Sabtu, 28 Desember 2019

Kunjungan Raja Malaysia Bisa Jadi Promosi Wisata Yogyakarta

Raja Malaysia berkunjung ke Keraton Yogyakarta dan sejumlah destinasi di sekitarnya. Kunjungan ini diharapkan mengangkat pamor wisata di Kota Gudeg.

Pemprov Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berharap kunjungan Raja Malaysia, Yang Dipertuan Agong XVI Al-Sultan Abdullah Ri'ayatauddin Al Mustafa Billah Shah, ke beberapa destinasi wisata di DIY bisa mendongkrak kunjungan wisatawan.

"Otomatis dengan tokoh negara lain kunjungan ke beberapa titik ini kan nggak usah kita menyampaikan sesuatu sudah bagian dari promosi," ujar Sekda DIY, Gatot Saptadi, kepada wartawan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Rabu (28/8/2019).

Seperti diketahui Raja Malaysia bertamu ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat siang tadi. Kedatangannya untuk bersilaturahmi dengan Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku (HB) X. Selain itu kunjungannya juga untuk berwisata.

Usai berkunjung ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Raja Malaysia disebut Gatot akan melihat kerajinan perak di Kotagede, Yogyakarta. Setelahnya Raja Malaysia ini diagendakan berkunjung ke Candi Prambanan dan Candi Borobudur di Jateng.

Gatot berharap dengan adanya kunjungan Raja Malaysia tersebut bisa mendongkrak kunjungan turis asing terutama dari Malaysia ke Yogyakarta. "Kalau rajanya sudah ke sini mungkin rakyatnya kan mungkin juga ikut lihat (destinasi wisata di DIY) ya," jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, Raja Malaysia Yang Dipertuan Agong XVI Al-Sultan Abdullah Ri'ayatauddin Al Mustafa Billah Shah beserta keluarga bertamu ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk bersilaturahmi dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Kunjungan kenegaraan Raja Malaysia ini didampingi sejumlah pejabat kedua negara. Seperti Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia, Eko Putro Sandjojo, dan perwakilan duta besar dari Indonesia dan Malaysia.

Gelar Event Global, Geopark Rinjani Bidik Minat Wisatawan

Geopark Rinjani bersiap menjadi tuan rumah Simposium Asia Pasific Geopark Network (APGN) 2019 di Lombok. Ada beberapa target yang ingin dicapai dari event kelas dunia itu.

Tentu saja pengelola ingin sukses menjadi tuan rumah yang baik bagi event geopark berkelas internasional yang pertama kali diselenggarakan di Indonesia. The 6th Asia Pacific Geopark Network Symposium tahun 2019 akan dilaksanakan selama 7 hari dari tanggal 31 Agustus 2019 hingga 6 September 2019.

"Sampai dengan hari ini tercatat total peserta adalah 653 orang, termasuk peninjau dan petinggi UNESCO Global Geopark dan Asia Pacific Geopark Network," ucap General Manager Geopark Rinjani, Chairul Mahsul kepada detikcom, Rabu (28/8/2019).

Terselenggaranya APGN ini juga ingin menunjukkan jika Lombok dan Sumbawa sudah bangkit dan recovery setelah bencana gempa bumi yang terjadi tahun 2018 lalu.

Situs-situs Geopark Rinjani perlu diperkenalkan kembali sebagai destinasi pariwisata utama di NTB. Selain dengan menampilkan atraksi-atraksi budaya yang nantinya akan ikut dipromosikan oleh semua peserta di negaranya masing-masing.

"Melibatkan sebanyak mungkin masyarakat di situs-situs yang dikunjungi dalam tiga fieldtrip," katanya.

Selama simposium APGN 2019, para peserta peninjau dan peserta yang sedang tidak menyampaikan presentasinya akan mengunjungi objek-objek wisata lain yang tidak sempat dikunjungi dalam tiga jalur fieldtrip.

