Senin, 30 Desember 2019

Masjid di Cimahi Jadi Saksi Perjuangan Para Ulama Lawan Penjajah

Masjid Baiturrokhmah di Cimahi jadi saksi bisu perjuangan para ulama melawan penjajah. Dibangun pada 1938, masjid ini masih berdiri kokoh sampai sekarang.

Meski sempat dibombardir tentara Belanda, Masjid Baiturrokhmah masih tetap berdiri gagah. Deretan bom mortir sekutu gagal meledak saat menyentuh tanah masjid. Berbagai upaya Belanda untuk menyergap para ulama pejuang pun nihil dari jalur darat.

Di sini, para ulama pejuang yang tergabung dalam Laskar Hizbullah merangkai strategi pertempuran, sekaligus menyebarkan dakwah Tarikat Tijaniyah yang dipimpin ulama karismatik, KH Usman Dhomiri.

Cerita itu disampaikan H R Effendi, cucu pertama dari KH Usman Dhomiri. Menurutnya saat itu Cimahi masih diduduki Belanda.

"Dulu di sekeliling masjid dipasangi benteng kayu yang tebal, jadi zaman Hizbullah itu sekutu menembaki ke area masjid, tapi enggak ada yang kena," ujar Effendi, cucu dari KH Usman Dhomiri, belum lama ini.

"Jadi yang dulu dicari Belanda itu para ulama karena dianggap bisa menyatukan umat, mungkin karena karomah ulama zaman dulu, mereka bisa luput dari kejaran Belanda," kata Effendi.

Sosok KH Usman Dhomiri berperan besar dalam pembangunan masjid ini. Lahir di Maroko tahun 1870, beliau kemudian mengajarkan Tarekat Tijaniyah dan ilmu bela diri kepada para pengikutnya.

"Dari dulu memang tidak buka pesantren di sini, karena dulu ini adalah medan juang. Tapi eyang menerima murid yang mau belajar Tarekat Tijaniyah, sekarang mantan muridnya membuka pesantren di berbagai daerah," kata Effendi.

KH Usman Dhomiri tutup usia pada tahun 1955, jenazahnya dimakamkan di belakang Masjid Baiturrokhmah. Di sekeliling pusaranya, terdapat makam istri, anak dan sanak saudara beliau.

"Kalau tiap tanggal 22 Maulid ada gelaran haul untuk beliau. Yang datang bisa ribuan orang dari berbagai daerah," ujar Effendi.

Saat ini, kondisi bangunan masjid masih sama seperti saat pertama kali dibangun. Tetap satu lantai dengan enam kubah, interior di dalam masjid pun masih bergaya art deco dengan empat pilar yang menopang fondasi masjid.

Karena bentuk asli masjid masih terjaga, bangunan heritage ini lolos verifikasi cagar budaya dari Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) RI. Pemerintah Kota Cimahi pun mengabadikan sosok KH Usman Dhomiri menjadi nama jalan.

"Walau demikian, kami dari DKM masjid melakukan empat kali renovasi di bagian luar masjid karena terus bertambahnya jemaah, kalau di dalam masjid hanya bisa menampung 120-an jemaah," kata Iyus Rusdian, Ketua DKM Baiturrokhmah.

Masjid ini terletak di Jalan KH Usman Dhomiri, Padasuka, Cimahi Tengah, Kota Cimahi. Lokasinya berada di tengah-tengah kawasan padat penduduk. Traveler bisa mengunjunginya bila kebetulan sedang liburan di Cimahi.

2019 Pemuda Aceh Meriahkan HUT RI ke-74 dengan Tari Rapai Geleng

Sebanyak 2019 orang pemuda di Aceh Barat Daya (Abdya), memeriahkan HUT RI ke-74 dengan Tari Rapai Geleng. Pertunjukan itu diikuti perwakilan dari 152 desa.

Penampilan tarian rapai geleng digelar di lapangan Persada Blangpidie, Abdya, Sabtu (17/8/2019) kemarin. Penari mengenakan kostum merah dan kuning emas dan masing-masing memegang alat musik rapai.

Mereka duduk sesuai formasi. Penampilan diawali dengan iringan alunan seruling dan pembacaan hikayat kisah tentang kesenian dan budaya Aceh. Suara tabuhan rapai menggema.

Ketua Dewan Kesenian Abdya, Nazar Shah Alam, mengatakan, untuk penampilan rapai geleng, setiap desa di Abdya mengirim 12 penari. Mereka sudah mempersiapkannya selama sebulan untuk dapat tampil di hari kemerdekaan.

