Rabu, 25 Desember 2019

Musim Semi di Selandia Baru, Seru Juga!

Selandia Baru menawarkan pemandangan alam yang asyik dikunjungi saat musim semi. Negeri Kiwi ini akan tampak begitu indah.

Umumnya, turis Indonesia gemar ke luar negeri dan merasakan sensasi yang berbeda. Misalnya saja cuaca, karena Tanah Air dianugerahi iklim tropis tanpa musim dingin dengan salju, tentunya berwisata ke negara tetangga yang memiliki atraksi serupa menjadi primadona.

Misalnya saja ke Selandia Baru, berdasarkan rilis yang diterima detikcom dari Tourism New Zealand, Senin (9/9/2019) pada bulan September hingga November, musim semi menjadi momen yang pas untuk liburan dan menikmati keindahan alamnya. Ditambah, sedang low season alias tiket pesawat jauh lebih murah dari bulan lain.

Salah satu alasan mengapa harus ke Selandia Baru saat musim semi, traveler bisa berkunjung ke berbagai tempat wisata di Selandia Baru yang cenderung sepi. Tentunya, menikmati pemandangan dan mengabadikan momen dengan berfoto akan lebih asyik.

Untuk memesan transportasi dan akomodasi juga tidak repot. Traveler bisa mendapatkan aneka pilihan penginapan atau transportasi yang leluasa dan sesuai pilihan selera atau bujet.

Tempat wisata seperti Danau Tekapo juga menarik untuk dikunjungi. Berbagai bunga-bunga indah dengan danau membentang cantik pun jadi daya tarik utamanya.

Mau meminimalisir bujet? Traveler bisa menikmati tiket Kiwi Bus Experience dengan harga rendah, begitu pun dengan aktivitas wisata. Liburan akan lebih leluasa dan menyenangkan baik solo traveling atau bersama kerabat.

Selain itu, jika berkunjung di awal bulan September, traveler bisa melihat pemandangan gunung es yang masih sedikit terlihat usai musim dingin. Suka mendaki gunung? Cobalah ke Gunung Hutt, di mana traveler bisa melihat gunung bersalju dengan pemandian air panas.

Dari mulai Pulau Utara dan Selatan di Selandia Baru, traveler bisa menikmati sejumlah atraksi wisata menyenangkan sesuai pilihan. Misalnya saja di Wellington, ibukota Selandia Baru, ada Wellington Cable Car, Wellington Botanic Garden atau Zealandia Ecosanctuary.

Selain itu traveler juga bisa menyewa campervan dan berkeliling sejumlah kota menarik. Mulai dari melihat Christchurch Botanic Garden, atau melihat Sky Tower dan Rangitoto Island di Auckland.

Bagaimana, mau mencoba menikmati musim semi di Selandia Baru?

Ada Hutan Tumbuh di Tengah Stadion Sepak Bola

Stadion sepak bola ini tidak ada kebisingan penonton dari tribunnya. Karena, lapangannya ditumbuhi pepohonan lebat. Eh, kok bisa begitu?

Dilansir CNN, Senin (9/9/2019), hutan itu adalah instalasi seni. Idenya sebagai upaya untuk menarik perhatian pada perubahan iklim dan deforestasi.

Adalah Stadion Worthersee di Klagenfurt yang telah diubah menjadi hutan. Itu merupakan proyek luar biasa dari seniman Swiss, Klaus Littmann.

Lapangan itu terletak di dekat Danau Worthersee di selatan Austria, Carinthia. Saat ini sudah ada sekitar 300 pohon melapisi stadion.

Beberapa di antara pohon itu ada yang memiliki berat masing-masing hingga enam ton. Namanya 'For Forest - The Unending Attraction of Nature' diluncurkan pada 8 September 2019.

Instalasi ini terinspirasi oleh gambar seniman dan arsitek Austria Max Peintner lebih dari 30 tahun yang lalu. Pepohonan itu terdiri dari beragam spesies, seperti pohon alder, aspen, willow putih, hornbeam, maple dan ek.

