Sabtu, 28 Desember 2019

Museum Keraton Solo Bukan Wisata Kuno

Saat ini Museum Kasunanan Surakarta tak hanya dikunjungi orang tua saja, anak muda juga banyak yang ke sini. Bukti bahwa Museum Keraton Solo bukan wisata kuno.

Sekarang ini, apakah masih ada yang beranggapan kalo jalan-jalan ke museum itu terlalu kuno? Yes, mungkin sebagian orang masih beranggapan bahwa mengunjungi museum akan terlihat kuno dan nggak kekinian. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar, ada hal yang berbeda ketika saya berkesempatan mengunjungi Museum Keraton Kasunanan.

Banyak anak muda yang ke sini untuk belajar sejarah tentang Keraton Kasunanan Surakarta. Benda-benda bersejarah peninggalan keraton masih cukup terawat dan ditata rapi oleh pengelola. Ada spot menarik yang instagramable yang bisa digunakan untuk berfoto ria.

Sering kali saya mengajarkan banyak hal tentang dunia luar pada Odhie (anak sulung saya) dengan mengajaknya jalan-jalan ke berbagai tempat. Salah satunya mengenalkan sejarah dengan mengunjungi Museum Keraton Kasunanan ini. Meski awalnya saya ragu, tidak ada salahnya untuk dicoba.

Saya pikir ada baiknya mengenalkan sejarah, meski Odhie masih berusia 5 tahun. Sejak berangkat saya berpikir bagaimana caranya agar Odhie tidak bosan. Diluar dugaan, Odhie ternyata exited banget. And this is our extraordinay travelling.

Odhie, dengan rasa ingin tahunya yang tinggi menanyakan banyak hal tentang benda-benda peninggalan keraton kemudian berusaha meraba untuk merasakan teksturnya. Senjata seperti tombak yang selama ini hanya dilihatnya dalam gambar kini bisa dilihat secara fisik. Kakinya lincah mendekat dari satu benda ke benda lain yang pernah digunakan Sulta atau menjadi saksi sejarah di lingkungan keraton.

Ternyata tidak hanya Odhie saja, banyak pemuda yang datang berkunjung bersama keluarga atau teman. Mereka belajar sejarah keraton dengan melihat langsung peninggalan-peninggalannya, mendengarkan cerita dari para guide yang disediakan pengelola

Lain kali saya ingin bisa mengajak Odhie untuk jalan-jalan ke berbagai tempat diluar negeri, terutama Dubai. Saya tertarik menikmati banyak tempat wisata di negara kaya ini, yang tentunya berbeda dengan wisata yang ada di tempat lain. Saya ingin mengunjungi Jumaerah Beach, pantai indah yang dikelilingi gedung-gedung bertingkat. Siapkan dirimu nak, dengan jalan-jalan akan ada banyak hal yang bisa kamu pelajari nantinya.

Spot Foto yang Tak Boleh Dilewatkan di Candi Prambanan

Namanya juga liburan, pasti kurang lengkap kalau belum foto-foto. Ini beberapa spot foto yang tak boleh dilewatkan kalau kamu liburan ke Candi Prambanan.

Selain merajut memori, melepas letih yang sudah menggunung, memahami hal-hal baru, berlibur juga dapat menjadi salah satu ajang untuk koleksi foto apik.

Nah, kali ini, tempat yang kusambangi adalah DI Yogyakarta. Tentu salah satu objek wisata yang harus dikunjungi adalah situs warisan dunia UNESCO, Candi Prambanan.

Tiket masuk untuk mengitari hanya Candi Prambanan saja sebesar Rp 40.000 untuk dewasa dan Rp 20.000 untuk anak-anak serta harga berbeda untuk wisatawan mancanegara.

Cantiknya Setiap Sudut Candi Prambanan

Tidak heran jika Candi Prambanan masuk sebagai salah satu situs warisan dunia UNESCO. Tempat ini bagusss sekali. Bahkan hingga saat ini aku masih kagum bagaimana orang-orang di masa lampau bisa berhasil membuat keindahan yang tetap bisa dinikmati bahkan oleh generasi sekarang dengan bahan bebatuan yang sebegitu besar dan sebegitu kokohnya.

Sayang, keindahan ini sempat ditelantarkan. Beberapa sebabnya kemungkinan akibat letusan hebat gunung merapi yang menjulang sekitar 20 KM Utara Candi Prambanan dan kemungkinan lain adalah peperangan dan perebutan kekuasaan. Sejak itu, pelan-pelan Candi ini mulai rusak dan runtuh sebelum kembali dilakukan pemugaran.

Meski sudah dilakukan pemugaran, di beberapa sudut candi masih jelas bertebaran reruntuhan. Dan yaaa, tahukah kamuu, bahwa reruntuhan ini entah kenapa justeru menjadi daya tarik tersendiri? Apalagi kalau urusannya adalah spot foto.

Jumat, 27 Desember 2019

Pertama Kali Liburan Naik Kereta Api, Ini Keseruannya

Pengalaman perjalanan pertama selalu punya tempat sendiri untuk dikenang atau jadi pelajaran. Inilah cerita traveler yang baru pertama kali naik kereta api.

