Kamis, 26 Desember 2019

Probolinggo Juga Punya Karapan Sapi yang Seru

Karapan sapi bukan cuma di Madura. Probolinggo juga punya Kerapan Sapi Brujul yang tidak kalah serunya.

Sebanyak 50 peserta, ikut dalam Kerapan Sapi Brujul atau sapi yang biasanya digunakan untuk membajak sawah oleh para petani di Kota Probolinggo. Dalam penampilannya, para peserta memacu sapi di lintasan tanah berlumpur sepanjang 175 meter dan lebar 35 meter.

Kerapan Sapi Brujul, digelar di areal persawahan Jalan KH Syafi'i, Kelurahan Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo. Salah satu peserta, Rohim mengungkapkan, sebelum beradu di lintasan, timnya biasanya membuat persiapan khusus.

Persiapan ini maksudnya agar sapi-sapinya bisa bertarung, dan berlari kencang di lintasan. Persiapan tersebut mulai dari latihan yang cukup, hingga pemberian asupan ramuan sehat, bagi sapi-sapi yang akan dipertandingkan.

"Agar menang ya dilatih dulu, dan tak lupa dikasih jamu dan telur, biar sapinya tidak lekas capek," terangnya.

Sementara Wali Kota Probolinggo, Hadi Zainal Abidin, yang membuka langsung Kerapan Sapi Brujul, berharap masyarakat melestarikan warisan budaya asli ini. Dalam hari jadi ke-660 Kota Probolinggo, Kerapan Sapi Brujul telah ditetapkan sebagai warisan budaya Kota Probolinggo, oleh Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan RI.

"Hak paten sudah milik Kota Probolinggo. Mari kita jaga bersama, jangan sampai kegiatan yang sudah baik, disalahgunakan menjadi hal yang tidak baik. Mari jaga tradisi ini dengan baik," ujar Wali Kota Hadi, saat membuka Kerapan Sapi Brujul, Sabtu (7/9/2019).

Sekedar informasi, Kerapan Sapi Brujul mulanya merupakan kebiasaan para petani usai membajak sawahnya untuk menghilangkan kejenuhan dan kepenatan. Tanpa adanya hadiah, petani kemudian menggelar karapan, hingga akhirnya mengundang daya tarik masyarakat melihatnya. Kerapan Sapi Brujul kini berubah menjadi wadah petani, komunitas dan pemerintah guna menyambung tali silaturahmi.

Mengenal Myeongdong di Korea yang Heboh Ada Logo Halal MUI

Myeongdong merupakan destinasi favorit turis di Seoul, Korea Selatan. Tempat wisata belanja dan kuliner, yang lagi heboh karena ada logo halal MUI di sana.

Surga belanja, begitu sebutan turis untuk Myeongdong. Segala hal ada di sana, dari berbagai barang-barang fashion branded, kosmetik, sepatu hingga berbagai kuliner street food yang menggoyang lidah.

Puluhan toko kecantikan berjejer sebut saja Aritaum, Innsifree, The Saem, Laneige, Skin Food, The Face Shop, Missha, dan lain sebagainya. Bagi yang doyan belanja, datang ke

Myeongdong berada di Kota Seoul dan mudah untuk ke sana karena ada rute bis dan kereta bawah tanah yang melewatinya. Myeongdong tepatnya berlokasi antara Chungmuro, Euljiro, dan Namdaemun-ro.

Dalam informasi dari Korea Tourism Organization (KTO) seperti dilihat detikcom, Sabtu (7/9/2019) Myeongdong disebut sebagai destinasi paling populer di Korea Selatan. Tercatat, 1 juta pengunjung datang ke sana setiap harinya termasuk turis mancanegara.

Beberapa mal juga terdapat di Myeongdong. Sebut saja Lotte Department Store, Shinsegae Department Store, Myeong-dong Migliore, Noon Square, dan M Plaza.

Dari siang sampai malam, Myeongdong tak pernah sepi. Ada yang datang untuk belanja, berburu suvenir sampai tak ketinggalan mencicipi berbagai street food yang menggoyang lidah.

Harga-harga tiap toko di Myeongdong berbeda-beda, namun masih terjangkau. Apalagi kalau ke toko-toko suvenir, beragam suvenir Korea sampai susu pisangnya yang terkenal bisa dibawa pulang.

Makin malam, Myeongdong makin mempesona. Bermandikan cahaya lampu, Myeongdong jadi asyik lokasi untuk hunting foto.