Pohon-pohon itu ditanam di samping kursi penonton stadion. Menurut Littmann, tujuannya adalah untuk menantang persepsi tentang alam dan mempertanyakan masa depannya juga melambangkan gagasan bahwa alam suatu hari nanti hanya dapat ditemukan di ruang-ruang tertentu.

Dipantau oleh perusahaan Enea Landscape Architecture, hutan dalam stadion ini bebas dikunjungi. Instalasi ini akan dibuka untuk pengunjung setiap hari hingga akhir Oktober nanti.

Kenalan dengan Bu Soeto, Idola Para Pendaki Gunung Raung

Ada sosok perempuan yang begitu penting bagi para pendaki Gunung Raung di Banyuwangi. Inilah Ibu Soeto, ibunya para petualang.

Pendaki Gunung Raung via Dusun Wonorejo, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi pasti mampir di rumah Ibu Soeto. Mereka akan singgah sejenak menunggu pemberangkatan ataupun saat turun melepas lelah saat mencapai Puncak Sejati setinggi 3.344 mdpl tersebut. Siapa tidak kenal dengan Basecamp Bu Soeto?

Homestay Bu Soeto, itu nama sebuah tempat persinggahan satu-satunya yang ada di wilayah tersebut. Rumah ini mulai didatangi oleh para pendaki sejak tahun 1998 lalu.

Bangunan tua ini penuh dengan stiker dan foto para pendaki Gunung Raung. Stiker tersebut merupakan kenang-kenangan lembaga dan perkumpulan pendaki yang ditempelkan begitu saja di pintu dan jendela. Saking banyaknya, hingga menutupi kaca dan kayu jendela serta pintu masuk rumah Bu Soeto.

"Per bulan hampir ada 400-an pendaki mampir di sini. Baik itu mereka datang maupun mereka yang turun dari Raung," ujar Udin, penjaga homestay Bu Soeto kepada detikcom, Sabtu (7/9/2019).

Homestay Bu Soeto sudah hampir 20 tahun lebih didatangi oleh pendaki gunung. Tidak ada lokasi khusus sebagai tempat tidur. Hanya karpet, kasur tipis dan tikar yang digelar di ruang tamu, ruang tengah dan teras depan. Selain itu juga ada dua ruangan lagi, tempat istirahat dan ruangan penyewaan alat pendakian, seperti tali, helm hingga kaos kenang-kenangan di Raung.

"Baterai lampu dan kaos saya jual di sini. Untuk kaos harga sekira Rp 125 ribuan," pungkas Udin.

Bu Soeto merupakan penerus suaminya, Pak Soeto yang sudah meningggal dunia. Pak Soeto dulunya menjabat sebagai kepala dusun. Setiap kali ada pendakian, mereka harus meminta izin dan meninggalkan kartu pengenal sebelum naik ke puncak Gunung Raung.

Ada sebuah toko yang menjual bahan makanan dan makanan ringan. Untuk makanan bermacam-macam. Mulai soto, rawon, ayam bakar hingga masakan rumah lainnya. Maklum saja, konsep homestay ini seperti rumah sendiri.

"Biasanya mereka menyebut ini Basecamp Bu Soeto. Tapi sekarang kan ada namanya homestay," ujar Bu Soeto yang memiliki nama asli Lilik Sutimbul.

Uniknya, homestay ini tak mematok harga untuk menginap atau sekedar beristirahat para pendaki. Ia menerima seikhlasnya, asal para pendaki dapat beristirahat dengan nyaman.

"Kami dari pengurus sekretariat juga diberi uang ya sekedar untuk kebersihan dan listrik per orang itu Rp 5 ribu untuk wisatawan domestik. Sementara mancanegara kita dikasih Rp 10 ribu per orang," tambahnya.

Namun, kesederhanaan inilah yang membuat Bu Soeto dan basecamp-nya terkenal. Tidak jarang, para tamu memberikan imbalan lebih kepadanya.

"Tapi banyak yang ngasih ke kami lebih. Saat pendaki pulang mereka suka ngasih kita," tambahnya.

Hingga kini, basecamp Bu Soeto tak pernah sepi dengan kehadiran pendaki. Mereka silih berganti datang dan meramaikan di dusun yang terpencil itu.