"Kita sengaja pilih 2019 penari karena bertepatan dengan angka tahun ini. Sementara momen 17 Agustus kita pilih agar pertunjukkan itu juga terhubung dengan semangat cinta tanah air. Kita harapkan penampilan kesenian akan menjadi catatan sejarah," kata Nazar kepada wartawan.

Begini Cara Merawat Naskah Proklamasi Asli Sampai Awet 74 Tahun

Naskah Proklamasi yang asli sudah berumur 74 tahun. Inilah harta karun dokumen negara. karena nilai sejarahnya. Cara merawatnya tidak boleh sembarangan.

Tim detikcom diizinkan meliput secara eksklusif naskah asli Proklamasi beberapa waktu lalu. Bukan di Istana Negara, museum atau tempat lainnya, adalah Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) yang berlokasi di Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan tempatnya.

Semua arsip negara yang penting akan melalui proses perawatan sebelum disimpan dalam depo atau ruang penyimpanan. Tak terkecuali Naskah Proklamasi asli yang berbentuk kertas atau disebut Proklamasi Klad.

Ada tahapan pra-restorasi untuk menentukan metode pengawetan dari sebuah arsip. Jadi, sebelum arsip Proklamasi masuk ke ruang khusus akan melalui ruangan restorasi.

"Arsip Proklamasi asli sudah kita lapisi, namanya enkapsulasi. Seperti laminating, tapi bahannya berbeda dan metodenya juga berbeda," jelas Direktur Preservasi ANRI Kandar.

Setelah melalui proses pelapisan, arsip akan dibawa ke ruangan yang sudah diatur suhu dan kelembapannya. Tentunya proses pelapisan ini tak akan merusak naskah yang sangat berharga itu.

"Iya untuk suhu ada di kisaran 18-20 (derajat Celcius) untuk arsip kertas ini standar daerah tropis. Kelembapannya 55+5 bolehlah. Kalau berubah drastis dan naik turun akan merusak kondisi arsip," jelas Kandar.

"Jadi kalau terlalu tinggi asam atau basahnya juga nggak bagus juga. Ini untuk pengawetan kertas," tambah Kandar.

Jika hal di atas tidak dilakukan maka kita sekarang tak memiliki bukti sejarah tentang kemerdekaan Indonesia. Karena bernilai tinggi, maka keawetannya pun diupayakan semaksimal mungkin meski naskah ini pernah dibuang oleh penulisnya.

"Ini mempengaruhi keawetan dari teks yang aslinya. Aslinya seperti ini tulisan tangan Bung Karno asli. Dan, ini nilai keramatnya sangat tinggi, ya dari secarik kertas ini dibuktikan diakui secara internasional," kata dia.

"Dulu teks Proklamasi pernah diremas dan dibuang ke tempat sampah. Ini memang dulu di antara para penyusun ada wartawan namanya BM Diah, nah setelah ini disepakati untuk menulis ini kesepakatannya luar biasa antara Sukarno, Soebardjo tokoh-tokoh pemuda yang cukup radikal dengan Bung Karno dan Hatta," tambah Kandar.

Kejadian pembuangan naskah Proklamasi asli dikarenakan sudah disalin melalui ketikan oleh Sayuti Melik. Namun, BM Diah, seorang wartawan yang menyadari itu, kemudian menyimpannya lalu diserahkan ke Presiden Soeharto setelah berpuluh-puluh tahun.

"Setelah sepakat luar biasa, Sayuti Melik mengetik teks Proklamasi, setelah diketik ceritanya ini dibuang ke tempat sampah. Karena BM Diah ini kan wartawan dan diselamatkan lalu disimpan di rumahnya di Jakarta. Lalu diserahkan ke Presiden Soeharto pada 29 Mei 1992," pungkas dia.

Barang yang telah dibuang kini sangat dijaga keberadaannya. Kita, sebagai penerus bangsa juga harus menghargainya.

Naskah Proklamasi bukanlah emas atau berlian, namun ia adalah harta karun dokumen bangsa. Setiap guratan kata-katanya adalah tekad, tekad dari setiap anak bangsa, yang menepikan perbedaan suku dan agama, memilih satu identitas baru bernama 'Bangsa Indonesia' dan lalu berjuang untuk mewujudkannya merdeka.

Malam itu, 16 Agustus 1945 hingga 17 Agustus 1945 dini hari selesailah sudah Naskah Proklamasi. Umurnya setua republik ini yang akan berulang tahun ke-74. Dengan upaya pengawetan yang luar biasa, Naskah Proklamasi bisa ikut mengarungi zaman sampai terus ke masa depan Indonesia.