Sabtu, 28 Desember 2019

Terpesona dengan Nusa Penida, Ini Alasannya

Pernah mendengar Nusa Penida? Pulau seluas 314 km2 di Kabupaten Klungkung punya destinasi cantik dan anti mainstream.
Nusa Penida, The Hidden Paradise

Tak sulit untuk bisa sampai di pulau ini. Jika kita berangkat dengan flight paling pagi dari Jakarta, kita bisa sampai di Pantai Sanur pada sekitar pukul 08.00 WITA. Di sana speedboat yang akan bertolak ke Nusa Penida telah menunggu.

60 menit kemudian kita akan sampai ke sebuah pulau yang masih asri dengan pasir putihnya yang bersih. Kita juga akan disambut dengan driver sekaligus guide ramah yang bakal menemani seharian.

Bagi yang ingin eksplore ke Nusa Penida, baiknya reservasi jauh-jauh hari via biro travel yang menawarkan paket tour ke Nusa Penida. Agar liburan lebih terencana dan tidak menguras kantong.

Ketika itu saya memilih eksplore West Nusa Penida. Cristal Bay adalah tempat pertama yang saya singgahi. Datang ke pantai ini serasa berada di hidden paradise. Pasirnya berkilau bak butiran kristal.

Pantainya diapit dua bukit, seolah memberi kesan rahasianya pantai ini. Kita bisa bebas berenang maupun berselonjor kaki diatas pasir sembari melihat nelayan beraktivitas.
Ketika matahari kian tinggi, mobil yang saya tumpangi parkir di sebuah lereng bukit yang tampak terjal. Di situlah Angel Bilabong dan Broken Beach berlokasi.

Di sana kita bisa berselfie ria dengan latar belakang deburan ombak yang memecah karang. Atau kita bisa melakukan extreme fishing di laut lepas.

Dan satu lagi yang wajib didatangi, Klingking Beach (secret point). Lelah seketika lenyap tersapu oleh segarnya angin serta eksotisnya alam.

Begitulah indahnya sehari di Nusa Penida. Next impian saya bisa sehari keliling Dubai. Menyesap keindahan Jumeirah Beach, bersantai sejenak di The Palm atau terbang bersama Hot Air Balloon Dubai.

Sangiran Punya 5 Museum yang Bisa Kamu Kunjungi dalam Sehari

Belajar tentang geologi, arkeologi, biologi sekaligus berwisata dapat dilakukan di lima museum di Sangiran. Hanya butuh waktu satu hari untuk mengunjungi semuanya
Pergi ke museum sepertinya tidak menarik bagi sebagian besar pelancong di Indonesia, karena memang wisata ini termasuk dalam kategori wisata minat khusus. Meskipun demikian, sebenarnya museum tidak hanya berisi koleksi barang kuno yang berdebu, terkesan angker dan membosankan. Tidak percaya? yuk kita ke Kawasan Situs Sanggiran.

Kawasan Situs Sangiran berada di perbatasan wilayah Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar yang telah ditetapkan sebagai situs Warisan Dunia oleh UNESCO Nomor C 593 pada Tahun 1996 dengan nama Sangiran The Early Man Site. Keunikan dari Situs ini adalah lebih dari 50% temuan fosil manusia purba ditemukan di Sangiran.

Selain sebagai cagar budaya dunia, kawasan ini juga ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) melalui PP Nomor 50 Tahun 2011. Guna meningkatkan aspek edukasi dan wisata di Sangiran, pihak Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan membangun 5 klaster museum di Situs yang memiliki luas kurang lebih 59,21 km2 ini.

Lokasi kelima museum tersebut tidak terlalu jauh antara satu dengan lainnya, sehingga dapat kita kunjungi sekaligus dalam waktu satu hari. Meskipun seharian berada di museum, dijamin tidak akan merasa bosan, karena informasi yang diberikan berbeda dan masing-masing museum memiliki daya tarik tersendiri.

Jalan antar klaster memang belum selebar jalan utama menuju Museum Klaster Krikilan, sehingga traveler disarankan untuk tidak menggunakan bis besar menuju museum selain Museum Klaster Krikilan. Yuk, kita lihat satu per satu museum tersebut.

1. Museum Klaster Krikilan

Lokasinya berada di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe Kabupaten Sragen. Museum ini merupakan yang terbesar dan koleksinya terlengkap diantara keempat museum lainnya. Salah satu icon dari museum ini adalah jembatan yang berbentuk rangka tulang binatang. Jangan lupa selfie di jembatan tersebut ya.