Peserta juga bisa saling bertukar gagasan dan inisiatif dengan geopark-geipark lain di dunia dan para pakar dalam konsep pembangunan berkelanjutan. Khususnya lagi bagi pengelolaan geopark yang berbasis pada 3 pilar, yaitu konservasi, edukasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan

"Geopark Rinjani akan menandatangani MoU kerja sama dengan beberapa geopark di China, Thailand, Vietnam, Malaysia dan dari negara lain yang sedang dikomunikasikan," ungkap Chairul.

Dalam jangka pendek, selama Simposium APGN 2019 akan berdampak positif bagi menggeliatnya aktivitas ekonomi dan pariwisata di Pulau Lombok. Untuk jangka panjang, simposium ini akan mampu membangkitkan kembali kepercayaan wisatawan untuk kembali mengunjungi Lombok dan Sumbawa.

New York Jadi Kota Tidak Ramah Turis di Amerika Serikat

Sebuah studi dilakukan di 50 kota di Amerika Serikat. Hasilnya, New York adalah kota paling tidak ramah turis lho.

Situs web Big 7 Travel, melakukan sebuah studi untuk mencari kota paling ramah turis di Amerika Serikat. Diintip detikcom, Kamis (29/8/2019) kota paling ramah adalah Minnesota.

Kota paling tidak ramah justru jatuh pada New York. Hal ini disebabkan dengan adanya kelompok-kelompok masyarakat yang cukup keras.

Bahkan mayoritas orang Amerika tidak menganggap kota ini sebagai tujuan wisata. Ada 3 kota lain dengan nilai terbawah yang berada tak jauh dari New York.

Selain Minnesota, ada Kota Tennessee yang menjadi kota ramah turis kedua di AS. Di peringkat ketiga ada South Carolina dan Texas di urutan keempat.

Selanjutknya adala Kota Wyoming yang menurut survey masyarakatnya punya rasa kebersamaan. Kebanyakan wisata lokal merasa aman ketika berada di kota ini.

Studi ini melibatkan sekitar 1,5 juta orang di Amerika Serikat. Minnesota mendapat julukan Minnesota Nice karena keramahtamahannya untuk wisatawan.

Kunjungan Raja Malaysia Bisa Jadi Promosi Wisata Yogyakarta

Raja Malaysia berkunjung ke Keraton Yogyakarta dan sejumlah destinasi di sekitarnya. Kunjungan ini diharapkan mengangkat pamor wisata di Kota Gudeg.

Pemprov Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berharap kunjungan Raja Malaysia, Yang Dipertuan Agong XVI Al-Sultan Abdullah Ri'ayatauddin Al Mustafa Billah Shah, ke beberapa destinasi wisata di DIY bisa mendongkrak kunjungan wisatawan.

"Otomatis dengan tokoh negara lain kunjungan ke beberapa titik ini kan nggak usah kita menyampaikan sesuatu sudah bagian dari promosi," ujar Sekda DIY, Gatot Saptadi, kepada wartawan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Rabu (28/8/2019).

Seperti diketahui Raja Malaysia bertamu ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat siang tadi. Kedatangannya untuk bersilaturahmi dengan Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku (HB) X. Selain itu kunjungannya juga untuk berwisata.

Usai berkunjung ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Raja Malaysia disebut Gatot akan melihat kerajinan perak di Kotagede, Yogyakarta. Setelahnya Raja Malaysia ini diagendakan berkunjung ke Candi Prambanan dan Candi Borobudur di Jateng.

Gatot berharap dengan adanya kunjungan Raja Malaysia tersebut bisa mendongkrak kunjungan turis asing terutama dari Malaysia ke Yogyakarta. "Kalau rajanya sudah ke sini mungkin rakyatnya kan mungkin juga ikut lihat (destinasi wisata di DIY) ya," jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, Raja Malaysia Yang Dipertuan Agong XVI Al-Sultan Abdullah Ri'ayatauddin Al Mustafa Billah Shah beserta keluarga bertamu ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk bersilaturahmi dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Kunjungan kenegaraan Raja Malaysia ini didampingi sejumlah pejabat kedua negara. Seperti Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia, Eko Putro Sandjojo, dan perwakilan duta besar dari Indonesia dan Malaysia.