Senin, 30 Desember 2019

Cuma Modal Dengkul, Bisa Nikmati Lautan Awan Gunung Sindoro

Menikmati pemandangan indah lautan awan Gunung Sindoro tak perlu modal banyak. Cukup dengkul yang sehat dan tenaga yang kuat, kamu sudah bisa merasakannya!

Pernahkah terlintas di pikiran kalian, untuk menikmati lautan awan dan gemerlap lampu kota hanya bisa dilihat ketika kita naik pesawat dan terbang di ketinggian kurang lebih 35.000 kaki. Untuk hal tersebut mungkin kalian harus merogoh kocek seharga endorse di akun selebgram terkenal.

Lalu bagaimana caranya dengan hanya modal lutut dapat menikmati lautan awan dan gemerlap lampu kota? Mendakilah!

Mungkin bagi kaum milenial tidak asing lagi dengan dunia pendakian. Sekarang banyak para pendaki bermunculun di gunung, baik itu dengan peralatan lengkap maupun dengan peralatan ala kadarnya. Banyak gunung di Jawa Tengah yang setiap weekend ramai dikunjungi para pendaki.

Salah satunya Gunung Sindoro. Salah satu gunung yang memiliki spot view mantul ini rekomended sekali untuk kalian para pendaki. Dengan biaya retribusi yang cukup murah yaitu Rp 15.000, kalian akan mendapatkan pesona keindahan lautan awan Gunung Sindoro dan beberapa view gunung-gunung di jawa tengah.

H+3 Lebaran Idul Fitri yang lalu, saya dan 2 teman memutuskan untuk mendaki ke Gunung Sindoro dimana cuaca saat itu musim kemarau. Musim kemarau semua gunung akan menghadirkan pemandangan yang sangat indah dan inilah surganya para pendaki.

Akan tetapi, meskipun musim kemarau jangan lupa perlengkapan harus lengkap, tak terkecuali jas hujan untuk berjaga-jaga apabila tiba-tiba hujan karena kita tidak akan tahu kondisi cuaca di gunung.

Sebelum melakukan pendakian, dari pihak basecamp akan melakukan pengecekan satu persatu apa saja yang dibawa oleh para pendaki. Kita tidak diperbolehkan membawa tisu basah dan perlengkapan harus lengkap jika tidak maka kalian harus skip dulu untuk mendaki. Menurut saya ini sangat membantu demi menjaga kelestarian gunung dan juga keselamatan para pendaki. jadilah pendaki yang safety dan taati peraturan yang berlaku di setiap gunung.

Setelah dilakukan pengecekan dari pihak basecamp. Kita start mendaki sekitar pukul 11.00 siang. memang cukup siang untuk start karena saat itu jumlah pendaki Gunung Sindoro kurang lebih 1000 orang dan petugas pengecekan dari pihak basecamp yang saya rasa kurang jumlah personil sehingga cukup lama untuk melakukan pengecekan satu persatu.

Kita mendapat mandat dari pihak basecamp untuk turun dari puncak sebelum jam 12 siang. Dimana Gunung Sindoro yang masih aktif ini mengeluarkan belerang yang mungkin berbahaya bagi para pendaki.

Kita sampai di camp ground atau pos 3 sekitar pukul 5 sore. Cukup lama. Ya karena kita pendaki bukan pelari. Seperti yang dilakukan setiap para pendaki, tiba di camp ground atau pos 3 kita melakukan ritual bongkar-bongkar tas carrier dan Isoma.

Dari campground kita melakukan pendakian ke puncak sekitar pukul 3 dini hari. selama perjalanan ke puncak di ketinggian sekitar 2800 Mdpl kita dimanjakan dengan pemandangan gemerlap lampu kota wonosobo. Sekitar jam 5 pagi kita akan melihat awan-awan mulai berkumpul dan jangan lupa untuk menikmati sunrise karena ini juga merupakan salah satu bonus bagi para pendaki.

Sekitar jam 8 pagi saya sampai puncak Gunung Sindoro. Dari puncak kita bisa melihat lautan awan yang mengelilingi Gunung Sumbing dan Sindoro. Beberapa gunung lainnya seperti Gunung Merapi, Merbabu, dan Lawu juga dapat kita lihat dengan sangat indah.

Ingat, sobat dtraveler yang ingin mendaki Gunung Sindoro diperlukan latihan fisik karena medan yang cukup terjal. Tidak disarankan untuk pendaki pemula ya!

Minggu, 29 Desember 2019

Restoran Instagramable Buat Kamu Coba di Solo

 Liburan ke Solo, ada banyak destinasi wisata kuliner. Salah satunya tempat makan kekinian yang instagramable di Karanganyar.

Grandis Barn, bertempat di Blukukan Dua, Blulukan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, ini memiliki menu makanan Nusantara dan western. Pengunjung akan ditawari beberapa menu yang isinya appetizer, main course dan dessert.