Selalu ada saat pertama kali dalam liburan. Begitu pula traveler yang pertama kali menggunakan kereta untuk bepergian jarak jauh.

Dirangkum detikcom, Senin (2/9/2019) seorang traveler wanita bernama Tika baru pertama kali menjajal kereta api jarak jauh. Kereta yang digunakan adalah Mataran dengan rute Gambir-Yogyakarta.

"Jadi pertama kali naik kereta itu menyenangkan. Awal mula aku bayangin check in-nya seperti naik pesawat," cerita Tike (25).

Dalam bayangannya, check in bakal cukup panjang. Tika kaget karena ternyata chek in keberangkatan kereta api sangatlah mudah.

"Dari pintu keberangkatan cuma lihat tiket dan di scan. Habis itu langsung naik ke gerbong kereta. Awalnya aku mikir sama kaya pesawat ada boarding 90 menit. Ternyata 5 menit sebelum berangkat masih boleh masuk. Enggak ribet," ungkap Tika.

Hal pertama yang dilakukan oleh Tika adalah mencoba kursi kereta api. Tika mengaku kursi di kelas eksekutif empuk dan nyaman.

"Bangkunya bisa diputar-putar senyamannya. Terus dikasih bantal dan selimut. Jadi aku bisa menikmati perjalanan selama 8 jam ke Yogyakarta.

Menurut Tika, kereta dan pesawat memiliki perbedaan. Jika disuruh memilih, Tika akan menimbang beberapa hal.

"Rasanya nggak beda jauh sama naik bis, cuma bebas hambatan. Kalau disuruh milih untuk perjalanan malam, aku pilih naik kereta biar bisa tidur. Tapi kalau waktu mepet pilih pesawat," Jelas Tika.

Harga cuma masuk dalam perhitungan Tika. Perbedaan tipis antara tiket kereta dan pesawat membuatnya memilih untuk terbang karena alasan waktu.

Selain Tika, ada juga Indira yang mencoba untuk naik kereta pertama kali dengan membawa bayi. Saat itu Indira melakukan perjalanan dengan bayi 7 bulan dari Gambir-Malang.

"Waktu itu lebaran 2018 naik KA Argo Bromo Anggrek. Sebenarnya sering naik kereta, tapi itu pertama kali bawa bayi," jelas Indira.

Indira mengaku tak mengalami masalah mulai dari check in sampai ada ke tempat duduk. Namun membawa bayi membuatnya was was.

"Aku ada digerbong tambahan, gerbong ketiga dari belakang. Waktu itu berangkat malam, jam setengah 7. Rasanya deg-degan soalnya takut bayinya rewel," ujar Indira.

Saat itu suasana kereta penuh dan ramai. Indira mengaku bahwa bayinya agak kesulitan tidur karena panas dan banyaknya orang yang mondar-mandir.

"Lumayan enggak nyaman karena bayinya kagetan kalau ada orang lewat. Panas juga karena penuh, jadi aku pakaikan kaus dalam saja. Akhirnya aku ajak main aja terus sampai capek. Ujungnya bayinya tidur juga," tutur sang ibu.

Walau demikian, Indira mengaku perjalanan pertama dengan bayinya menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Tika pun mengaku sangat menikmati perjalanan pertamanya dengan menggunakan kereta api. Bagaimana dengan ceritamu?

Situ Cangkuang Bakal Disulap Jadi Wisata Kekinian & Fotogenik

Pariwisata di Kabupaten Garut terus menggeliat dan berkembang, hal tersebut ditandai dengan adanya Pasar Wisata Digital di Situ Cangkuang.

"Garut memiliki potensi wisata yang luar biasa. Salah satunya adalah Situ atau Candi Cangkuang ini," ujar Menteri Pariwisata RI Arief Yahya kepada wartawan di Situ Cangkuang, Leles, Senin (2/9/2019).

Destinasi wisata digital Situ Cangkuang diresmikan Menpar Arief hari ini. Beragam seni khas dari tatar Pasundan khususnya Garut dihadirkan, seperti tari tradisional hingga pencak silat.

Yang paling utama, hadirnya Pasar Wisata Digital di Situ Cangkuang ini menjadikan tempat wisata legendaris tersebut menjadi objek wisata yang kekinian.

"Digital itu tuntutan anak-anak muda. Mereka itu indah di kamera. Jadi, ketika mereka merancang wisata digital, mereka ini akan indah di kamera. Karena kehidupan mereka itu 70-80 persen bukan di alam nyata tapi di sosial media. Kalau saya bilang ini cameragenic," katanya.

Arief meminta anak muda untuk ikut ambil bagian dalam pengembangan potensi pariwisata di Situ Cangkuang. Sebab, anak muda bisa mendorong pemangku kebijakan untuk terus mengelola potensi wisata.

Situ Cangkuang sendiri merupakan destinasi wisata ketiga yang diresmikan Menpar tahun ini sebagai Pasar Wisata Digital. Sebelumnya ada dua objek wisata yakni Situ Bagendit dan Dayeuhmanggung.

"Nantinya kita akan jadikan ini sebagai destinasi wisata kelas nasional," pungkas Arief.