Sabtu, 28 Desember 2019

Menikmati Kota Kembang dari Sisi Lain, Bagaimana Caranya?

Bandung adalah tempat wisata alternatif buat warga Jabodetabek karena lokasinya yang dekat dan banyak terdapat tempat wisata baik wisata alam maupun wisata kuliner. Tak ayal Bandung sering macet di waktu weekend karena banyak sekali orang luar kota datang ke Bandung untuk berwisata. Tak terkecuali aku sebagai orang yang masih suka sekali berwisata ke Bandung.

Semakin hari tempat wisata di Bandung semakin banyak, beragam dan indah-indah. Tapi kali ini aku ingin menikmati Bandung dari sisi lain dan tak biasa yaitu cukup berjalan-jalan di pusat kota tepatnya area Stasiun Bandung. Ternyata dari Stasiun Bandung ini masih banyak tempat-tempat menarik yang belum aku kunjungi.

Menikmati Bandung di pagi hari adalah saat yang tepat dengan pergi ke Alun-alun Bandung. Ternyata alun-alun ini ramai sekali dan banyak orang membawa serta keluarganya di alun-alun ini. Walaupun terik matahari pagi tak dapat dipungkiri panasnya. Tapi senang sekali jalan-jalan dan berteduh sambil menikmati kupat tahu Bandung yang dijual dengan menggunakan gerobak di pinggir jalan.

Menyusuri jalanan Bandung yang penuh dengan bangunan-bangunan kuno dan heritage seperti Gedung KAA Bandung. Mengingatkanku akan bahasan skripsi saat kuliah dulu. Bangunan-bangunan yang hanya kulihat di buku-buku kuliah, pada akhirnya bisa kulihat secara langsung.

Berlanjut menelusuri Gedung Tusuk Sate yang juga merupakan bangunan bersejarah. Saat melihat bangunan ini di buku langsung bermimpi ingin melihat langsung bangunannya suatu saat nanti. Alhamdulilah tepat di depan mata bangunan ini terlihat dengan jelas. Tak kusangka apa yang tadinya aku kira tak mungkin bisa jadi mungkin untuk terwujud.

Menyusuri kota Bandung di sisi lain yang belum pernah aku jamahi lebih seru ternyata. Cukup berjalan kaki dan naik ojol dengan biaya yang cukup murah sambil menikmati sepanjang jalan kota Bandung yang sebagian besar dipenuhi dengan bangunan-bangunan kuno. Serasa menerawang dan berada di masa lampau sambil mengenang sejarah Bandung yang hanya bisa diketahui melalui buku-buku pelajaran. Menyaksikan lalu lalang warga Bandung dengan dialek khas Sundanya serasa mengikuti alur cara mereka berbicara.

Menjelajahi pusat kota bersejarah di Bandung ini banyak cerita. Ternyata begitu banyak bangunan bersejarah yang masih terlantar dan tak terawat. Padahal sejatinya kalau semua terawat dengan baik akan menjadi sebuah cerita sejarah kenangan bagi anak cucu kita nanti. Namun ada juga bangunan sejarah yang harus hilang tergantikan bangunan modern yang lebih indah.

Menyusuri kota Bandung tak harus ke tempat-tempat wisata yang banyak diminati orang. Tapi menyusuri Kota Bandung akan lebih terasa nikmatnya dengan menulusuri ruang bersejarah yang ada di kota ini sebagai sebuah 'Extraordinary Traveling' yang sangat berkesan. Sampai-sampai kesasar namun tetap bisa kembali ke pusat kota. Apalagi kalau perginya bersama pasangan tentu tak akan terasa lelahnya.

Selain kota Bandung, aku juga mempunyai Dream Destination ke Dubai. Kenapa harus ke Dubai? Aku ingin melihat sisi lain dari Dubai di mana di sana adalah kota modern dengan bangunan-bangunan modern yang menakjubkan dan canggih. Sungguh sangat berbeda dengan Bandung, di mana bangunan yang ada di sini adalah menunjukkan sebuah perjalanan kota dari tahun ke tahun menuju kota modern tanpa meninggalkan bangunan sejarah yang ada.
Dubai dan Bandung adalah dua kota yang berbeda dalam segala hal. Aku berharap bisa ke Dubai dan ingin merasakan indahnya berkeliling di dunia modern yang selama ini hanya aku lihat di buku-buku. Semoga impian ini terwujud segera.