Tempat wisata kuliner ini berdesain rumah kayu dengan lampu-lampu cantik. Sebaiknya, traveler datang saat malam hari. Ada area outdoor dan indoor, keduanya punya tempat yang unik.

Selain santap lezat, ini adalah destinasi buat traveler yang suka foto-foto. Interiornya begitu artistik dan bergaya industrial. Cocok banget untuk kamu yang suka Instagram.

detikcom berkesempatan berkunjung ke Solo, Kamis (22/9/2019) dalam Jelajah Indonesia dengan Grab, dan menemui mitra Grab yang sering mengantarkan penumpang yang menyewa mobil di daerah Solo. Grab mempunyai fitur baru yaitu Grab Sewa, seharian kamu bisa diantar dengan mobil yang sama. Tak perlu repot membuat order baru.

Dengan menyewa Grab Car di Solo, kamu bisa menanyakan restoran cantik ini ke driver. Kamu juga menemukan beberapa tempat referensi wisata yang asyik lainnya. Joko Kristiyanto, selaku mitra Grab Car di Solo mengaku sering memberikan referensi wisata kepada penumpang.

"Jadi biasanya dulu sebelum ada Grab Sewa, itu sering dari penumpang nanya yang bagus mana. Nah setelah itu karena senang jadi mereka minta antar secara offline. Nah sekarang dengan adanya Grab Sewa mudah mudahan semakin bisa mengedepankan Grab dan pariwisata di Solo," ujar Joko saat ditemui di Grandis Barn Resto.

Selain bertemu Joko, detikcom juga bertemu dengan Tri Rahayu, mitra Grab Bike, seorang single parent yang menyekolahkan anaknya kelas 3 SMK. Tri membagi pengalamannya selama menjadi mitra Grab Bike.

"Saya pernah dapat customer dari Pati. Dia bilang, kalau perempuan jadi driver itu menakutkan, ternyata saya nyaman dengan perempuan. Alhamdulillah jangan lupa bintang 5-nya," ungkap Tri sambil tersenyum.

Berbincang dan kumpul bareng teman saat liburan ke Solo sangat nyaman dilakukan di Grandis Barn Resto. Tempatnya nyaman, membuat pengunjung tak ingin beranjak.

Tak sedikit wisatawan yang berfoto-foto di halaman restoran setelah selesai makan. Jika kamu ke Solo dan suka berfoto, cobalah datang ke Grandis Barn Resto.

Demi Like Instagram, Traveler Malah Berutang Rp 283 Juta

Di zaman serba media sosial, kadang orang melakukan apa saja demi likes di laman Instagram. Traveler ini misalnya, malah sampai berhutang Rp 283 juta.

Kisah itu pun dialami oleh seorang traveler asal Australia yang bernama Fiona Melbul (27). Perkara ingin likes banyak di Instagram dan membuat iri temannya di media sosial, ia sampai melakukan hal di luar nalar.

Dikumpulkan detikcom dari berbagai sumber, Senin (26/8/2019), semua berawal ketika saudara laki-lakinya berkeinginan untuk liburan ke AS seperti diberitakan media News Australia. Tanpa menyadari kemampuannya, Fiona nekat menemani saudaranya selama enam minggu.

"Anda mengambil 10 hingga 20 foto demi satu foto terbaik, mengunggahnya ke media sosial dan menunggu temanmu melihatnya. Kemudian kamu mendapat komentar dari temanmu yang iri dan itu membuatku merasa senang," ujar Fiona dalam pembicaraannya dengan media Current Affair.

Dijelaskan oleh Fiona, ia mengestimasi perjalanan selama enam minggu ke AS adalah sekitar USD 8.000 (Rp 113 juta) dalam bentuk kredit. Namun, tak disangka kalau pengeluarannya membengkak hingga USD 20.000 atau sekitar Rp 283 juta.

Pengeluaran yang luar biasa besar di luar batas kemampuan ekonominya itu pun membuat Fiona harus kembali tinggal bersama orangtuanya demi dapat melunasi kartu kreditnya.

Menurut psikolog ternama asal negeri kanguru, Christine Bagley-Jones, perilaku menghamburkan uang demi ketenaran di media sosial dianggap dapat menimbulkan kebahagiaan walau hanya sementara.

"Kita semua terhubung satu sama lain dan terus diingatkan akan hal yang dilakukan orang lain. Rasa iri dan membandingkan itu yang akhirnya memaksa suatu gaya hidup atau hal yang sejatinya bukan untuk kita," ujar Christine.

Ditambahkan Christine, beberapa pengguna media sosial mendapat gratifikasi sesaat dari mengeluarkan uang. Hanya efeknya adalah untuk jangka pendek dan bisa berakibat merusak untuk jangka panjang.

Demi ketenaran fana di media sosial, tren mengeluarkan uang di luar batas kemampuannya untuk memenuhi gaya hidup memang kerap menjadi masalah sosial. Traveler dituntut untuk lebih mawas diri.