Soal street food, baru-baru ini detikcom melihat hal tak biasa di Myeongdong. Beberapa penjaja street food di sana menempelkan stiker Logo Halal MUI (Majelis Ulama Indonesia).

detikcom mencoba berbincang dan menanyakan soal stiker logo halal MUI kepada para penjaja street food. Namun, mereka tidak menjawabnya.

Mengenal Reog Ponorogo, Kekayaan Budaya Bangsa (2)

Tak ada salahnya mengenal budaya setempat saat liburan. Jika ke Ponorogo misalnya, jangan lupa lihat kesenian reog yang sudah melegenda.

Reog merupakan salah satu seni budaya bangsa Indonesia yang terkenal dan telah mendunia pertunjukkan reog ditampilkan tidak hanya di dalam negeri namun juga di luar negeri disini peran mempromosikan budaya bangsa ini jatuh kepada warga negara Indonesia yang sekolah maupun bekerja di sana, dalam festival maupun acara budaya yang berlangsung di negara tempat mereka tinggal, sering kesenian reog ditampilkan.

Kota Ponorogo sebagai tempat lahirnya kesenian ini memiliki acara besar yang diadakan dalam merayakan bulan Suro, nama acaranya adalah Festival Grebeg Suro Ponorogo.

Festival dimulai festival reog mini yang dimainkan siswa sekolah kelas SD dan SMP.selama 2 hari dilanjutkan festival reog nasional. Setiap malamnya pertunjukkan reog dimulai pukul 19.30 dan berakhir pukul 22.00.tiap malam 5 group reog tampil. Jadi selama festival reog saya menyaksikan penampilan 20 group reog yang berbeda.

Dalam pertunjukkan reog kita akan bertemu beberapa tokoh dimulai dari bujang ganong biasanya dimainkan anak-anak kecil, Bujang Ganong mengenakan pakaian berwarna merah dan topeng tugas mereka adalah menghibur penonton dengan tariannya yang kocak maupun gerakan salto yang dilakukan berulang kali, dalam pertunjukkan jumlah bujang ganong bisa 2,3 atau lebih Bujang Ganong adalah senopati kepercayaan Prabu Kala Sewandana.

Dilanjutkan dengan Jathil yaitu penari wanita berpakaian putih dengan kuda lumpin, Jathil menarikan tarian dengan tempo cepat dan bersemangat yang menggambarkan prajurit maju ke medan perang dengan kuda perangnya, lalu ada Warog penari pria yang dengan wajah dirias warna merah yang gagah memainkan jurus-jurus silat, tokoh utama dalam pertunjukkan warog yaitu Prabu Kala Sewandana raja dari kerajaan Bantar Angin yang dimainkan oleh seorang penari pria dengan topeng merah dan memegang cambuk.

Dalam pertunjukkan reog saat Sang Raja dalam perjalanan mencari istrinya dewi Sanggalangit beliau dihadang di tengah perjalanan oleh Singa Barong yang dimainkan oleh 2 atau 3 atau lebih penari pria yang membawa hiasan singa dengan dadak merak diatas kepala mereka yang beratnya mencapai puluhan kilo. Dalam cerita meski sudah bertarung sangat lama Prabu Kala Sewandana belum dapat mengalahkan Singa Barong.

Akhirnya Bujang Ganong senopati kepercayaannya membawa Pecut Samandiaman dengan senjata pusaka inilah ahirnya sang raja dapat mengalahkan singa barong dan bertemu kembali dengan istrinya Dewi Sanggalangit sejak itulah kesenian reog dipentaskan hingga saat ini.

kita harus bangga dengan Festival Grebeg Suro Ponorogo yang diadakan setiap tahun, event ini selalu menarik ribuan pengunjung tidak hanya dari masyarakat kota Ponorogo dan sekitarnya namun juga warga dari kota-kota lain di Jawa Timur bahkan hingga mancanegara, ini bisa kita lihat di alun alun kota Ponorogo yang setiap malam selama festival dipadati pengunjung.

Selain itu grup-grup seni reog yang tampil di festival grebeg suro juga berasal dari banyak kota lain selain Ponorogo sebagai tuan rumah. Contohnya ada dari perwakilan SMU di Yogyakarta,Universitas Brawijaya Malang, group dari Kota Tangerang, BUMN bahkan Group Reog Nihongo dari Jepang. Kita dapat melihat betapa antusiasnya saudara-saudara kita meski berjarak ribuan kilometer dan melintasi batas negara mereka tetap datang dan menampilkan penampilan terbaik mereka di Festival Grebeg Suro Ponorogo.

Selamat kepada rekan-rekan volunteer dan panitia yang telah sukses menyelenggarakan event besar ini di festival inilah Irfan bertemu rekan-rekan fotografer dan team volunteer.