Pulau Penyengat Kini Sudah Menerapkan Wisata Digital

Pulau Penyengat tidak hanya sekedar sejarah saja tetapi sudah modern. Karena sudah mengikuti perkembangan zaman dengan penerapan wisata digital.
Kota Tanjungpinang terkenal dengan budaya dan sejarahnya, salah satunya Pulau Penyengat. Pulau yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Melayu. Dari Kota Tanjungpinang menuju Pulau Penyengat dibutuhkan waktu sekitar 15 menit dengan menggunakan kapal tradisonal. Yakni pompong. Sebutan warga lokal di sana.

Biasanya, kapal pompong akan berangkat setelah jumlah penumpang mencapai 15 orang. Harga naik transportasi tradisional ini per orang hanya dikenakan biaya Rp 7.500 sekali jalan. Kapalnya memang terlihat kecil, tetapi aman. Jangan kuatir, disediakan jaket pelampung untuk keselamatan diri. Terombang-ambing di lautan dan mendengar deru suara kapal pompong, karena mesinnya sangat berisik tidak menyurutkan keinginan untuk pergi ke Pulau Penyengat. Perjalanan di dalam kapal tradisional itu hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit.

Begitu sampai ke Dermaga Pulau Penyengat, nampak warna kuning di sepanjang jalan. Teman-teman bisa memilih ingin berjalan kaki mengelilingi Pulau Penyengat atau menggunakan bentor (becak motor). Kalau tidak salah ingat untuk becak motornya sekitar Rp 40.000 per jam.

Namun, bagi yang pertama kali berkunjung ke Pulau Penyengat dan tidak mau pusing dengan lokasi tempat yang wajib dikunjungi, naik becak motor ada manfaatnya juga. Sebab, teman akan dibawa ke tempat lokasi wisata antara lain Masjid Sultan Riau, gedung mesiu, Bukit Kursi, komplek makam Raja Abdurrahman, komplek makam Raja Ali Haji, istana kantor, melihat replika rumah adat di Balai Adat, dan menikmati spot photo Instagram di Pulau Penyengat.

Apalagi kalau datang akhir pekan, khususnya hari Minggu bisa melihat pasar warisan Pulau Penyengat yang menjual kuliner khas Melayu di Bukit Kursi. Penasaran kan? Aku saja baru sekali mengecap air dohot di Pasar Warisan Pulau Penyengat dan jatuh hati dengan cita rasa minuman air dohot ini. Harga per gelasnya kalau tidak salah ingat hanya Rp 8.000 saja.

Segarnya air dohot ini membuat aku ingin mencoba lagi, kalau liburan ke Pulau Penyengat. Perpaduan asam dan manis, serta buah-buahan antara lain kurma merah, buah dohot, kismis dan beberapa lainnya menciptakan cita rasa yang unik, namun ngangenin. Bagi teman yang beragama muslim, menikmati waktu salat di Masjid Penyengat akan membawa sensasi tersendiri.

Bangunan masjid yang penuh dengan sejarah. Di mana masjid ini dibangun dengan menggunakan pencampuran putih telur. Ada beragam versi cerita terkait proses pembangunan Masjid Penyengat ini. Bahkan arsitetur bangunan Masjid Raya Sultan Riau ini mengadopsi bentuk bangunan Melayu, Arab, India dan Turkey. Tidak percaya? Silahkan datang sendiri saja.

Bagi teman yang tidak suka berkunjung ke makam, teman bisa bicara terlebih dahulu ke pengemudi becak motor agar tidak dibawa ke makam tokoh Melayu dan Raja Melayu. Namun, teman jangan melewatkan berkunjung ke Gedung Mesiu, Bukit kursi. Sebab, pemandangan benteng bukit kursi sangat mempesona. Teman bisa melihat pemandangan laut dan juga melihat meriam peninggalan Kesultanan Riau pada tahun 1700-an.

Yang paling menyenangkan lagi, ketika berada di replika rumah adat di Balai Adat. Selain bisa melihat dekorasi pengantin Melayu, teman juga bisa mencoba baju adat Melayu dengan membayar biasa uang sewa sekitar Rp 25.000 pada masa aku menggunakan baju adat Melayu dan mengambil beberapa photo dalam rumah maupun di kamar pengantin. Seru!

Tidak jauh dari sana, ada juga spot foto yang patut menjadi bagian koleksi ketika berkunjung ke Pulau Penyengat. Ada satu kota yang ingin banget aku kunjungi yakni Dubai. Alasannya, aku ingin merasakan melihat mobil terbang dengan menggunakan helikopter, atau menelusuri pantai yang ada AC-nya. Meski cuaca pantai panas, di bawah naungan payung ada AC yang membuat kita merasa sejuk. Unik banget kan Negara Dubai itu? Selain itu, melihat gemerlap malam Dubai dari gedung tertinggi, bakalan jadi pengalaman tak terlupakan. Kalau teman ingin ke Dubai ingin merasakan wisata seperti apa?