduk di sini memiliki pemikiran yang maju dan sangat mementingkan pendidikan.

Tidak hanya itu, saya bertemu dengan Charlie Puth! Ya, saya melihat posternya diantara foto-foto di dinding tersebut. Di sinilah saya menyadari betapa kemajuan informasi dan teknologi juga masuk ke desa yang masih menjunjung adat istiadat ini. Tentu saja hal ini karena mereka menyadari bahwa pengaruh dari luar tidak selalu buruk.

Saya bertemu lagi dengan ibu yang sebelumnya berbincang di depan desa dan diajak mampir ke rumahnya. Di depan rumahnya, ada seorang nenek yang sedang menganyam. Anyaman yang dibuatnya berupa tas atau keranjang. Salut sekali saya dengan umur yang tidak muda lagi beliau masih produktif.

Anak-anak kecil di sini pun belajar di sekolah. Jadi, jangan heran kalau kita tiba-tiba mendengar mereka bermain sambil bernyanyi lagu anak-anak berbahasa Inggris. Dan jika berkunjung ke Sumba, sebaiknya membawa buku untuk diberikan kepada anak-anak di sini. Mereka akan senang sekali menerima buku dari kita.

Saya menyempatkan melihat ke rumah-rumah yang terletak di bagian bawah dan sebagian masih dalam proses pembangunan akibat kebakaran yang pernah melanda. Keramahannya tetap saya temui, bahkan beberapa orang pria paruh baya dengan senangnya diajak berfoto.

Semakin siang semakin banyak wisatawan yang berkunjung, tidak hanya wisatawan nusantara tapi juga mancanegara.

Kunjungan yang hanya beberapa jam di Desa Praijing ini tidak hanya menambah wawasan wisata saya tapi juga memberikan ilmu dan membuka mata saya bahwa yang namanya tradisi dan adat istiadat bisa sejalan dengan kemajuan jaman tanpa menggerus adat itu sendiri.