2. Museum Klaster Ngebung

Hanya berjarak kurang dari 1 Km dari Museum Krikilan, kita dapat menemukan museum Klaster Ngebung. Museum yang lokasinya masih berada di Kabupaten Sragen ini menyajikan informasi mengenai penggunaan fossil untuk pengobatan alternatif pada jaman dahulu, terutama di China.

Penggambarannya dilengkapi dengan diorama yang menarik dan monitor layar sentuh. Bagi kaum difabel, Museum klaster Ngebung dapat dikatakan paling mudah untuk diakses dibanding museum lainnya, karena meskipun lokasinya naik turun, namun terdapat jalur khusus.

Artefak Baru Ditemukan di Situs Liyangan Temanggung

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah melanjutkan ekskavasi di Situs Liyangan, Temanggung. Artefak baru ditemukan yaitu jalatwara dan batu kemuncak.

Adapun ekskavasi yang dilakukan ini merupakan tindak lanjut dari ekskavasi di Situs Liyangan, Desa Purbasari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, yang dilakukan beberapa tahun sebelumnya.

Ekskavasi yang dilakukan ini kerja sama antara Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman (PCBM) Jakarta, BPCB Jawa Tengah, mahasiswa Arkeologi UI dan UGM. Untuk waktu ekskavasi dilangsungkan sejak 21 Agustus sampai dengan 4 September 2019.

Sekadar diketahui Situs Liyangan merupakan situs purbakala dan kawasan permukiman yang berada di lereng timur Gunung Sindoro. Adapun ekskavasi tahun-tahun sebelumnya dilakuka Balai Arkeologi Yogyakarta, yang menyimpulkan Situs Liyangan merupakan kawasan dengan karakter yang kompleks, dimana ada permukiman, ritual dan sekaligus lahan pertanian.

Kapokja Pemugaran, BPCB Jawa Tengah, Eri Budiarto mengatakan, ekskavasi yang dilakukan bertujuan untuk mencari batas halaman III dan membuka petirtaan. Kemudian di bagian halaman I dan halaman II, ekskavasinya bertujuan untuk mencari jejak-jejak struktur sebelum dilakukan restorasi terhadap talud dan pagar.

"Tujuan ekskavasi ini, selain untuk mengungkap mencari batas halaman III dan membuka petirtaan, terus di bagian halaman I dan II ekskavasinya bertujuan untuk mencari jejak struktur sebelum dilakuka restorasi terhadap talud dan pagar," kata Eri kepada wartawan di sela-sela ekskavasi di Situs Liyangan, Temanggung, Selasa (27/8/2019).

"Terus bagian ketiga di atas, ekskavasi tujuanya adalah penjajakan karena di sana banyak ditemukan temuan-temuan permukaan. Kita melakukan penelitian pengalian percobaan, apakah di dalam temuan-temuan percobaan itu nanti ditemukan struktur-struktur karena di bagian atas temuan permukaan ada bagian batu yang merupakan bagian atap sebuah bangunan, makanya dicari jejaknya," ujarnya.

Saat disinggung terkait temuan baru, katanya hanya ditemukan beberapa temuan lepas. Untuk di bagian bawah ditemukan berupa jalatwara yang diduga merupakan bagian dari petirtaan. Selain itu, ditemukan batu kemuncak diduga berasal dari candi di halaman III.

"Di bagian bawah itu berupa jalatwara lepas, kemungkinan itu bagian dari petirtaan. Dan ada, batu kemuncak yang gede, kemungkinan kemuncak dari bangunan candi yang ada di halaman III. Masih dugaan-dugaan karena bagian lainnya belum ketemu," ujarnya.

Sementara itu, Pengolah Data Cagar Budaya BPCB Jawa Tengah, Winda Arista Harimurti menambahkan, target awal ekskavasi ini untuk mencari tahu batas antara teras keempat dengan teras kelima. Untuk ekskavasi di bagian bawah untuk mencari batas halaman, kemudian di bagian atas untuk menindaklanjuti temuan talud dan temuan-temuan lepas.

"Di bawah targetnya untuk mencari batas halaman. Kemudia yang di atas, juga ada beberapa kelompok itu memang karena sudah ada singkapan temuan seperti talud, kemudian ada temuan-temuan lepas. Kalau temuan lepas yang di atas ada indikasi bagian bangunan karena ada reliefnya," ujarnya.

Ada pun kelompok yang berada di bagian atas ini, katanya, bertugas untuk mencari struktur atau temuan tersebut karena limpasan dari daerah lain karena dulunya ada bencana.

Kemudian untuk di bagian ujung, kata dia, ekskavasi untuk mengetahui kelanjutan jalan yang ada. Hal ini diketahui setelah tanah yang menutupi dibersihkan terlihat ada bebatuan yang terdata diduga menyambung dengan jalan yang berada di kompleks situs tersebut.